BINCANG SEJIWA EPISODE 12 : “MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN MEMBUAT PERUBAHAN”

BINCANG SEJIWA EPISODE 12
“MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN MEMBUAT PERUBAHAN”
Minggu, 16 Agustus 2020

 

Narasumber:

  • Ara Kusuma (Ashoka Indonesia Youth Program Lead)
  • Amarylisse Mc Ganz / Rere (Pendiri Rumah Baca Mc Ganz)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)
  • Wuri Ardianingsih (Academic Advisor SEJIWA)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Kordinator SEJIWA)

Pada episode ini, Bincang Sejiwa spesial memnyambut hari kemerdekaan Indonesia. Dengan menghadirkan anak – anak muda yang menginspirasi dengan solusi ide kreatif mereka dalam membuat perubahan positif untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia saat ini.

Pada Bincang SEJIWA kali ini, kita bisa melihat bahwa terdapat sebuah organisasi yang mewadahi para changemaker, yaitu Ashoka Indonesia. Ashoka adalah organisasi pioneer yang mendukung social entrepreneurship yang berdiri sejak 1980. “Bil Drayton, Founder dan CEO Ashoka. Ia melihat bahwa butuh wadah yang mengabungkan nilai entreprenial dengan gerakan untuk kebaikan bersama dan menyelesaikan masalah. Karena perubahan itu terjadi secara eksponensial, tapi semakin hari semakin banyak masalah yang kompleks. Sehingga saat ini, dibutuhkan seseorang changemaker yang menjadi pembawa perubahan/ pembaharu dengan empati bisa mengidentifikasi masalah disekitar melahirkan solusi baru” (Ara Kusuma).

Disaat pandemi ini, Ashoka membuat acara Youth Leaders Summit secara dalam jaringan yang diikuti oleh peserta dari bebagai penjuru dunia.

“Karena kita melihat tren bonus demografi terutama di Indonesia, sehingga banyak anak muda yang berpotensi besar, jadi dibuatkan suatu wadah untuk ngobrol bareng dan ruang mengeluarkan pendapat masing masing, mengutarakan melihat dunia dan bagaimana peran anak muda yang dibutuhkan saat ini, membawa perubahan di sekitar, tumbuh dan pembaharu. Kita mencari changemaker dan mau meng-empower teman-teman lainnya untuk jadi pembaharu juga. Jadi mengeluarkan kekuatan dengan keunikan,  dengan kehebatan masing-masing  dan passionnya dalam berkegiatan. Sehingga timbul core leadership dari anak muda untuk anak muda” (Ara Kusuma).

Salah satu peserta Youth Leaders Summit, Amarylisse atau Rere (nama akrabnya)  sebagai Ashoka Young Changemaker dari magelang, Jawa Tengah. Beliau pendiri Taman Baca Masyarakat dengan nama Rumah Baca Mc Ganz. Rumah baca ini tak hanya literasi baca tulis saja, namun terdapat juga kegiatan multi literasi diluar ruangan seperti bersepeda, besepatu roda, berenang, latihan bela diri, , latihan panahan. Rumah baca ini menduduki peringkat 9 dari 3300 rumah baca paling kreatif dan inovatif di seluruh Indonesia. Beliau menargetkan setiap satu RT (rukun tetangga), satu rumah baca sehingga butuh collaborative teamwork.

“Untuk menarik minat anak-anak dengan menawarkan kegiatan outbond sebulan sekali atau 6 bulan sekali. Ada pelatihan menulis setiap sabtu sore, diskusi sharing dan akan membuat antologi buku dengan judul rumah sejuta warna. Dengan goresan tinta kecil kita dapat mengubah dunia. Seorang pembaharu dapat mulai dengan menulis hal sekecil apapun. Pertama memiliki niat yang kuat, dan memiliki keyakinan dalam diri untuk membuat perubahan dan mengajak orang-orang  disekitar untuk melakukan perubahan. Jika sudah dengan dua niat itu, maka sesdorang  akan terus maju walau ada hambatan yg dialami” (Amarylisse atau Rere).

“Program-program seperti itu (Ashoka) menjadi sebagai salah satu katalisator sebagai ruang anak-anak muda bertemu sharing dan berbagi pengalaman sekaligus melihat persoalan yg ada. Hal ini sangat cocok dengan pendidikan karakter yang dikembangkan di Indonesia,terutama  karena pada akhirnya akan bisa kita lihat sejauh mana terjadi perubahan. Perubahan apa dalam diri individu itu sendiri sebagai manusia menjadi lebih baik dan ketika terkoneksi dengan konflik sosial yang ada, sehingga akan memunculkan kesadaran – kesadaran baru. Anak muda di program Ashoka tahu persoalan dan  lalu mencoba menyelesaikan persoalan dengan kapasitas dan kemampuannya. Dengan bantuan orang dewasa dan lembaga maka anak muda  bisa lebih terarahakan” (Doni Koesoema A).

 

Timbul pertanyaan, bagaimana ketika kita sebagai anak muda, ingin melakukan sebuah perubahan.  Namun ada perasaan takut, cemas, atau khawatir akan ide perubahan itu di tertawakan dan dianggap remeh oleh orang lain. Apa sih yang bisa bikin kita berani?

Mba Wuri menjawab,

  1. Awalnya dengan mengenali diri sendiri. Kenapa penting? Karena supaya bisa tahu passion kita sebenarnya apa, minat saya dimana, plus minus kita apa, dan melihat kedunia luar akan melihat banyak hal, jadi bisa berkontribusi  di hal tertentu dengan tahu passion kita
  2. Kontribusi, jadi dengan kita tahu passion kita apa, apa yang membuat kita tertarik, akan lebih klop dan relate sama diri kita. Bisa dengan networking kita akan belajar, kita akan tahu knowledge ini dimana, dan belajar dengan siapa, jadi akan muncul sisi positif-positif dalam diri kita.

PERAN SEKOLAH

“Sangat potensial sekali bagaimana sekolah bisa menemukan dan memberdayakan para siswanya untuk memulai memiliki kepekaan persoalan – pesoalan sosial di sekitarnya. Hal ini sudah ada memang dengan problem solving ada pembelajaran di kurikulum 2013. Namun, hal ini jangan sebatatas gerakan di mata pelajaran atau kegiatan sekolah saja tapi tidak miliki dampak dimasyarakat. Sehingga perlu pendampingan dari bapak ibu guru semua kepada siswanya untuk mengaplikasikannya” (Doni Koesoema A).

PERAN ORANGTUA

Peranan orangtua menjadi suatu kunci yang menjadikan anak-anak kita sebagai changemaker. “Cukup signifikan untuk anak muda. Pembentukan karakter sangat diperlukan dari dukungan orangtua. Peran orangtua adalah adalah peran utamanya, di ashoka pun ada program pembinaan orangtua. Faktor yang mendukung dan memperngaruhi pertumbuhan mereka, dari survey yang dilakukan Ashoka kepada Ashoka Fellow dan Ashoka Changemaker ialah orang tua. Jadi kita bisa melihat sosok org dwasa ada disekitar kita” (Ara Kusuma).

“Anak belajar dari sekitar itu akan gampang niru orang lain, jadi kita sebagai changemaker bisa menginspirasi. Jadi fokus ke passion kita dalam isu yang akan kita berkontibusi. Ketika tahu tujuan kita mau ngapain, kita akan cari seribu macam cara untuk mencapai tujuan itu. Jadi kalo kita tahu tujuan kita mau ngapain maka energi akan menarik hal yang kita  butuhkan dan akan mengispirasi orang lain secara  langsung ataupun tidak. Energi akan menular” (Wuri Ardianingsih).

Apa makna kemerdekaan menurut narasumber?

Rere menjawab “Kemerdekana itu bebas mengeluarkan pendapat, berdemokrasi, menghargai pendapat orang lain, dan bebas mengemukakan dan mewujudkan ide – ide kita. Jangan takut dan ragu cobalah untuk mencoba”

Ara menjawab “Dalam mengisi kemerdekaan ialah kemerdekaan dalam menentukan pilihan dan bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Supaya bisa berperan dalam diri sendiri dan berperan  dalam membawa perubahan di sekitar. Pastinya akan banyak tantangan yang kita lalui dalam kita berkembang, seperti bagaimana pahlawan itu  dengan bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Tapi itu akan worth it, dan kita akan lalui  itu sebagai sebuah  proses. Kita harus menghargai proses yang kita lalui apakah itu naik atau turun pasti akan ada hikmah pelajaran yang kita lalui. Anak muda, cari jati diri, berani buat pilihannya, merdeka untuk berdaya, merdeka untuk berkegiatan. Jangan lupa untuk memerdekaakan kita semua”.

penutup dari Mas Doni:

“Temen-temen  perlu mengisi kemerdekaan. Merdeka dan tanggungjawab menjadi  satu bagian.Dan tanggung jawab itu terbagi tiga:

  1. Tanggungjawab kepada siapa? tanggungjawab kepada bangsa, kepada negara
  2. Tanggungjawab sebagai apa? tanggungjawab sebagai individu , sebagai siswa, sebagi warga Negara
  3. Tanggungjawab bagi siapa? Tanggungjawab pada orang lain, pada tuhan.

Setiap tindakan akan dituntut untuk berbuat sesuatu dan mempunyai konsekuensi. Maka pilihannya memilih melakukan sesuatu yang berguna bagi diri dan bangsa. Mana yang baik, lakukan dalam mengisi kemerdekaan”.

Salam damai,

 

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”