BINCANG SEJIWA EPISODE 20: “MENGUBAH DESA MARGINAL MENJADI DESA DUNIA LEWAT EGRANG”

BINCANG SEJIWA EPISODE 20
“MENGUBAH DESA MARJINAL MENJADI DESA DUNIA LEWAT EGRANG”
MINGGU, 11 OKTOBER 2020

 

Narasumber:

  • Farha Ciciek (Pendiri Komunitas Tanoker)
  • Ir. Suporahardjo, MSI (Pendiri Komunitas Tanoker)
  • Diena Haryana(Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A(Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator Yayasan SEJIWA)

 

Desa Ledokombo, yang awalnya merupakan desa marginal, kini telah berevolusi menjadi desa yang mendunia melalui egrang. Mba Ciciek dan Mas Supo merupakan dua orang tokoh yang menjadi penggagas desa ini. Beliau memulai perjalanannya sejak puluhan tahun lalu dengan mengajari anak-anak bermain permainan tradisional egrang. Hal inilah yang memberikan semangat terhadap kegiatan masyarakat dan membuat suatu perubahan sosial di sana, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, ibu-ibu, bapak-bapak, dan lansia secara bergotong-royong memberikan kontribusi dan mengembangkan usaha desa. Adanya sinergitas dari setiap elemen menjadi kekuatan luar biasa di Desa Ledokombo yang mengukuhkan seluruh masyarakat untuk melakukan hal-hal kreatif dan membaca tanda-tanda zaman berbasis kearifan lokal.

Daerah Desa Ledokombo termasuk ke dalam desa tertinggal yang mana pada awalnya cukup banyak anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya menjadi pekerja migran, namun seiring dengan adanya pergerakan, mulai terlihat perubahan yang positif. Mas Supo yang memiliki halaman rumah luas dan memiliki anak-anak yang masih kecil, mulai mencari ide bagaimana untuk mengembangkan potensi yang ada dan kemudian mengeksplor permainan-permainan masa kecilnya sehingga munculah ide permainan egrang. Mas Supo mengatakan bahwa “Kita berusaha untuk memuliakan desa damai, bagaimana tempat desa ini menjadi tempat pertemuan banyak orang dengan berbagai latar belakang.” (Suporahardjo)

Mas Supo dan Mba Ciciek mengatakan bahwa fungsi mereka adalah menjadi teman dekat, menyemangati, dan memfasilitasi warga sekitar.  Pendekatan dilakukan dengan melihat-melihat hal positif. Penggiat dan teman-teman di Tanoker pun juga sama, mereka merupakan kawan yang secara bersama melihat bagaimana orang-orang menemukan mimpi yang ingin mereka capai dan hal-hal positif yang ada di sekitarnya. Kemudian, apabila sudah menemukan hal positif yang ingin dicapai, Tanoker membantu membangun mimpi tersebut dan merancang bagaimana mimpi tersebut diwujudkan. Setelah berjalannya waktu, terbentuklah pertemuan rutin untuk memunculkan pengetahuan yang dilakukan sebulan sekali dengan berkumpul bersama membahas mimpi dan sharing bersama dengan tokoh hebat.

Pendekatan yang dilakukan Mas Supo dan Mba Ciciek untuk merangkul bersama mengajak anak-anak, remaja, ibu-ibu, dan lansia adalah dengan memfasilitasi anak-anak dengan cara bermain yang tidak main-main. Cara ini merupakan sesuatu yang coba dibangun bersama dan menghasilkan dampak yang luar biasa. Bermain yang tidak main-main ini tidak hanya berdampak pada anak-anak, namun pada setiap jenjang usia. Kemudian, semakin banyak perkembangan yang ada memunculkan setidaknya empat landasan yang menjadi acuan proses perubahan bersama secara gotong royong, yakni:

  1. Bermain yang tidak main-main
  2. Belajar yang menyenangkan
  3. Bersahabat dan bergembira
  4. Berkarya

Proses perjalanan permainan egrang yang menjadikan Desa Ledokombo menjadi kampung egrang mendunia dimulai dengan memunculkan perlombaan yang berhadiah dari berbagai permainan, salah satunya adalah egrang. Adanya perlombaan ini bertujuan untuk memunculkan ketertarikan anak-anak untuk berkumpul. Seiring dengan berjalannya waktu, ketika anak-anak sudah terbisa bermain egrang, perlombaan egrang menjadi primadona untuk mereka. Sesudah adanya perlombaan egrang, memunculkan berbagai perlombaan menggunakan egrang yang modifikasi. Hal ini kemudian yang memunculkan cikal bakal adanya festival egrang pertama pada tahun 2010. Kemudian muncul ide untuk membuat arena dan bagaimana permainan egrang dapat menjadi kebiasaan anak-anak. Aktivitas dan perlombaan egrang ini kemudian mulai dilirik oleh wartawan dan diliput. Selanjutnya, pada tahun berikutnya, festival dan perlombaan egrang diadakan lagi dan dijadikan sebagai acara tahunan yang mendapatkan ketertarikan oleh banyak orang, bahkan mendapatkan dukungan dari pemerintah. Pada festival egrang ke-4, pemerintah memberikan dukungan dengan memberikan piala bergilir dalam festival egrang.

Setelah adanya perubahan yang terjadi di Desa Ledokombo, memunculkan harapan baru yang mana sebelumnya migrasi menjadi satu-satunya solusi dan sekarang sudah menjadi opsi (adanya pilihan lain selain migrasi). Adanya revolusi harapan memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa mereka bisa hidup dengan lebih baik dengan keluarga di desa. Selain itu, adanya perubahan pandangan masyarakat yang awalnya melihat Desa Ledokombo sebagai desa yang kurang, kini telah dilihat sebagai desa yang positif dan penuh potensi.

Mas Doni sebagai pakar pendidikan karakter menyampaikan pandangannya terhadap Desa Ledokombo dan hal yang dilakukan oleh Mas Supo dan Mba Ciciek. Berikut ini merupakan pandangan Mas Doni “Indonesia sebenarnya adalah kebhinekaan itu tadi yang sebenarnya menjadi kekuatan. Nilai-nilai yang menjadi pengikat antara Jember dan dunia adalah nilai-nilai persahabatan,  persaudaraan, perdamaian, kolaborasi, dan gotong royong. Ini merupakan sesuatu yang indah dan gotong royong dalam kebhinekaan ini menjadi kekuatan di desa-desa lain. Yang dilakukan Mba Ciciek dan Mas Supo dapat menjadi inspirasi. Memberikan harapan, memberikan cipta-cipta yang baru, semangat hidup yang baru di tanahnya sendiri, banyak destinasi wisata, seperti wisata lumpur adalah tanah air, egrang adalah keseimbangan, dan bagaimana melibatkan banyak orang di situ, ini sebuah model pemberdayaan masyarakat dan proses transformasi  yang memang bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk kembali mencintai desa kita, menghargai kembali apa yang baik di desa kita, bahkan mulai dari hal yang sebelumnya menjadi museum.” (Doni Koesoema A)

Mba Diena sebagai pemerhati anak menyampaikan pandangannya terhadap hal yang dilakukan oleh Mas Supo dan Mba Ciciek. Berikut ini merupakan pandangan Mba Diena “Mas Supo dan Mba Ciciek berhasil untuk bisa mengajak anak-anak  mengeluarkan semua potensi yang sesuai dengan jiwa anak-anak, sehingga mereka tidak terlarut di dunia digital yang bisa membuat mereka teradiksi. (Diena Haryana)

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”

Lihat video lengkapnya di link berikut :

https://youtu.be/M0Fv6apDj-U