BINCANG SEJIWA EPISODE 16: “BERADA DI PINGGIR HUTAN DI KALIMANTAN, SEKOLAH INI SARAT KEUNGGULAN”

BINCANG SEJIWA EPISODE 16
“BERADA DI PINGGIR HUTAN DI KALIMANTAN, SEKOLAH INI SARAT KEUNGGULAN”
Minggu, 13 September 2020

 

Narasumber:

  • Utami Geiger (Pendiri Sekolah Bina Cita Utama (BCU) / Ketua Dewan Eksekutif Yayasan)
  • Elis Vina (Kepala Sekolah Bina Cita Utama (BCU))
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator SEJIWA)

Pada episode ini, Bincang Sejiwa membahas tentang sebuah sekolah yang berada di pinggir hutan dengan kegiatan belajar kreatif dan dinamis yang dimiliki serta mengajarkan dan mengembangkan permakultur bersama siswa sebagai pembentukan karakter dan kepedulian anak untuk merawat bumi dan mengolah alam agar dapat memberikan kehidupan berkelanjutan.

Sekolah Bina Cita Utama (BCU) hadir dilatarbelakangi ketika Mba Utami dan berangkat dari orangtua-orangtua (lingkungan tetangga) yang melihat terdapat kesenjangan di sektor pendidikan, sehingga sepakat membuat sekolah dengan mendirikan homeschooling. Kemudian, dengan rasa ingin berkontribusi untuk masyarakat dengan misi memperbaiki dan membantu kualitas pendidikan daerah, lalu homeschooling ini dijadikanlah  sekolah formal. Program unggulan sekolah BCU yaitu terdapat kegiatan setiap tahun dalam memperingati Earth Day dengan kegiatan membersihkan sampah di lingkungan sekitar, dan saat perayaan memperingati 15 tahun BCU dengan  kegiatan menanam 15.000 pohon di kalimanatan tengah, lalu ada program Borneo Initiative Youth Camp dengan peserta anak-anak internasional,  juga ada Parenting Workshop, dan Kegiatan Sosial Bersama BOSF (Borneo Orang utan Survival Foundation).

“Sekolah BCU menggunakan kurikulum nasional, karena ingin terjangkau oleh masyarakat disekitar, kemudian ditambahkan sumber dari kurikulum luar negeri dan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar berupa bahasa inggris. Kemudian BCU menggunakan metodologi pengajaran modern, dan fokus pendidikan yang berpusat pada anak, dan intelektual majemuk dalam anak”  (Utami Geiger).

Terkait permakultur, Mba Utami menambahkan:

“Berawal dari melihat di belakang sekolah, ada kebun yang tidak terpakai. Lalu bekerjasama dengan Yayasan Permakultur Kalimantan sehingga konsep ini dikembangkan bukan hanya untuk cara berkebun, tapi untuk cara hidup peduli terhadap lingkungan, peduli sesama, dan peduli masa depan. Integrasi kurikulum yang diperkaya dengan permakultur. Sekolah BCU menekankan pembentukan karakter, dan pembentukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar baik itu lingkungan alam sekitar dan lingkungan sosial budaya yang ada. Jadi penting mengenalkan alam dimana mereka tinggal, budaya dimana mereka tinggal untuk tumbuh kepedulian”.

“Latar belakang anak-anak ini bukan hanya lokal tapi global, cocok sekali dengan apa yang dikembangkan di kementrian, bahwa anak-anak harus mempunyai kebhinekaan yang global. Belajar menghormati budaya yang lain tanpa kehilangan jati diri budaya nya sendiri, kalau perlu yang dimiliki (local genius) bisa dibawa untuk berkontribusi di kehidupan masyarakat global”  (Doni Koesoema A.).

“Tidak ada batas tahapan belajar, jadi life long learning, yang dipelajari seumur hidup. Jadi anak-anak dipersiapkan untuk masa depan dengan hal-hal yang siap dari segi keilmuan, segi kepribadian, lalu diperkaya lagi dengan kemampuan berinteraksi  dan menghargai, dan mencintai alam. Pengenalan lingkungan dan budaya dengan modifikasi kurikulum. Karena fokus di bidang lingkungan, BCU memadukan dengan referensi Eviromental Talk Curicullum yang dibawa ke perlajaran sehari-hari  di kelas-kelas yang di integrasikan dengan kegiatan permakultur. Jadi memanfaatklan kegiatan beraktivitas di kebun sekolah, yang mengenalkan kepada anak untuk  berinteraksi dan beraktifitas di alam secara langsung” (Elis Vina).

Terkait tantangan yang hadir di sekolah BCU, Bu Elis menambahkan:

“Dari tahun ke tahun perubahan karakter anak itu terkait perkembangan teknologi dan informasi. Kita melihat bagaimana caranya membuat perkembangan ini sejalan dan disukai juga oleh anak-anak, karena kecenderungan anak-anak lebih suka dengan perkembangan teknologi yang ada, dan ekspos di sosial media. Jadi kita kenalkan bahwa Ada hal yang menarik, diluar apa yang biasa kalian tonton di internet, yaitu lingkungan yang bisa kamu lihat dan temui di sekolah”.

“Untuk program permakulture hal yang sangat bisa di Indonesia. Untuk proses pendidikan yang ideal, selalu tidak meninggalkan kedekatan individu dengan alam, karena ilmu pengetahuan berkembang  karena ada persoalan dengan alam. Manusia melihat alam,memahaminya lalu  mempelajarinya, itulah yang menjadi dasar keilmuan. Hali ini membuat siswa akan tahu proses kehidupan. Dari alam melihat persoalan, ketika tahu proses dari awal yang ada di alam, jikalau sesuatu dirawat dan tumbuh dengan baik itu akan berkembang dengan baik. Dalam pendidikan karakter, individu bisa tumbuh jika ada lingkungan yang mendukung. Persoalan kedepan bangsa menurut UNESCO ialah, pangan dan energi. Jadi bagaimana kita menghadapi kelangkaan ini, dengan menjaga alam. Jadi anak-anak ini yang akan  sebagai pemimpin masa depan yang bertanggungjawab kepada keberlangsungan alam ini. Jadi kita butuh pemimpin yang punya kesadaran. Jadi penting  jikalau anak-anak dipersiapkan sejak awal dan punya nilai-nilai yang peduli terhadap alam ini“ (Doni Koesoema A).

“Ada cinta di tugas-tugas kita dalam merawat bumi, supaya kelangsungan hidup bumi tetap bagus untuk anak cucu kita. Tetapi juga merawat kedamaian di dunia ini sehingga, perbedaan-perbedaan itu bukan menjadikan orang saling berperang, saling memecah belah. Tapi sebaliknya, perbedaan itu justru mengayakan dan membuat kita saling belajar, menjadi manusia yang saling mendukung, saling melengkapi. Sekolah BCU ini menjadi acuan yang baik karena tugas sekolah dengan konteks sekolah punya tugas untuk membangkitkan kesadaran merawat bumi pada anak-anak. Dalam konteks membangun kedamaian, bisa dilakukan disetiap sekolah untuk anak-anak. Dengan sekolah  mencari lokal konteks isu yang  diangkat untuk dipikirkan untuk bagaimana untuk mengatasinya” (Diena Haryana).

 

Salam damai,

 

 

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”