BINCANG SEJIWA EPISODE 15: “TEGUH BERKOMITMEN EDUKASI NASIONALISME PADA GENERASI Z”

BINCANG SEJIWA EPISODE 15
“TEGUH BERKOMITMEN EDUKASI NASIONALISME PADA GENERASI Z”
Minggu, 6 Semptember 2020

Narasumber:

  • M.E Tjokrosantoso (Bung Tjokro) (Pendiri GARUDA(Gerakan Revolusi Pemuda))
  • Shilla Syahrani Nur Saif (Perwakilan GARUDA(Gerakan Revolusi Pemuda))
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator SEJIWA)

Pada episode ini, Bincang Sejiwa membahas tentang nilai nasionalisme, sejarah kebangsaan, dan   kepahlawanan dikalangan generasi Z di tengah perkembangan peradaban global dan pesatnya kemajuan teknologi informasi yang mempengaruhi budaya dan kepribadian suatu bangsa.

GARUDA (Gerakan Revolusi Pemuda) hadir dilatarbelakangi karena kekhawatiran Bung Tjokro melihat generasi muda yang kurang memiliki wawasan kebangsaan (nasionalisme), khususnya kaum millennial. Ketika 100 tahun Indonesia merdeka, generasi muda saat ini akan mendapati tantangan yang berbeda, sehingga butuh bentuk pengkaderan terhadap anak muda untuk tetap berpegang tujuan cita-cita para pendiri bangsa dan ideologi bangsa. Gerakan ini diberi nama Gerakan Revolusi Pemuda, karena ingin pemuda-pemuda merevolusi pemikirannya sesuai dengan pemikiran Bapak Bangsa, jangan sampai ketokohan ke luar (cinta dan kagum kepada tokoh luar), harus punya tokoh, karakter, dan budaya sendiri.

“Berawal dari melihat bapak bangsa dulunya punya study club , seperti Moh.Hatta dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Bung Karno punya study club  di Bandung yang membahas nasionalisme dan kebangsaan. Dr.Soetomo punya study club  di Surabaya, dsb. Jadi banyak Bapak Bangsa yang membahas tentang pemikiran-pemikiran untuk bagaimana men-create Indonesia merdeka. Ini yang hilang di generasi kami, dan ingin kami majukan kembali dan harus muncul bahwa nasionalisme buka hanya kita peringati atau kita meriahkan saja. Tapi itu harus kita lakukan setiap hari dan harus di implementasikan setiap hari. Pemikiran yang harus direvolusi, pemikirannya yang harus diubah, kita ini mempunyai Negara yang pioneer dalam perjuangan dalam kemerdekaan se-Asia waktu itu dengan darah dan air mata. Dan ini yang harus kita ingatkan untuk generasi muda” (Bung Tjokro).

“Target GARUDA pengkaderannya ialah anak muda. Jadi komposisi anggota GARUDA sekarang berupa  85% anak sekolah SMP-SMA, 10% anak Kuliah 5% yang sudah bekerja. Karena bila kita tengok sejarah, yang memerdekakan Indonesia ini didominasi oleh anak muda. Jadi memang pergerakan Indonesia ini oleh anak muda. Seperti perkataan Bung Karno, “Berilah saya 10 Pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”.  Dan melihat (bonus demografi), pemuda Indonesia akan banyak dan nantinya akan menduduki pemerintahan dsb.Ini potensi yang sangat penting dan kita harus mulai dari sekarang untuk berjuang. Di GARUDA ada program teaching class, kunjungan museum, bedah buku, undangan seminar (seperti diundang oleh mabes tni, mabes polri,google Indonesia, TVRI, dsb), ziarah ke taman makam pahlawan. Juga ada program GAJAJAN (Garuda Jalan-jalan) setiap tahun ke suatu tempat , GARUDA Goes To School, MPLS .” (Bung Tjokro).

 “Saya ikutan study club  ini karena suka sejarah, lalu tertarik gabung study club  GARUDA ini, lalu berubah menjadi ekskul. Karena cocok dan sesuai karena wadah untuk mengembangkan potensi saya untuk mengembangkan sejarah. Dan setelah ikut, bisa dapat ilmu bukan sejarah saja, tapi nasionalisme, ideologi dan kebangsaan.  Jadi kita sebagai generasi penikmat kemerdekaan seharusnya menjaga dan melindungi apa yang diberikanpendiri kebangsaan. Kita perlu memahami arti kemerdekaan dan lebih tahu lagi kemerdekaan dengan sebenarnya”.  (Shilla Syahrani Nur Saif)

Timbul pertanyaan: Terkait sejarah dan pendidikan karakter. Bagaimana sejarah bisa mempengaruhi karakter dari seseorang atau diterapkan di pendidikan karakter?

Mas Doni menjawab:

“Saya melihat bangsa ini gampang sekali melupakan sejarah, untuk jadi bangsa yang besar dan maju kita perlu belajar dari masa lalu. Keberadaan manusia dalam konstruk dunia ruang dan waktu ini memiliki perspektif ke masa depan, tetapi kedepannya ini tidak bisa kita maju tanpa kita tahu bagaimana bermula nya. Jadi terkoneksi dengan sejarah masa lalu memang butuh narasi dan cerita, dimasa lalu ada pengalaman kejadian yang bisa menyatukan. Dalam konteks pendidikan karakter, harusnya bersifat transformatif.  Siapapun diri kita adalah pelaku sejarah untuk kehidupan kita, kedepannya seperti apa, maka ditangan kita ingin seperti apa, harapan kedepan perlu dilihat dan dikembangkan. Dari situ karakter bisa dibentuk, bagaimana kemampuan individu melihat nilai-nilai dan menerapkan nya di dalam hidup. Nilai yang bukan kebutuhan sesaat, tetapi nilai yang jauh kedepan seperti yang kita lihat dalam diri para pahlawan”.

Jika melihat, sejarah itu ada 3 tahapan:

1.Estetis

Indiviu melihat keindahan sejarah dimasa lalu

2. Etis

Sejarah itu merupakan fakta yang harus diliat secara moral, baik buruk benar salah nya. Benar salah bisa berbeda dilihat dari sudut pandang, baik buruknya dari perilaku, tindakan manusia dimasa lalu. Disini tidak mudah karena sejarah bisa dimanipulasi.

3. Kritis

Seorang sejarawan harus memiliki keterbukaan, dan tidak bersifat monocausal, sebab akibat sebuah peristiwa, pemikiran luas dna melihat konstruksi sejarah berdasarkan serpihan-serpihan fakta, lalu kemudain merekonstruksinya.Untuk mencari kebenaran sejarah dan kedepannya.

Pertanyaan berikut: Bagaimana peran orangtua, bisa turut serta mengajarkan nasionalisme, pluralism dan toleransi di negeri ini?

Mba Diena menjawab:

“Negara kita ini kaya raya, baik adat istiadat, budayanya dan kaya dengan keberagaman. Apakah kita sebagai orangtua betul-betul memberi  pemahaman tentang kebanggaan terhadap Negara kita kepada anak-anak kita. Rasa bangga bahwa, “Wah Negara kamu ini luar biasa1”. Pulaunya ada sekian, agamanya ada sekian, ini adalah sesuatu yang kita jadikan kebanggaan bagi anak-anak itu. Caranya orangtua perlu menjadi suri tauladan, bagaimana anak bisa mencintai keberagaman. Ketika sudah tertanam bahwa tidak membenci kepada yang lain, maka  anak memiliki percaya diri untuk bertemu dengan orang Indonesia yang bermacam-macam. “Kamu itu punya bangsa yang luar biasa, kemanapun kamu berada akan diterima dengan baik, Inilah Negerimu!”. Ini yang perlu ditanamkan ke anak-anak kita. Negeri ini begitu hebatnya, semua akan mendukung, ada persatuan indonesia, berkolaborasi satu sama lain membangun negeri ini. Jadi Pengasuhan kita dalam mengajarkan anak sudah seperti itu belum? Jadi pentingnya pengasuhan itu, bagaimana orangtua bercakap-cakap, menunjukkan kesuri tauladan dengan menghargai orang-orang yang berbeda”.

Bung Tjokro pun menambahkan:

“Penting buat Indonesia maju kedepan ialah bukan dari keturunan biologis, tapi dari keturunan ideologis. Mereka yang mungkin bukan keturunan pejuang, tapi hatinya, jiwanya seperti pejuang-pejuang di zaman dulu. Bagaimana dulu Bapak Bangsa, belum tentu orangtuanya juga pejuang zaman itu. Mereka ada potensi yang belajar dari pejuang-pejuang zaman dulu, yang akhirnya mereka memperjuangkan itu. Jadi penting yang membedakan kita itu bukan sejarah tapi ideologi. Hal-hal yang perlu dipelajari oleh orangtua. Misal jika memberi anak uang, sambil di arahkan bahwa tokoh pahlawan yang ada di lembar uang itu apa sejarah dibaliknya, apa perjuangan pahlawan tersebut. Yang paling penting adalah family. Kalau mereka menilai orangtuanya saja sudah tak suka sejarah itu membuat kami generasi muda akan aneh, terlebih ketika kita diskusi di acara, kita akan bingung kalau orangtua kita tak suka sejarah. Menurut saya berarti hal tersebut  ketika keimanan agamanya rendah, karena agama itu semuanya dari sejarah. Hal kebangsaan ini sangat bersinambungan dengan agama. Makanya, sila pertama pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi agama poin penting di pancasila”.

Pertanyaan untuk Sheilla: Seperti apa melihat teman-teman Kamu untuk melihat masa depan bangsa? Apakah mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa atau seperti apa?

Sheilla menjawab:

“Circle pertemanan aku masih kurang tentang nasionalisme, disekolahpun kurang pengajaran tentang nasionalisme, jadi mereka berpikir individualis tanpa memikirkan bangsanya. Ya karena menurut mereka masa depan itu masih lama”. Study club  ini perlu di tambahkan dan lebih banyak di sekolah-sekolah. Karena penting banget pengajaran tentang ideologi, kebangsaan dan nasionalismenya. Saya pun merasa dapat paket komplit ikutan GARUDA ini. Jadi tinggal gimana caranya aku untuk mempelajari , memahami, dan menjalankannya nanti untuk Indonesia kedepan”

Dan bagaimana menurut Kamu bagaimana cara fun untuk belajar sejarah ?

Sheilla menjawab:

“Jujur Orangtua ku tidak terlalu mengajarkan sejarah, aku cari tahu sendiri. Saran aku teknologi sudah canggih, jadi mengajarkan nilai sejarah tak hanya dari buku tetapi bisa dari film, bisa marathon film sekeluarga setelah itu diskusi menjelaskan, saling bertukar pikiran. Jangan terkesan memaksa, lebih baik mengajak”.

Tanggapan Mas Doni :

“Di pendidikan kita yang masih masalah ialah perspektif sejarah dan kebangsaan ini belum menjadi spirit setiap proses pembelajaran, jadi tidak cukup hanya melalui mata pelajaran PKN dan Agama saja. Proses pendidikan itu pada intinya belajar sejarah. Ketika seseorang itu tak paham sejarah, maka akan mengingkari dirinya sendiri, dan tidak bisa menjadi orang yang seperti apa dimasa depan, karena terkoneksi ruang dan waktu. Perspektif sejarah ini kurang tertanam, padahal bisa diajarkan disemua kegiatan, dan Kurikulum 2013 sebenarnya seperti itu, tapi fakta dilapangan kurang”.

Bung Tjokro pun menanggapi:

“Pendidikan Nasionalisme itu kita berikan pengetahuan ke anak-anak sejak dini sebagaimana Bapak bangsa ajarkan, seperti menghafal burung garuda (lambang negara) itu dimulai dari SD-SMP, sedangkan  SMA-Kuliah itu sudah tidak menghafal tetapi mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi aneh, jika anggota DPR ditanyakan sila ke1-5 . Itu lebih cocok untuk anak TK atau SD. Dan saya sebagai guru memasukkan nilai-nilai nasionalisme terhadap apa yang di sukai anak-anak zaman sekarang, seperti di game online, kita kaitkan dengan perjuangan. Penting kita masuk ke dunianya, karena polanya sudah berbeda sekarang, kita perlu sisipka.  Lalu saya sampaikan ke mereka Kita utamakan perjuangan kalian itu tidak perlu dengan mengangkat senjata, tapi  cukup dengan berbuat baik kepada orang sekitar, membantu orangtua, dsb. Jadi moral itu penting, karena Bapak Bangsa dulu itu bukan hanya berpendidikan tapi tercerahkan. Jadi kita perlu banyak belajar dari Bapak Bangsa”.

 “Harapannya, Kita harus kembali ajaran Bapak Bangsa . GARUDA bisa terus mengkaderisasi anak-anak muda, untuk mereka bisa mengerti apa yang diajarkan Bapak Bangsa, apa cita-citanya, apa nilai-nilai yang kemudian masuk kejiwa mereka yang akhirnya mempersiapkan mental menghadapi nanti 100 tahun Indonesia merdeka. Jangan selalu hidup dalam sejarah, tapi kalian harus membuat sejarah” (Bung Tjokro).

Salam damai,

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”

Lihat video selengkapnya di link berikut : https://youtu.be/syPX6Ww2ET0