BINCANG SEJIWA Episode 2 : Membangun Karakter Anak lewat Seni “Bercerita”

BINCANG SEJIWA

Membangun Karakter Anak lewat Seni “Bercerita”

Minggu, 07 Juni 2020

Live Streaming di kanal Youtube Yayasan SEJIWA

Narasumber:

  • Kak Aio (Pendiri Ayo Dongeng Indonesia)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema (Pakar Pendidikan Karakter)

Pembawa Acara:

  • Wuri Ardianingsih (Academic Advisor Yayasan SEJIWA)

 

Salah satu cara menanamkan karakter positif yang menyenangkan anak adalah melalui dongeng. Kak aio “banyak orang tua yang beralih ke sosial media, padahal dongeng itu mudah tanpa perlu pakai kuota, tidak akan kehabisan batre, dan cerita nya bisa apapun. Dan itu kenapa, kami menggaungkan dan mengkampanyekan bahwa dongeng itu gampang dan jangan membandingkan dengan pendongeng handal.” Kata Kak Aio. Dilanjut oleh mas Doni, “Nilai nilai luhur itu sebenarnya ada didalam cerita, serta perlu adanya orangtua dalam bercerita untuk anak. Dan berilah ruang kepada anak untuk juga bercerita”

Dimulai dengan ruang lingkup terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, bagi anak-anak mendengarkan dongeng atau cerita yang diceritakan oleh orang tuanya dapat mengasah fantasi dan imajinasi anak. Selain sebagai sarana untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak, orang tua juga dapat menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak tanpa terkesan menggurui.

Ada beberapa karakter anak yang dapat ditumbuhkan dengan cara mendongeng, antara lain: Pertama, menanamkan etika dan nilai-nilai kehidupan, misalnya kejujuran, rendah hati, rasa empati, juga sikap tolong menolong. Saat mendongeng orang tua harus pandai memilih isi cerita yang hendak diberikan kepada anak. Banyak ahli menyarankan untuk tidak mermberikan cerita dengan tokoh yang berwatak jahat. Pemilihan tema cerita untuk anak dapat disesuaikan dengan usia anak.

Kedua, kepedulian terhadap lingkungan dan sosial, cinta tanah air. Hal ini didapat dari nilai-nilai luhur dan nasehat yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. Seperti cerita rakyat, fabel, hingga yang bersifat tematik seperti transportasi, kebersihan, kesehatan dan sebagainya.

Ketiga, membantu anak untuk berimajinasi. Imajinasi membantu anak untuk berpikir kreatif dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Pada saat mendengarkan dongeng, pikiran anak akan terangsang untuk menggambarkan situasi seperti yang ia dengar, kosakata juga akan bertambah, sehingga membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikirannya.

Keempat, merangsang minat baca anak dan rasa ingin tahu. Setelah mendengar satu dongeng, seringkali anak kemudian tertarik untuk mendengar cerita yang lain. Pada saat itulah menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengenalkan buku-buku bacaan.

Agar dongeng menarik dan pesan cerita dapat disampaikan dengan baik, mendongeng dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan membacakan buku dongeng bergambar, menggunakan peralatan seperti boneka tangan, dengan gaya bahasa dan gaya tubuh, atau dengan cara menggambar langsung.

Di zaman modern ini, dongeng  menghadapi tantangan berat untuk tetap tumbuh dan berkembang di masyarakat, serta beberapa tantangan untuk berinovasi terutama dalam cara penyajian untuk bersaing dengan cerita-cerita fiksi dari luar negeri. Selain itu tantangan tersebut juga datang dari derasnya arus informasi dan globalisasi yang membuat persaingan dongeng  yang ada di Indonesia dengan cerita luar negeri menjadi begitu ketat, banyak pula orangtua yang telah meninggalkan budaya mendongeng sebelum tidur yang sarat akan pelajaran akan nilai-nilai luhur dengan alasan sibuk, hal ini tanpa disadari sedikit demi sedikit telah membuat anak-anak lupa akan jati diri mereka. Pesan terakhir ditutup oleh Mba diena, “Bahwa harus meluangkan waktu bersama anak dengan bercerita dan harus dimanfaatkan serta dinikmati dan yakinlah dengan membacakan dongeng kita akan melihat ekspresi anak. Ayo kita mendongeng untuk anak!”

Salam damai,

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”