BINCANG SEJIWA EPISODE 29: “MEMBENTUK KARAKTER MELALUI PENGALAMAN SEHARI-HARI”

BINCANG SEJIWA EPISODE 29: “MEMBENTUK KARAKTER MELALUI PENGALAMAN SEHARI-HARI”
Minggu, 13 Desember 2020

 

Narasumber:

  • Evy Anggraeny (Penulis Buku)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Yuniar Adelia (Staff Yayasan SEJIWA)

 

Awal Mula Tumbuhnya Ketertarikan untuk Menulis

Mba Evy merupakan seorang guru biologi dan juga penulis yang telah menuliskan dua buah buku mengenai pendidikan karakter. Kedua buku tersebut berjudul “Inspirasi  Praktik Baik Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Komunitas dan Inspirasi Praktik Baik Pendidikan Karakter Berbasis Kelas dan Komunitas”. Ketertarikan Mba Evy untuk menulis sudah dimulai sejak lama. Sejak kecil, orang tua Mba Evy sering memberikan bacaan-bacaan, seperti majalah anak-anak, koran dsb. Selain itu, ayahnya yang merupakan seorang guru dengan minat seni yang tinggi, dan juga ibunya yang gemar membaca membuat Mba Evy tertarik dengan kegiatan membaca dan menulis sejak kecil. Ibunya sering memberikan bacaan-bacaan yang baik, dan meminta Mba Evy untuk membaca dan menceritakan kembali buku yang telah dibacanya. Saat kecil Mba Evy juga sering mencatat isi berita di televisi, setelah itu ia membacakan kembali apa yang telah dicatat. Hal itu yang tanpa disadari membuat keinginan menulis itu terus tumbuh di dalam diri Mba Evy.

Lingkungan di sekitar Mba Evy menjadi salah satu dorongan untuk Mba Evy rajin membaca. Ketertarikan terhadap dunia penulisan juga dimulai dari sekolah, dimana saat itu Mba Evy membaca salah satu cerpen di sebuah majalah. Dari situ Mba Evy memiliki ketertarikan untuk bisa membuat sebuah tulisan seperti yang ada di majalah tersebut.

Pada dasarnya Mba Evy memang suka menulis puisi. Sejak SMP Mba Evy sudah memiliki banyak catatan-catatan hasil tulisannya. Sampai akhirnya menjadi guru, Mba Evy masih meneruskan kebiasaan menulisnya tersebut. Setiap kejadian yang dialami oleh Mba Evy dituliskan di sebuah buku. Setelah mengenal Mas Doni, Mba Evy juga mulai dikenalkan dengan pendidikan karakter. Dari situ Mas Doni memberikan motivasi bagi Mba Evy untuk menulis, hingga akhirnya terbitlah dua buku tersebut. Penulisan dua buku ini memerlukan waktu yang sangat panjang karena harus menuangkan kembali ingatan-ingatan, dan mencari lagi catatan-catatan. Penulisan buku ini juga dilakukan dengan banyak konsultasi dengan Mas Doni.

Beberapa Contoh Praktik Baik dalam Tulisan Mba Evy

  1. Program Memelihara Hewan di Sekolah

Tulisan-tulisan di buku yang Mba Evy tulis muncul ketika Mba Evy mengikuti pelatihan atau kunjungan ke sekolah-sekolah.  Di salah satu sekolah, Mba evy melihat ada satu sekolah yang memiliki tempat khusus untuk hewan. Dari situ Mba Evy berpikir, ternyata sekolah bisa mengajarkan para siswa untuk memelihara hewan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk rasa cinta terhadap lingkungan hidup, salah satunya makhluk hidup. Dari situ anak murid bisa diberikan tugas misalnya untuk memberi makanan, mengecek keadaan hewannya dsb. Hal ini bisa menjadi salah satu bentuk tanggung jawab anak, cinta kepada makhluk hidup, dan mengenal keanekaragaman satwa. Oleh karena itu, Mba Evy tergerak untuk menuliskan praktik baik ini di bukunya.

  1. Wall of Fame

Tulisan mengenai wall of fame  muncul ketika Mba Evy melakukan kunjungan ke salah satu sekolah swasta. Di sekolah tersebut, mereka memasang wall of fame yang berisikan pengumuman mengenai suatu kegiatan. Selain pengumuman, di wall of fame tersebut juga terdapat kolom apresiasi untuk siswa yang sudah terlibat di dalam suatu kegiatan. Hal ini merupakan bentuk apresiasi dari sekolah kepada anak yang aktif berkegiatan secara positif. Hal ini bisa memberikan motivasi anak untuk lebih bersemangat dalam berprestasi dan berkreasi, dan menumbuhkan rasa kepercayaan diri. Dari beberapa sekolah yang dikunjungi, belum semua sekolah memiliki wall of fame untuk siswa. Dari wall of fame ini, anak juga bisa belajar untuk mengapresiasi orang lain.

  1. Gerakan Pantikfoam

Ide gerakan ini bermula dari gereja katolik yang memiliki gerakan anti plastik dan strerofoam. Inti dari gerakan tersebut adalah bahwa kita tidak harus selalu menggunakan plastik. Di sekolah tempat Mba Evy mengajar, disediakan air minum dan anak-anak sehingga siswa bisa membawa tumbler mereka sendiri. Untuk makanan, anak-anak disarankan membawa tempat makan sendiri, dan ketika jajan mereka bisa menggunakan tempat makan tersebut, sehingga terjadi pengurangan penggunaan plastik. Beberapa sekolah yang pernah dikunjungi Mba Evy sudah memiliki program pengurangan plastik ini.

  1. Kantin Kejujuran Plus

Kantin kejujuran plus ini merupakann pengemebangan dari kantin kejujuran, dimana pada program ini lebih menanamkan tidak hanya mengambil barang lalu menaruh uang, tetapi ada hal  lain dari segi kepengurusan kantin mengenai rasa tanggung jawab dan integritas. Misalkan ada lima barang yang dijual, sudah keluar dua barang, tetapi uang yg masuk hanya satu barang. Maka hal tersebut akan ditelusuri. Tidak hanya kejujuran tetapi juga integritas kepemilikan kita terhadap kantin ini.

Tantangan dalam Proses Penulisan Buku

Beberapa tantangan yang Mba Evy sebutkan dalam proses penulisan buku di antaranya:

  1. Pembagian waktu

Tidak hanya menjadi seorang penulis, Mba Evy juga memiliki peran lainnya yaitu seorang guru dan seorang istri. Oleh karena itu, salah satu tantangan yang dihadapi dalam menulis adalah terkait pembagian waktu. Untuk menyiasati tantangan ini, Mba Evy biasanya sudah membuat jadwal untuk setiap kegiatannya. Pada hari Senin-Jumat, Mba Evy fokus untuk menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah, sedangkan pada weekend Mba Evy memberikan waktunya untuk me time dan juga waktu untuk menulis. Selain itu, ketika ada waktu senggang saat weekdays, Mba Evy juga berusaha memanfaatkan waktu tersebut untuk menuliskan hal-hal menarik yang dialaminya pada hari itu.

  1. Kemauan untuk menulis

Salah satu tantangan lainnya dalam menulis adalah ketika penulis cukup kesulitan untuk menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan. Ketika menemui kendala ini, biasanya Mba Evy berusaha untuk refreshing sejenak agar bisa kembali fokus untuk menulis, sehingga Mba Evy tidak terlalu memaksakan untuk menulis terus menerus. Menulis harus dilakukan dalam keadaan senang, karena jika perasaannya sedang tidak baik, maka ide-ide tersebut sulit untuk dituangkan.

Dukungan yang Diberikan Mas Doni sebagai Partner

Dukungan yang diberikan Mas Doni adalah dalam bentuk motivasi dan juga sebagai teman untuk saling berdiskusi dan berkonsultasi. Mas Doni selalu memberikan dukungan kepada Mba Evy untuk terus menulis. Selain itu, Mba Evy juga sering mendiskusikan dan berkonsultasi dengan Mas Doni terkait dengan tulisan yang telah ditulisnya. Mas Doni juga mengatakan bahwa buku ini sudah digagas sejak tahun 2016 dan telah selesai satu tahun yang lalu. Namun buku ini baru bisa dicetak tahun ini karena harus ada proses panjang di penerbit dan percetakan. Mas Doni berharap esensi dari buku ini bisa terus berlaku kapan pun dan untuk siapa pun.

Peran Orang Tua dalam Membangun Konsistensi Anak

Menurut Mba Diena, apa yang telah dilakukan oleh orang tua Mba Evy sejak kecil sangat mendorong minat dan bakat Mba Evy sebagai seorang penulis. Orang tua Mba Evy konsisten memperkenalkan buku kepada Mba Evy sejak kecil. Mba Evy juga diajak untuk merangkum, menuliskan, dan menyampaikan hasil bacaannya. Selain itu ayah Mba Evy juga telah memberi contoh sebagai tokoh yang tekun dan menikmati apa yang dilakukannya. Kedua orang tua melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan yang bermakna. Hal ini lah yang membuat anak tergerak untuk melakukan sesuatu yang disukainya.

 

Untuk mengetahui lebih lanjut kisah dari Mba Evy, Sahabat SEJIWA dapat menyaksikannya pada link di bawah ini:

Yayasan SEJIWA

 

“Service for Peace”