BINCANG SEJIWA EPISODE 17: “INISIATIF GURU BERBUAH MANIS”

BINCANG SEJIWA EPISODE 17
“Inisiatif Guru Berbuah Manis”
Minggu, 20 Semptember 2020

Narasumber:

  • Nia Kurniati (Guru SMPN 11 Bandung)
  • Amilia Agustin (Penggagas Zero Waste School)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Yuniar Adelia Sabila (Program Officer SEJIWA)

 

Pada episode ini, Bincang Sejiwa membahas tentang inisiatif seorang guru dalam membangun karakter dan kebiasaan baik anak yang berbuah pada ketangguhan anak dalam meniti dan menata kehidupan mereka dikemudian hari.

Ketika masa sekolah SMP, Ami (Amilia Agustin) dan temannya  melihat seorang bapak-bapak ketika ia menaruh sampah di TPS (Tempat Pembuangan Sementara), lalu makan di sana. Ami memikirkan bagaimana jika bapak itu sakit, dan apakah ia berdosa karena sampah tersebut berasal dari sekolahnya, dan akhirnya berpikir apa yang bisa diperbuat. Alhasil, Ami bertemu dengan Ibu Nia, seorang guru Biologi, lalu Ami menanyakan bagaimana cara ketika kita ingin mengolah sampah. Berawal dari bergabung dengan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), lalu membuat komunitas Zero Waste School, bergeraklah Ami dengan mulai berkegiatan dengan teman-teman tentang mengelola sampah dan ia diajak oleh Bu Nia berkunjung ke komunitas pengelola sampah, dsb.

Komunitas Zero Waste School awalnya beranggotakan tiga orang hingga berkembang menjadi 14 orang dan menjadi 34 orang. Mereka bertugas untuk mengelola sampah dengan membuat tempat sampah terpilah dari kardus, kemudian perwakilan kelas setiap pulang sekolah akan menyetorkan ke bank sampah yang kemudian akan diolah, dimana untuk sampah organik diolah untuk menjadi kompos, sedangkan sampah  anorganik dibuat menjadi kerajinan.

“Bu Nia adalah sosok guru yang hadir untuk menumbuhkan bahwa ternyata peran pembelajaran itu bukan karena kewajiban, setiap orang berhak belajar tapi tidak wajib belajar. Dalam artian, kau harus belajar dan rangking 1, dan selesai ujian semua lupa. Tapi ketika kita ada rasa berhak belajar, maka sebisa mungkin kita akan terus menggali apa yang kita ingin pelajari. Dan ini akan melahirkan project-project yang akhirnya di kerjakan“ (Amilia Agustin).

Mendapat Gelar Ratu Sampah

Ami awalnya adalah seorang siswa SMP yang anti sosial, dan malu berbicara di depan umum. Namun Ami juga seorang yang ambisius dengan prestasi yang baik di sekolah. Ketika diajarkan oleh Bu Nia saat SMP,  Ami melakukan project Zero Waste School , yaitu mengembangkan sekolah yang bebas sampah atau minim sampah, dengan mengelola sampah tersebut. Ami fokus dipengelolaan sampah, mengurusi sampah organik menjadi kompos, dan membantu meringankan bapak-bapak yang mengurusi sampah di sekolah. Untuk sampah anorganik, Ami melakukannya dengan memberdayakan ibu-ibu di sekitar sekolah yang dari kalangan ekonomi menengah kebawah, dengan  membantu mengajarkan membuat kerajinan dari sampah tersebut lalu mereka menjualnya, dimana hasil penjualan kerajinan tersebut diberikan untuk para ibu-ibu.

Gerakan Zero Waste School diikut sertakanlah ke program Ashoka, dan proposal tersebut lolos. Kemudian, Ami mengikuti kegiatan SATU Indonesia Award yang di selenggarakan oleh Astra. Lalu mulai dari situ, Ami disematkan dengan gelar sebagai “RATU SAMPAH”.  Uang pembinaan nya dimanfaatkan untuk membuat mini konveksi, membeli mesin jahit untuk ibu-ibu yangmembuat kerajinan sampah, dan membeli alat kompos untuk sekolah.

Karena sematan gelar tersebut, Ami terus menjalani aksi baiknya sampaike jenjang SMA dengan membuat kegiatan Bandung Bercerita dengan mengajar anak-anak kaum marjinal, pengamen, sosialisasi di sekolah. Kemudian dilanjutkan saat ia berada di jenjang kuliah dengan membuat  Udayana Green Community, hingga sampai saat ini Ami  bekerja di Corporate Sosial Responsibilty. Berbekal ilmu yang ditumbuhkan oleh Bu Nia tentang bagaimana hidup untuk terus berkembang dan untuk selalu mempunyai pemikiran kreatif dan semangat berkarya, Ami bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Pembelajaran penting yang diberikan Bu Nia, sehingga merasa harus selalu berkarya ialah perkataan bahwa : “Dimanapun kamu berada kamu akan selalumenemukan masalah, tapi yang menjadi persoalan adalah menjadi apa kita di masalah tersebut, apakah menjadi penonton, apakah menjadi penyorak ramai, atau menjadi  perusuh, atau setidaknya kita bisa membantu untuk memecahkan masalah itu” (Amilia Agustin).

Timbul pertanyaan tentang  Sosok Ibu Nia : Apa pengalaman yang mengubah hidup kamu (Ami), membuka perspektif dan itu bertahan sampai sekarang.  Adakah nilai-nilai yang ditanamkan terbentuk dan bertahan sampai sekarang yang diberikan ibu Nia?

Ami menjawab:

“Sosok Ibu Nia, adalah sosok guru yang galak. Dan uniknya, ketika mengenal lebih dalam Bu Nia, beliau adalah sosok yang mau mendengarkan (terbuka). Bu Nia berkata, Ami itu mau belajar dari guru yang seperti apa sih? Ami mau mendengarkan penjelasan dari guru seperti apa sih?.  Jadi dari situ Ami  merasa dihargai dan ternyata ada peran saya untuk terbuka dan menjadi teman Bu Nia.  Bu Nia mempunyai peran menjadi motivator, problem solver, menjadi  fasilitator itulah yang menjadi saya menemukan kreatifitas itu yang terus terbangun sampai sekarang.  Poin itu yang memberi kesempatan untuk terus berkembang, memberikan arahan dan menempatkan porsi”

“Waktu awalnya Zero Waste School mendapat banyak tantangan dan kritik, seperti :

“Kalian ini Anak-anak fokusnya belajar aja, banyak kegiatan seperti ini malah nanti nilainya jeblok!”

“itukan udah ada tukang sampah, ngapain jadi urusan kalian!”

Kita pun bertanya ke Ibu Nia,  kita kan mau bantu, kok malah dapat tanggapan seperti ini, apa kita gak perlu kerjain ini? Lalu Bu Nia menjawab : “Kalau kita terus-terusan mendengarkan orang atas apa yang kita lakukan, kita malah jadi gak maju-maju. Kalau kita pikir apa yang kita lakukan baik, apa yang kita lakukan berguna untuk sesama kita, udah kita kerjain aja, gak perlu dengerin apa kata orang. Bahwa apa yang baik akan kembali kepada kita”.

Perasaan didengarkan oleh guru yang membuat tumbuhnya  jalinan murid-guru

“Bu Nia ini waktu saya bertemu, beliau ingin  mempraktekkan hak-hak anak. Jadi seperti di  konvensi PBB, terdapat  4 pilar hak anak, yaitu :  hak untuk hidup, hak untuk  tumbuh kembang,  hak untuk utk dilindugi, dan hak untuk berpartisipasi. Nah poin berpartisipasi ini yang sudah  dilakukan Bu Nia dengan melahirkan anak seperti Ami ini, dan berhasil mengajak 34 anak untuk bergerak di ZWS dan mereka betul-betul bergerak secara ril (aktif)”   (Diena Haryana).

Timbul pertanyaan : Bagaimana caranya agar guru-guru yang inisiatif untuk menginspirasi siswanya  ini bisa tetap bisa berkontribusi berkelanjutan?

Mas Doni menjawab:

“Kalau kita melihat sangat jarang lho, anak-anak muda sekarang yang sudah mengalami pendidikan dari Bapak/Ibu gurunya itu masih menjalin kontak walau sudah bekerja, jadi saya rasa ini bagus dan menjadi role model untuk anak. Dan bagi Bapak/Ibu guru, sebenarnya proses perubahan terkait  pembentukan karakter terbentuk dalam diri individu sebenarnya peristiwa nya itu bukan sesuatu yang luar biasa , tapi peristiwa yang biasa-biasa saja, yang kemudain menyentuh hati, seperti Ami yang ternyata kehadirannya di dengarkan, diperhatiakn lalu dimintai pendapat, kemudian sungguh kejujuran ketulusan dalam berkomunikasi dan berdialog guru  itu merubah Ami menjadi orang yang terbuka dan sadar. Untuk menjadi orang sukses, pembelajaran tetap prioritas , tetapi sekarang ada dimensi sosial  kesadaran. Bagi saya yang menarik tentang Bu Nia,  ia sungguh- sungguh menghargai individu, individu itu berperan diberi porsi bahkan diberi ruang untuk mengalami dan akhirnya Ami yg belum berani ngomong di depan umum dipercaya menjadi pemimpin Zero Waste School ini dan dampak nya sampai sekarang”.

Timbul pertanyaan, apakah di setiap sekolah, pihak sekolah mendukung guru-guru untuk inisiatif dan berkarya?

Mas Doni menjawab:

“Jadi ini bagaimana melanjutkan dan mewariskan tradisi baik, didalam konteks pendidikan karakter ada yang namanya pengembangan budaya . Untuk menumbuhkan budaya itu tidak hanya ada satu dua orang, tapi setelah itu perlu ditanamkan spirit yg sama ke komunitas . Situasi sekolah pun mempengaruhi: Bagaimana budaya utk meneruskan nilai-nilai ini dihayati juga oleh anggota sekolah yg lain, karena bisa ganti kepemimpinan ganti kebijakan dengan inisiatif baru, jadi memunculkan yang baru, yang lama seolah dihilangkan. Masing-masing komunitas menjadi tradisi sekolah yg membentuk dan menjadi kebanggaan masing-masing ,menjadi ciri dan citra sekolah”.

“Bapak/Ibu guru memiliki potensi sangat besar untuk menjadi inspirator kepada siswanya. Kebetulan, Bu Nia mengampu mata pelajaran biologi, jadi beliau menginspirasi nya terkait mata pelajarannya. Bapak/ibu guru bisa menjadi sumber inspirasi bagaimana cara supaya berkelanjutan, hal ketika dalam mengajar dengan siapa siswa itu, bagaimana sebagai individu dihargai lalu kemudian disentuh hatinya untuk sesuatu yang baik untuk menumbuhkan nilai dan sesuatu yang baik ini, dan di masing-masing anak berbeda caranya, harus ada pengalamannya yang dimunculkan kepada anak. Lalu komunikasi yang bagus itu akan membangun relasi, relasi tidak akan hilang ketika berganti tempat dan waktu. Ami yang sudah bekerja masih kontak dengan Bu Nia dan bapak/ibu gurunya. Ibarat orang menanam, menanam di tanah yang subur dan dalam, sehingga akan tumbuh terus menerus apapaun situasinya. Tentu ini menjadi tantangan menarik yang perlu bapak ibu guru refleksikan”  (Doni Koesoema A.).

“Ami ini mendapatkan sosok Bu Nia ini yang luar biasa menginspirasi dan juga beruntung punya orangtua yg mentriggger dengan mengatakan kamu 12 tahun lho, kamu udah berbuat apa? Ini merupakan hal luar biasa. Jadi Ami sudah disentuh dengan dukungan dan doroangan orangtua untuk menjadi bertanggungjawab ini. Menurut saya, keberhasilan antara guru dan orangtua itu ada di sosok Ami ini. Dan saya gak bisa membayangkan sosok Ami yang dulunya anti sosial bisa jadi seperti saat ini, memimpin banyak orang, menginpirasi banyak orang, berbicara di depan banyak orang, bisa berbicara dengan baik. Menurut aku, ini sebuah lompatan yang besar sekali. Jadi Ami, selamat ya bisa mencapai banyak hal dan teruskan Ami tuk menginspirasi dan ini bisa menjadi tantangan untuk kita semua membentuk Ami-Ami yang lain”  (Diena Haryana).

 

Salam damai,

 

Yayasan SEJIWA

 “Service for Peace”

Lihat video selengkapnya di link berikut : https://youtu.be/n35D7q5KPqo