SIBERKREASI CLASS : SMART PARENTING Sesi 3 : “Membangun Ketangguhan Anak”

SIBERKREASI CLASS : SMART PARENTING
EPISODE 3
“Membangun Ketangguhan Anak”
Rabu, 10 Juni 2020
Via Zoom Meeting
#BerkreasiDiRumah #SiberkreasiClass #smartparenting

Kali ini Smart Parenting mendatangkan narasumber Ibu Dr Yulina Eva, beliau salah satu dosen di IPB dengan jurusan Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak dan tidak lupa Pematik kita yaitu Ibu Diena Haryana dari Sejiwa. Si kecil terkadang suka mengeluh dan menyerah dalam menjalani hari-harinya, tentunya karakter tersebut tidak lepas dari peranan orang tua dalam mendidik si kecil. Agar memiliki mental yang kuat, sebagai orang tua perlu mendidik anak untuk mengatasi perasaan menyerah agar mereka menjadi pribadi yang tangguh.

Jangan sampai si kecil memiliki perasaan ingin menyelesaikan semua masalah dengan instan tanpa tahu proses memecahkan masalah. Ada beberapa rahasia agar si kecil mampu menghadapi masalahnya dan menjadi seorang yang tangguh, salah satunya dengan cara membiarkan anak untuk menghadapi masalahnya sendiri. Problem solving sangat penting agar anak mampu bersaing dan memiliki karakter yang tangguh.

Namun, jangan khawatir jika anak menemui masalah, sebagai orang tua Anda dapat mendampingi mereka dan memberikan masukan. Dengan begitu, ketika si kecil akan mampu terbiasa menyelesaikan masalah ia bisa menjadi sosok yang tangguh. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Eva, “Anak yang pemberani dan memiliki mental tangguh adalah anak yang dapat menentukan pilihannya sendiri dan dapat memecahkan masalah. Jika Mama ingin si Kecil menjadi mandiri dan berani, Mama harus membiarkan si Kecil menentukan pilihan.”

Selain itu, “belajar problem solving membuat si kecil juga dapat mengenal situasi yang lebih menantang untuk diselesaikan dengan kemampuannya sendiri” Ujar Ibu Diena. Sehingga si kecil akan terbiasa menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain. Faktor penting lainnya adalah pembentukan karakter sejak dini. Penanaman karakter ini untuk mempersiapkan si kecil menghadapi perubahan dan situasi tertentu dalam kehidupan seperti kegagalan, stres, tantangan, lingkungan baru yang sebaiknya diasah sejak dini. Dengan begitu si kecil akan lebih tangguh, percaya diri, mau mengambil risiko dan mandiri.

Kita akan belajar dan mengenali kapan kita perlu menolong anak dari kesulitannya, dan kapan kita perlu mendorongnya menjadi tangguh untuk memecahkan masalahnya. Anak yang tangguh melihat kegagalan sebagai sebuah tantangan. Bantu anak agar ia menjadi individu yang optimis dan tak gampang menyerah melalui stimulasi-stimulasi berikut ini.

Bersikaplah optimis dalam keseharian Anda. Orangtua adalah role model anak, dia akan mengamati dan meniru perilaku Anda. Jika Anda belum bisa menerima kondisi saat ini, usahakan untuk tidak berkeluh kesah di hadapan anak. Keluhan Anda atas gagalan atau rencana yang belum tercapai akan menular pada anak.

Semangati anak untuk terus mencoba. Jelaskan bahwa kegagalan bukanlah kesalahan terbesar. Anak yang tabah dan pantang menyerah akan memahami bahwa sebuah keberhasilan akan diperoleh melalui usaha yang keras dan menganggap kegagalan sebagai sebuah tantangan. Katakan padanya, “Tidak apa-apa kamu tidak menang kali ini. Besok kita coba lagi. Siapa tahu kamu bisa menang!”

Biarkan anak berusaha sendiri, jangan selalu dibantu. Beri anak kesempatan untuk mengerahkan kemampuannya untuk memupuk rasa percaya diri dan mengasah kemandiriannya. Beri contoh di awal cara menyusun balok agar tidak mudah tumbang. Setelah itu Anda dapat mengawasinya dan  memberinya semangat agar berhasil melakukannya sendiri.

Hargai usahanya, meski gagal. Jangan menuntut kesempurnaan anak tetapi perhatikan proses dan kemajuan anak.  Anak yang selalu ‘diteropong’ kesalahannya takkan pernah berani melakukan sesuatu. Hindari komentar negatif, “Kan, sudah diajari berkali-kali. Kok masih belum bisa?” Sebaliknya katakan, “Wah, gambarmu sudah semakin bagus. Lain kali ikut lomba lagi yuk, siapa tahu kamu menang.”

Ajak anak untuk mengenali dan menerima keterbatasan sekaligus kelebihan dirinya. Misalnya, ia ingin naik sepeda roda dua yang besar dan tinggi seperti punya sang kakak. Biarkan ia mencoba sambil terus didampingi dan katakan bahwa nanti ada saatnya ia bisa mengendarai sepeda macam itu, tapi tidak saat ini. Beri pengertian dan alasan yang masuk akal untuk anak. Katakan bahwa tinggi badannya belum cukup untuk menjangkau pedal sepeda dan sepeda yang berukuran besar juga berat sehingga badannya yang kecil sulit mengimbanginya.

Nah, mengingat banyak tantangan yang akan dihadapi si kecil, peran Anda sebagai orang tua sangat penting untuk menyiapkan karakter resilent pada anak. Saat menghadapi tantangan, si kecil mungkin harus jatuh dalam kegagalan. Jangan buru-buru membantunya menyelesaikan masalah yang dia hadapi ya. Kita bisa membantu si kecil dengan memberinya semangat dan words of words of affirmation, seperti “Memang sulit nak, tapi kalau belajar dan dilatih akan bisa dan menjadi lebih mudah kok.” Ini tentu akan membantu si kecil bangkit dan mau terus mencoba.

 

Siberkreasi

In Collaboration with

Yayasan Sejiwa

#BerkreasiDiRumah #SiberkreasiClass #smartparenting