BINCANG SEJIWA EPISODE 19: “MEMBUAT PERBEDAAN MENJADI POTENSI”

BINCANG SEJIWA EPISODE 19
“Membuat Perbedaan Menjadi Potensi”
Minggu, 4 Oktober 2020

Narasumber:

  • Wildan Mahendra Rahmadhani (Engagement Manager SabangMerauke)
  • Itrin Diana Mozez (Adik SabangMerauke)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator Yayasan SEJIWA)

SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali) adalah organisasi yang mempunyai visi membangun generasi muda untuk merayakan keberagaman.  Program pertukaran pelajar merupakan program unggulan yang sudah dilakukan SabangMerauke sejak 2013. Di dalam program pertukaran pelajar, SabangMerauke mengundang anak-anak SMP dari seluruh Indonesia untuk tinggal di Jakarta selama 3 minggu bersama Kakak SabangMerauke dan tinggal bersama family SabangMerauke yang berbeda etnis dan agama. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah kunjungan ke rumah ibadah, perusahaan, dan bertemu dengan berbagai pejabat publik, atlet dsb. Anak yang lolos dari pertukaran pelajar ketika mereka pulang mereka akan melakukan proyek tindak lanjut. Pengalaman yang meraka dapat dari SabangMerauke akan dibawa ke daerahnya dengan membuat sebuah projek. Harapan dari adanya program ini adalah agar anak muda dapat merasakan keberagaman di Indonesia.

Program ini awalnya diinisiasi oleh 7 orang anak muda yang sebelumnya pernah menjadi peserta pertukaran pelajar ke luar negeri. Mereka ingin pengalaman bertemu dengan orang-orang dari beragam latar belakang ini dapat dirasakan juga oleh anak-anak di Indonesia, untuk menumbuhkan rasa toleransi pada anak.

Ada 3 pilar penting di acara pertukaran pelajar ini, yaitu Adik SabangMerauke, Kakak SabangMerauke, dan family SabangMerauke. Peserta SabangMerauke adalah siswa SMP dari seluruh Indonesia yang berusia 13-15 tahun. Di acara ini juga terdapat kakak pendamping, yang disebut dengan Kakak SabangMerauke, yang merupakan mahasiswa dari PTN/PTS yang berusia 18-23 tahun, dan family SabangMerauke yang berasal dari lingkungan Jabodetabek yang nantinya akan menjadi orang tua asuh para peserta.

Setiap tahunnya SabangMerauke memberangkatkan 20 anak dari seluruh Indonesia. Seleksinya melalui essay, dan ketika mereka lolos mereka akan diwawancarai melalui telepon. Ada juga dokumen-dokumen yang harus ditandatangani seperti surat izin sekolah dan orangtua. Panitia juga harus memastikan perjalanan peserta dari daerah asalnya ke Jakarta. Sedangkan seleksi untuk Kakak SabangMerauke dilakukan melalui FGD, wawancara, dan psikotes. Untuk seleksi keluarga asuh, seleksi dilakukan dengan wawancara dan kunjungan rumah.

Itrin sebagai salah satu peserta dari program pertukaran pelajar Sabang Merauke menceritakan pengalamannya selama mengikuti program. Itrin berangkat dari Sumba Timur ke Jakarta seorang diri menggunakan pesawat. Saat ingin berangkat, Itrin masih merasakan perasaan takut, tapi  ia mau tidak mau harus berani untuk berangkat ke Jakarta dan melawan rasa takutnya. Saat tiba di Jakarta, Itrin dipertemukan dengan Kakak SabangMerauke dan orang tua asuh. Ketika pertama kali bertemu dengan orangtua asuh, Itrin masih merasa takut dan canggung. Awalnya Itrin takut jika bertemu dengan orang tua asuh yang beragama muslim. Namun ternyata orang tua asuh Itrin di Jakarta sangat lah baik, bahkan mereka mencarikan Itrin gereja terdekat untuk beribadah.

Mas Wildan menjelaskan bahwa konsep dari pertukaran pelajar ini memang cross religion dan cross culture. Peserta ditempatkan di orang tua asuh dengan agama dan budaya yang berbeda untuk mengajarkan kepada anak mengenai perbedaan dan toleransi. Sampai sekarang, Itrin bahkan masih terus bertukar kabar dengan orang tua asuh di Jakarta.

Berkaitan dengan program pertukaran pelajar, Mba Diena juga berbagi pengalamannya selama melakukan pertukaran pelajar di Amerika. Pertukaran pelajar menjadi salah satu pengalaman yang paling berharga bagi Mba Diena.  “Pengalaman yang paling besar adalah berbaur dengan orang-orang yang sebenarnya punya banyak sekali kesamaan dengan kita. Contohnya sama-sama respek dan peduli satu sama lain, ingin berprestasi dan membuat yg terbaik untuk kehidupan ini. Perbedaan sesungguhnya tidak lagi berarti setelah kita sudah berkomunikasi. Yang penting adalah saling memahami dan saling menghargai. Aku menjadi lebih percaya diri, dan bahasa inggrisku menjadi lebih baik. Perbedaan-perbedaan bisa jadi sesuatu yang mengayakan ketika perbedaan tersebut bisa dikomunikasikan dengan baik.”  (Diena Haryana)

Di masa pandemi ini, sayangnya program pertukaran belajar belum bisa dilaksanakan kembali. Untuk menggantikan program tersebut, SabangMerauke mengadakan program Kelas Akal Budi untuk siswa SMA. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan sikap berpikir kritis anak. Program ini dilakukan melalui 3 kali sistem zoom, lalu selanjutnya menggunakan google classroom. Setiap kelompok di program ini akan membuat sebuah proyek kelompok.

Mas Doni sebagai pakar pendidikan karakter menyampaikan pandangannya terhadap program yang dijalankan Sabang Merauke. Berikut ini merupakan pandangan Mas Doni terhadap program ini, “Saat berbicara soal Indonesia, kita berbicara soal keberagaman. Salah satu usaha SabangMerauke sangat baik, karena dalam proses pembentukan karakter, individu yang memiliki kemampuan berelasi dengan lebih banyak orang, itu biasanya dunianya akan lebih luas. Maka ketika seseorang diekspos pengalaman, maka kemampuannya mengekspresikan nilai-nilai dan makna dalam hidup menjadi lebih baik. Sekolah juga bisa melakukan program yang hampir sama seperti ini, agar siswa bisa mengenal kehidupan yang berbeda dari biasanya. Ini bisa mengubah perspektif, bias-bias, dan prasangka yang selama ini hanya ia terima dari satu sisi. “ (Doni Koesoema A)

Mas Doni memberikan beberapa saran untuk menumbuhkan toleransi seperti ini di masyarakat. Salah satunya mungkin bisa dimulai dengan saling mengunjungi keluarga atau temannya yang berbeda agama atau tradisi yang berbeda. Orang tua diharapkan dapat mengajak anak-anak untuk berkenalan dengan sahabat atau keluarga lain yang berbeda, namun memiliki perspektif yang sama untuk saling menghargai. Di sekolah-sekolah, program seperti ini sangat bisa diadopsi agar anak-anak punya exposure dengan orang-orang yang berbeda tradisi dan agamanya. Ke-bhinekeaan akan menjadi omong kosong ketika anak-anak tidak pernah merasakan dan dihadapkan pada perbedaan. Pengalaman akan mengubah perspektif, prasangka, dan ketakutan kepada orang lain yang sebenarnya tidak berdasar.

 

Yayasan SEJIWA

 

“Service for Peace”