BINCANG SEJIWA EPISODE 13 : “MERAYAKAN PLURALISME MENGISI NEGERI”

BINCANG SEJIWA EPISODE 13
“MERAYAKAN PLURALISME MENGISI NEGERI”
Minggu, 23 Agustus 2020

 

Narasumber:

Dr. Indah Suhadiswi (Ketua Yayasan Pendidikan Islam Nasima)

• Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)

Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator SEJIWA)

 

Pada episode ini, Bincang Sejiwa membahas tentang Sekolah NASIMA (Nasionalis Agama) yang bergerak di bidang pendidikan formal dengan menanamkan dan melatih rasa menghargai negerinya yang memiliki kekayaan budaya, ras, suku, bahasa, dan agama lewat rutinitas harian yang sangat membangkitkan semangat nasionalisme. Sehingga menjadi insan Indonesia yang kuat dalam beragama, namun prularis dalam bersikap.

Penanaman nilai di sekolah Nasima melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler budaya sekolah dengan nama Jelajah Nusantara. Ini semua dilakukan untuk memperkuat materi tentang pluralisme dan toleransi disetiap materi pelajaran yang disampaikan, bahkan mengintergrasikan nilai-nilai karakter toleransi dalam setiap pembelajaran. Apresiasi terhadap keberagaman, diskusi, kerja kelompok, dll. Memperkuat penanaman pluralisme dan toleransi dalam pedoman perilaku, dalam tata tertib juga dilakukan. Menumbuhkembangkan kebhinekaan pada anak, agar tahu dia berbaur dengan masyarakat yang beragam.

Jelajah Nusantara di Sekolah NASIMA ini diformat dalam rangkaian kegiatan, yaitu Display Kelas Jelajah Nusantara (DKJN), yaitu mewujudkan dengan cara mendesaian Sekolah NASIMA sebagai miniatur Indonesia. Semua ruang di nasima diberi nama daerah diseluruh Indonesia. Ditata dan dihias sesuai dengan daerah tersebut.
Lalu terdapat Pengenalan Lingkungan Jelajah Nusantara (PLJN), dimana semua peserta didik di fasilitasi untuk berinteraksi dengan keberagaman di sekelilingnya yang disesuaikan dengan tingkat kelas untuk menggali keberagaman geografi, profesi, sosial, ekonomi, budaya daerah-daerah di Indonesia.

“Selain itu, di Sekolah NASIMA mempunyai tradisi peran orang tua dalam pendekatan nasionalis agama terhadap orangtua siswa, tradisi diawal tahun ajaran, terdapat pertemuan orangtua. Kita lakukan pengenalan program NASIMA, framework nya NASIMA seperti ini lho. Jadi kita melibatkan orangtua di berbagai kegiatan, parenting class, expo budaya, setiap tanggal 17 Agustus setelah Upacara, terdapat Pesta Budaya Nusantara di seluruh Indonesia dengan menampilkan pameran sesuai daerah masing-masing, yang diikuti pihak sekolah, siswa dan orangtua siswa. Bahkan orangtua memakaki pakaian baju adat daerah masing-masing. Dan untuk kegiatan kita yang lain seperti Display Kelas Jelajah Nusantara juga bentuk kerjasama dengan orangtua, mereka memberikan support yang luar biasa kepada NASIMA” (Dr. Indah Suhadiswi).

“Ketika orangtua diberikan pendidikan mengenai apa yang tepat untuk anak, menghargai, toleransi dengan perbedaan, kemudian sadar bahwa mereka berada di Negara yang memang sangat beragam. Kekayaan agama, budaya, ras ,suku di Negara Indonesia ini bahkan ada pertanyaan kok bisa ya bersatu? Jadi ini bentuk amanah tuhan yang harus dijaga. Orangtua yang mampu mendorong anak toleran bersama –sama sekolah menguatkan keberagaman ini, maka hasilnya akan jadi anak-anak yang menjadi pemimpin negeri ini yang akan meneruskan negeri ini sebagai negeri yang beragam, yang Bhinneka Tunggal Ika, negeri yang kokoh kuat dan menjadi suri tauladan. Jadi berbeda itu mengayakan, berbeda itu indah, berbeda itu cinta dan memberi kesempatan anak kita untuk berempati dan bertanggungjawab untuk sama-sama bekerjasama menguatkan, mengayakan dan membangun Indonesia” (Diena Haryana).

“Untuk menumbuhkan rasa cinta pada bangsa ini, melihat Indonesia yang bhinneka. Satu-satu nya cara yang bisa membuat anak mengerti apa menjadi Indonesia adalah membuat mereka, melihat, mendengar, merasakan, mengalami “Aku Indonesia”. Semua ruang di Sekolah NASIMA, menjadi cara mendidik ke-Indonesiaan. Contoh segi pembelajaran, praktek pengembangan budaya, untuk bisa mencintai daerah lain, mengerti Indonesia” (Doni Koesoema A.).
Timbul pertanyaan, Kenapa namanya Sekolah NASIMA (Nasionalis Agama) ?

Dr. Indah Suhadiswi menjawab,
“Bapak Yusuf Nafi, pendiri Sekolah NASIMA melihat keprihatinan Indonesia di Indonesia. Jadi harus terjaga untuk menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia tentang keberagaman agar Indonesia ini tetap bersatu dan tetap bhinneka tunggal ika. Salah satunya caranya dengan nasionalisme dan agama itu dijejerkan, di blended menjadi satu yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

“Keprihatinan saya ketika orang berbicara Pendidikan karakter. Seringkali orang mengacunya ke pendidikan agama. Tentu tak ada salahnya, tapi dalam konteks keindonesiaan, kita memiliki sisi kesamaan lain yaitu ke-Indonesiaan. Ke-Indonesiaan itu akan kuat ketika keutamaan lokal bangsa Indonesia ini, keluhuran kebijaksanaan Indonesia yaitu religiusitas. Jadi agama bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia. Ini harus diikat, supaya gak lepas ke-Indonesiaannya” (Doni Koesoema A).

”NASIMA mengusung nilai nasionalis agama, kita sadar bahwa anak-anak perlu di bekali nilai-nilai kebhinnekaaan di Negara kita agar memiliki rasa nasionalisme tetapi tetap kuat memegang teguh ajaran agama masing-masing. Memberikan pemahaman peserta didik mengenai nasionalisme, bahwa Indonesia itu “Bhinneka Tunggal Ika” anak didik harus tahu dengan keberagaman ini (pluraris). Sesuai dengan 3 hal dalam pendidikan karakter: Ngerti/mengerti dengan keterlibatan intelektual, ngeroso/merasa dengan terinternalisasi kedalam hati, ngelakoni/melakukan itu dengan tanggungjawab” (Dr. Indah Suhadiswi).

“Kita semua cinta kepada anak-anak kita, dan kepada negeri kita. Menjaga Indonesia ini dengan terus merawat, menanamkan toleransi pada jiwa anak-anak kita, menumbuhkan empati mereka kepada semua saudara-saudaranya di negeri ini. Kita menjaga kebaikan untuk terus bergandengan tangan, spirit bersatu, bisa berkolaborasi satu sama lain. Itu yang perlu ditatamkan pada anak kita” (Diena Haryana).

“Saya mengajak Bapak/Ibu semua, contohlah NASIMA ini sebagai bagian, sumber inspirasi praktik-praktik baik pendidikan kita untuk pendidikan karakter karena sesuai dengan Peraturan Presiden No. 87 tahun 2017, Indonesia ini sangat kaya budaya, perlu cinta yang mendalam, disatu sisi orang-orang Indonesia perlu ikatan religius yang kuat dengan keyakinannya, sisi lain maka disinilah kita selalu berusaha membangun ke-Indonesiaan dari titik pijak kita, kita disini sebagai orang Indonesia. Dimanapun kita berada, kita perlu merasa diri sebagai orang Indonesia pertama-tama dan kemudian disitu kita merasa mau merealisasikan semangat kemerdekaan kita” (Doni Koesoema A.).

“Dengan NASIMA, masalah-masalah yang ada di indonesia bisa kita selesaikan dengan baik dan menjaga bahwa Indonesia adalah Indonesia yang berbhinneka tunggal ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” (Dr. Indah Suhadiswi).

Salam damai,

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”