BINCANG SEJIWA EPISODE 14 “PERANAN MUSIK TERHADAP PENGUATAN KARAKTER”

BINCANG SEJIWA EPISODE 14
“PERANAN MUSIK TERHADAP PENGUATAN KARAKTER”
Minggu, 30 Agustus 2020

 

Narasumber:

Ronny Loppies (Direktur Ambon Musik Office)

Nico Tulalessy (Pendiri AUKC)

Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)

Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

      Dipandu oleh

Andika Zakiy

    (Program Koordinator SEJIWA)

 

Pada episode ini, Bincang Sejiwa membahas tentang peranan musik terhadap penguatan karakter, bagaimana musik dapat menjadi cara untuk menguatkan karakter pada anak dan membangun kedamaian.

Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) lahir karena melihat fenomena candu gadget di kalangan anak-anak yang itu dianggap berbahaya dan dianggap seperti penyakit yang susah di sembuhkan. Lalu Pak Nicho melihat mungkin melalui musik bisa sedikit-sedikit mempengaruhi mereka untuk keluar dari ketergantungan gadget seperti bermain game online itu.

Berawal dari kegemaran sejak kecil bermain ukulele dari tempurung kelapa dan pernah mengikuti pelatihan sustainable tourism. Akhirnya Pak Nicho berani untuk bergerak untuk menyelamatkan anak-anak Ambon dari kecanduan gadget.  Berawal dari anak sendiri dan anak tetangga yang diajarkan ukulele, lalu dengan memposting di media sosial dengan campaign bahwa bermain ukulele ini sebagai salah satu cara mengalihkan dari kecanduan gadget dengan bermain musik. Karena postingan tersebut, anak-anak yang tertarik untuk bermain ukulele pun bertambah dan terus berkembang. Lalu karena banyak anak-anak yang belum mempunyai ukulele, Pak Nicho pun menggalang donasi.

“Musik membuat kita hidup tanpa perbedaan, musik mempersatukan orang, musik itu membuat orang bahagia, musik tidak membuat orang marah-marah, dan orang yang bermain musik adalah orang yang berbahagia. Sehingga anak-anak yang bermain musik adalah anak-anak yang sangat berbahagia”  (NichoTulalessy).

Di AUKC, selain bermain musik, diajarkan pula nilai-nilai. Dengan musik, anak-anak belajar toleransi. Membuat konser ramadhan, konser natal, dsb. Karena hidup berdampingan, menjaga toleransi di Ambon sama  dengan menjaga toleransi di Indonesia sama dengan menjaga perdamaian dunia.

“Kita memang tidak bisa menghindari modernisasi, tapi kita juga tidak boleh meninggalkan kebudayaan. Kalian bisa menikmati modernisasi di zaman millennial ini, tapi nilai-nilai budaya harus tetap di jaga. Kehidupan kalian harus balance, lebih indah” (NichoTulalessy).

Dampak  belajar di AUKC ini mempengaruhi kemampuan belajar mereka disekolah. Setelah 3 bulan, diskusi dengan guru-guru. Apakah ada perubahan daya belajar dengan anak-anak setelah bermain ukulele. Ternyata daya belajar mereka meningkat. Ada perubahan. Ada pengaruhnya. Jadi anak-anak mulai mengurangi waktu bermain gadget dan fokus belajar. Lalu ada kisah menarik dimana ada seorang anak yang datang pertama kali dengan kondisi matanya mengalami gangguan, karena terus berkedip-kedip. Ketika ditanyakan orangtuanya, ternyata dampak porsi bermain game online yang berlebihan. Lalu setelah ikut belajar ukulele  4- 5 bulan, sudah normal matanya.

AUKC menjadi model sebuah komunitas musik, Karena harus sutainable, maka bekerjasama dengan Pemerintah Kota Ambon, Walikota, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota menghasilkan kesepakatan bahwa ukulele ini akan dimasukkan ke mata pelajaran sekolah (muatan lokal).  Bertepatan dengan hari anak 2019, launching Ukulele Goes To School , lalu Pak Nicho beralih jadi guru seni freelance. Lalu membuatkan tutor sebaya. Berkata Pak Nicho kepada anak-anak  anggota AUKC yang sudah mahir:

“Dengan mengajarkan ilmu yang kalian punya itu bentuk dari kalian membangun Negara, bentuk dari kalian membela Negara. Karena saat kalian punya ilmu, kalian membaginya ke teman yang butuh, itu sudah  menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangga, jadi pahlawan buat orang itu dan untuk diri sendiri”.

Banyak  ketika orang-orang melihat Ambon itu indah dengan musiknya tapi terkadang lingkungan kurang terjaga. Ketika sudah satu tahun belajar di AUKC, sehingga sebagian anak-anak AUKC, diprakarsai oleh Keysha mengumpulkan anak-anak sendiri lalu membuat gerakan membentuk komunitas “LEBEBAE Kids Community”. Mereka mulai bersih-bersihkan sampah di  pantai, lalu bilang stop buang sampah dilaut. Lalu meluas ke tempat lain. Jadi mereka sudah mempunyai new style dengan melestarikan budaya (musik budaya) tapi melestarikan lingkungan juga. Ini gerakan oleh anak-anak yang menerapkan hasil belajar yang diimplementasikan dengan baik. Sehingga membuat bangga kepada keluarganya. Dan mereka alergi terhadap anak-anak yang masih buang sampah sembarangan.

Menurut Pak Ronny, Orang Ambon adalah orang yang memiliki frekuensi dan DNA bermusik, intuisi bermusik nya itu tinggi. Hasil analisis Ambon Musik Office terhadap masyarakat Ambon :

  1. Cyrcle of Life Ambonesse

Ditemukan disitu bahwa mulai dari janin kemudian dia menjadi anak sampai remaja, pemuda orang tua, sampai kematian pun terpapar oleh musik. Terdapat budaya orang Ambon selama kehamilan/ anak masih di dalam kandungan itu selalu terpapar oleh musik yang dikasih pada skala Diatonis, berbeda dengan tempat lain yang skalanya Pentatonis. Sehingga pendengarnya mutlak itu dari masih janin, jadi orangtua bernyanyi rata-rata skala diatonis lalu ditambahkan harmoni.

  1. Musik Driving Place Making

Orang Ambon bernyayi mulai dari pantai sampai ke gunung lalu kemudian in line dengan pembangunan kota Ambon sebagai Creative City yang sekarang menjadi  City of Music . Ambon mengutamakan budaya sebagai Head of Planning nya, jadi perencanaan kota itu mengarah kepada budaya, budaya musik. Karena musik itu sudah menjadi karakter budaya dari setiap orang Ambon.

  1. Permainan Anak Tradisional di Kota Ambon

Mempunyai konektifitas banyak dengan musik, salah satu pembentukkan karakter anak untuk mempunyai kekuatan bermusik di permainan tradisional.

“Konsep Ambon sebagai kota kreatif berbasis musik ini versi UNESCO adalah bagaimana mengembangkan karakter budaya yang sudah tertanam pada jiwa Ambonesse itu untuk membuat dia menjadi sesuatu yang bisa diukur kesejahteraan nya. Ada peribahasa ‘Walaupun hidup susah, tapi tetap tahu senang saja’. Muncul karena mengganggap dengan bermusik itu dia sudah bahagia, sejahtera secara batiniyah. Dan konsep sekarang mau dicoba dengan pepatah ‘Cari makan, jual suara’ ada unsur ekonomi yang diliat, oleh karena itu unsur ekonomi kreatif  yang dibangun. Musik menjadi budaya  dan akan membuat masyarakatnya tidak akan hilang karakter musiknya”  (Ronny Loppies).

Dua Dusun yang menjadi ujung tombak dari Ambon Musik Office atau dari pemerintah kota Ambon melakukan pariwisata musik. Dengan komunitas musik yang kuat, seperti di Dusun Amahusu punya Amboina Ukulele Kids Community nya Pak Nicho dan Dusun Tuni yang mempunyai Molluca Bamboowind Orchestra, itu internasional orkestra berbasis bambu. Disana mereka diajarkan menjaga tanaman bambu. Anak-anak sudah mulai belajar dari bagaimana menanam sampai mengkonservasi hutan. Proses mencintai alam dan menjaga eksistensi mereka yang suka musik.

Timbul pertanyaan, bagaimana orangtua harus menanggapi anak yang kecenderungan kecerdasan musik?

Mba Diena menjawab,

“Tiap anak punya potensi yang bermacam-macam (kecerdasan majemuk). Tiap anak punya kecerdasan musik baik kuat atau lemah. Kenapa perlu dikuatkan. Sebaiknya anak diberi banyak bekal untuk melanjutkan kehidupannya. Ketika orangtua benar-benar hadir untuk menguatkan potensi anak. Kita akan ngasih kelengkapan untuk anak meniti kehidupan bahagia, akan lebih percaya diri, lebih ceria, lebih yakin punya banyak teman. Akan memompa kreativitas , daya belajar, daya juang, dan tidak kesepian kehidupannya”. 

Pertanyaan berikut, apakah sekolah bisa memanfaatkan musik untuk menguatkan karakter anak, dan bagaimana caranya?

Mas Doni menjawab,

“Di sekolah, musik ini bisa menajdi salah satu sarana untuk pengembangan karakter peserta didik. Kata Filsuf Yunani, Pythagoras : Tujuan tertinggi sebuah musik adalah menghubungkan jiwa seseorang dengan kodrat ilahi, bukan sekedar hiburan. Jika diperhatikan, negara yang memiliki unsur spiritual yang lebih tinggi dan matang, selalu mempergunakan irama-irama musik, baik itu nada, cara berdoa, bernyanyi, dll. Musik akan mengoneksikan hati-hati, jiwa-jiwa manusia. Maka musik akan membuat hidup antarmanusia harmoni, senang gembira. Karena ada nada-nada tertentu yang menghubungkan walau bahasanya beda.   Ada unsur kesatuan dari ilahi, ada harmoni antar manusia dan dampaknya akan tercipta harmoni dengan alam. Komunitas LEBEBAE  tadi menunjukkan merupakan refleksi spontan karena musik. Musik bisa membuat orang bekerjasama dan membuat perdamaian. Musik merupakan proses yang bagus untuk pembentukkan karakter. Musik bisa menghaluskan budi , dibanyak tempat individu yang biasa tidak tertata dengan baik akan terapi musik, pendekatan musikal, mereka bisa mulai mengelola emosinya, hatinya, perasaannya dan tujuan akhirnya melahirkan suatu jiwa yang bergembira. Karena hati yang gembira itu adalah obat. Maka sekolahpun sebaiknya ada ekstakurikuler yang berhubungan dengan musik. Karena disitu proses pembentukkan karakter bisa terjadi”.

 

Salam damai,

Yayasan SEJIWA

 

“Service for Peace”