BINCANG SEJIWA EPISODE 26: “KETANGGUHAN ANAK YANG DIBANGUN DI RUMAH PIATU MUSLIMIN”

BINCANG SEJIWA EPISODE 26: “KETANGGUHAN ANAK YANG DIBANGUN DI RUMAH PIATU MUSLIMIN”
Minggu, 22 November 2020

Narasumber:

  • Anggraeni Prastiwi (Ketua Divisi Pengembangan Citra dan Kemitraan
  • Salsa Bila Rahmah (Anak Asuh Yayasan Rumah Piatu Muslimin)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator Yayasan SEJIWA)

 

Sejarah Berdirinya Rumah Piatu Muslimin

Mba Lala (Anggraeni Prastiwi) menjelaskan bahwa Rumah Piatu Muslimin diprakarsai oleh Ibu Siti Zahra Gunawan, yang juga merupakan salah satu pelopor di Kongres Perempuan. Kepedulian sosial Ibu Siti sangat tinggi sekali. Ketika dahulu beliau melihat banyak anak terlantar yang ditinggal ibunya, beliau terpikir untuk membuat sebuah yayasan. Dahulu pada masa sebelum kemerdekaan, sudah banyak panti asuhan namun panti asuhan tersebut untuk non muslim dan anak-anak Belanda.  Atas dasar tersebut, pada tanggal 10 Juli 1931 didirikan Yayasan Rumah Piatu Muslimin, sebelum Indonesia merdeka. Hingga saat ini, Rumah Piatu Muslimin mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, dan bahkan bantuan tersebut ber-regenerasi. Bantuan dari berbagai pihak itu bukan hanya donatur, tapi juga relawan.

Tentang Rumah Piatu Muslimin

RPM tidak hanya mengasuh anak-anak piatu, tetapi juga mengasuh anak-anak dengan latar belakang disfungsi keluarga. Anak yang di luar panti asuhan tetap tinggal bersama keluarganya, tetapi biaya sekolahnya dibantu oleh yayasan.

Untuk terus bertahan hingga saat ini, RPM menerima bantuan dari masyarakat dalam berbagai bentuk, tidak hanya dana, tapi juga sembako, fasilitas (perangkat belajar dan tidur) dsb. Selain itu, RPM juga memiliki divisi usaha ekonomi untuk menambah pemasukan yayasan dengan memproduksi dan menjual produk-produk hasil olahan dari anak-anak maupun pendamping di RPM. Dari hasil kelas memasak yang juga melibatkan anak-anak, RPM memproduksi dan menjual produk  nugget tahu, yang sudah dipasarkan di masyarakat. Selain itu, masyarkat sebagai donator juga masih menjadi sumber utama untuk pembiayaan operasional di ketiga unit RPM.

RPM punya satu program besar bernama  Pancer (Panti Cerdas) yang betujuan untuk mencerdaskan semua pihak, termasuk anak dan pihak eksternal. Salah satu program Pancer untuk anak-anak di antaranya adalah mengajarkan cara berwirausaha terutama anak-anak kelas 12 yang akan lulus dari panti.

Divisi dan Unit Pelayanan Sosial di RPM

RPM memiliki beberapa divisi dan unit pelayanan sosial yang masing-masing melakukan tugas dan aktifitas sosial. Ketiga divisi tersebut di antaranya:

  1. Divisi Pengembangan Citra dan Kemitraan

Tugas di divisi ini terkait dengan citra dan kemitraan yayasan. RPM bisa bertahan sampai saat ini karena selalu berusaha untuk mempertahankan dan menaikan citra dan selalu membangun kemitraan dengan banyak pihak untuk mengerjakan kampanye dan promosi sosial.

  1. Divisi Unit Kesejahteraan Sosial.

Divisi ini memegang tiga unit, di antaranya:

a. Panti Asuhan Rumah Piatu Muslimin. Panti asuhan ini terletak di wilayah Senen, Jakarta Pusat. Saat ini jumlah anak di dalam panti 64 anak, dan jumlah di non panti asuhan sebanyak 147 anak.

b. Wisma Tuna Ganda. Wisma ini merupakan panti disabilitas ganda pertama di Indonesia yang berdiri tahun 1975. Saat ini, wisma tersebut merawat 28 orang dengan disabilitas ganda.

c. Perguruan Islam Muslimin. Perguruan Islam Muslimin merupakan sekolah-sekolah yang ada di bawah Rumah Piatu Muslimin. Hingga saat ini ada dua sekolah, yaitu SD Swasta Islam dan SMP terbuka yang menginduk pada SMPN 216 Jakarta. Siswanya adalah anak-anak tidak mampu yang berada di sekitar Perguruan Islam Muslimin

3. Divisi Usaha Ekonomi Produktif.

Divisi ini mendukung kegiatan operasional di RPM dengan memproduksi dan memasarkan berbagai produk ekonomi produktif. Usaha ekonomi produktif ini dikelola yayasan.

Cara Menanamkan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab Pada Anak di RPM

Cara mendidik anak di RPM sistemnya sama seperti di keluarga, sehingga suasana keluarga tidak dihilangkan. RPM selalu membuat peraturan tertentu dengan berdiskusi dengan anak dan disepakati oleh anak. Anak diajarkan bertanggung jawab atas tindakannya. Seringkali orang tua membuat peraturan tanpa melibatkan anak. Ketika berdiskusi dengan anak, kita akan lebih paham mengenai perasaan anak dan anak akan merasa lebih dimengerti. Kakak pengasuh juga berperan untuk melerai pertengkaran anak-anak. Di setiap kamar ada kakak pendamping, yang bertugas untuk mendampingi dan menjadi seperti sebuah keluarga.

Peran RPM dalam Memupuk Cita-Cita Anak

RPM memiliki banyak relawan dari beragam latar belakang. RPM juga memiliki banyak kegiatan untuk memberikan banyak wawasan sebagai bekal anak-anak nantinya. RPM mencoba memperkenalkan kepada anak bahwa mimpi itu beragam dan anak bebas memilih mimpi yang ingin dicapainya. RPM juga selalu berusaha untuk mengedepankan diskusi dengan anak-anak mengenai cita-cita mereka. Selain itu, RPM juga bekerja sama dengan lembaga untuk melihat karakter dan minat anak, juga dibarengi dengan praktik-praktik untuk melihat minat mereka. Pendamping di RPM selalu menyampaikan kepada anak-anak, bahwa anak tidak boleh merasa berbeda hanya karena mereka anak panti. Mereka disini bersama-sama dan memiliki banyak kakak, ibu, ayah, dan adik. Anak-anak tidak perlu takut untuk terus membekali dirinya dengan banyak hal positif sehingga ketika keluar dari panti mereka bisa menghadapi dunia dengan percaya diri.

Cerita Pengalaman dari Salsa, Anak Asuh RPM

Salsa merupakan salah satu anak asuh di RPM. Pada awalnya Salsa bersekolah SD di Panti Asuhan Muslimin. Salsa ingin masuk ke asrama RPM, namun pada awalnya ia tidak diizinkan oleh ayahnya karena ayahnya tidak tega untuk melepas anaknya tinggal di asrama. Namun, setelah beberapa saat dan setelah diskusi dengan ayahnya, akhirnya ia diizinkan diizinkan untuk tinggal di asrama. Salsa ingin masuk ke asrama RPM karena ia tidak mau membebani ayahnya dan agar ia bisa banyak belajar di RPM. Kegiatan sehari-harinya yang dilakukan anak-anak di RPM di antaranya adalah bangun pagi, sholat subuh, piket, mandi pagi, senam, sarapan, dan sekolah. Selain itu, di RPM juga ada ekstrakulikuler untuk mengembangkan minat dan bakat anak, seperti ekstrakulikuler menari, memasak, bahasa inggris, bahasa korea dsb.

Mengangkat Harga Diri Anak di dalam Panti

Mba Diena menjelaskan bahwa tugas orang dewasa adalah membuat anak-anak merasa berharga. Rasa berharga akan menjadi motivator untuk membuat anak bergerak dan kreatif untuk menjadi lebih dari yang sekarang dan agar mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dan lingkungan mereka. Orang tua memiliki perjuangan untuk menamkan harga diri pada anaknya. Harga diri harus dibangun dalam keseharian lewat komunikasi, kasih sayang, pujian dsb. Orang tua harus menghargai hal baik yang anak lakukan, dan menegur ketika mereka lupa akan hal-hal baik tersebut. Untuk anak-anak yang tinggal di panti, disinilah pentingnya peran para pengurus RPM yang membentuk harga diri anak-anak di panti. Ini menjadi moda lbagi anak untuk membangun ketaguhan mereka.

Pendidikan Karakter di RPM Menurut Mas Doni

Menurut pandangan Mas Doni, pembentukan karakter di RPM ini sudah mengintegrasikan manajemen modern, bukan hanya karitatif atau mengandalkan donatur, tetapi sudah ada manajemen citra dan kemitraan, dan penguatan tambahan dari bagian panti-panti lainnya. Pembentukan karakter disini memperhatikan bagaimana individu dapat tumbuh secara utuh baik secara fisik, spiritual, psikologis dsb. Mas Doni melihat bahwa RPM merupakan panti yang sungguh-sungguh mempunyai komitmen membentuk karakter anak. Panti yang baik adalah panti yang tidak membuat anak manja, tetapi mengajarkan anak untuk mengembangkan tanggung jawabnya, dengan sistem sanksi yang sudah disepakati.

Peran Masyarakat dalam Membangun Karakter Anak di Panti

Menurut Mba Diena, banyak yang bisa kita lakukan untuk mendukung panti-panti untuk tumbuh dan semakin baik  melayani anak. Pada saat momen ulang tahun, kita bisa mengirimkan sesuatu kepada panti dan sama-sama makan dengan anak yatim piatu. Jika banyak keluarga melakukan itu, anak anak akan merasa bahwa mereka memiliki banyak keluarga dan banyak orang yang mencintai mereka. Ini bisa menjadi salah satu hal yang membangun harga diri anak. Ketika mereka belajar kebaikan-kebaikan itu, hal tersebut akan membangun rasa percaya diri mereka, dan mereka sadar bahwa di luar sana banyak orang-orang baik.

 

Untuk menyaksikan kisah lengkap dari Rumah Piatu Muslimin, Sahabat SEJIWA dapat menyaksikannya pada link berikut ini:

Yayasan SEJIWA

 

“Service for Peace”