BINCANG SEJIWA EPISODE 31: “TOLERANSI DAN KEBERAGAMAN PADA REMAJA”

BINCANG SEJIWA EPISODE 31: “TOLERANSI DAN KEBERAGAMAN PADA REMAJA”
Minggu, 27 Desember 2020

 

Narasumber:

  • Keane Dylan Yennoto (Perwakilan murid SMA Kanisius)
  • Aryoga Pramadipa (Perwakilan murid SMA Al Izhar)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Koordinator  Yayasan SEJIWA)

 

Berdirinya RAGAMUDA

Pada tahun 2016, SMA AL Izhar memiliki fokus tahunan yaitu mencintai keberagaman, cinta Indonesia. Di tahun inilah, SMA Al-Izhar banyak melakukan kunjungan ke lembaga dengan lintas budaya, agama, dan sebagainya, salah satunya mengunjungi Salatiga, Jogja, SMA Santa Ursula, dan juga SMA Kanisius. Selanjutnya, SMA Al Izhar mengundang perwakilan OSIS dari sekolah-sekolah yang dikunjungi untuk berjumpa satu sama lain, saling berkenalan, beradapatasi, dan berdiskusi bersama. Hasil diskusi yang terjadi kemudian menghasilkan perbedaan dan juga persamaan antar masing-masing sekolah. Namun, persamaan yang muncul kemudian dikembangkan melalui pertemuan-pertemuan yang sifatnya formal maupun informal. Adanya diskusi yang terjalin antar sekolah ini memberikan rasa bangga tersendiri bagi guru. Guru melihat bahwa anak muda memiliki inisiatif dan mampu mengobservasi kondisi sekitarnya, yang mana pada saat itu banyak sekali hal-hal yang memunculkan perbedaan dan memecah belah persatuan. Sehingga, atas dasar inilah, anak-anak bersepakat untuk membentuk RAGAMUDA. Pada saat itu, pembentukan RAGAMUDA bertepatan dengan momen hari lahir Pancasila. Kegiatan-kegiatan yang dilakuakan seperti kampanye di media sosial, kegiatan rangkul dengan project-nya yaitu mengunjungi berbagai rumah ibadah, dan berbagai acara lainnya.

Pada tahun 2017 RAGAMUDA dibentuk sebagai pembuktian bahwa anak muda memiliki kesadaran terhadap isu-isu sosial yang sedang berlangsung, terutama mengenai isu toleransi dan keberagaman. RAGAMUDA dibentuk melalui kolaborasi oleh dua sekolah, yakni SMA Al Izhar yang mana merupakan sekolah Islam dan SMA Kanisius yang berlatar belakang Kristen. Hasil kolaborasi yang dibangun ini, salah satunya menghasilkan suatu kampanye atau gerakan bertema #PLURALISME, yang membuktikan bahwa anak muda sadar akan pentingnya keberagaman dan bagaimana melestarikannya demi keberlanjutan NKRI.

Kegiatan dan Proses Kolaborasi

Proses kolaborasi yang dilakukan oleh RAGAMUDA, salah satunya adalah gerakan #PLURALISME, berasal dari kata pluralisme yang berarti beragam. Pada tanggal 17 Agustus lalu, SMA Al Izhar dan SMA Kanisius juga melakukan kolaborasi dengan mengadakan Pesta Rakyat RAGAMUDA. Dalam acara ini, anak muda masih  berlomba dan berpartisipasi secara daring walaupun sedang ada masa pandemi, seperti melakukan perlombaan debat, game online, dan film pendek. Walaupun tidak bertatap muka langsung dalam pesta rakyat ini, esensi dalam memaknai dan dapat merayakan hari kemerdekaan merupakan suatu hal yang perlu tetap dilestarikan dan dijaga, sehingga spirit kemerdekaan tidak padam. Selain gerakan #PLURALISME dan Pesta Rakyat RAGAMUDA, kolaborasi yang dijalankan tahun 2020 adalah gerakan dengan berkolaborasi dan diisi oleh 80 sekolah di Jabodetabek, yakni gerakan “KITA TETAP BERKARYA”. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak seluruh anak muda se-Jabodetabek bahwa walaupun kita sedang menjalani masa pandemi, anak muda masih dapat tetap berkarya dan memberikan usaha maksimal untuk mendapatkan segala sesuatu yang ingin dicapai. Gerakan “KITA TETAP BERKARYA” memberikan maka tersendiri kepada anak-anak yang masuk ke dalam gerakannya, bahwa mereka mempunyai hasil akhir yang sama sehingga dapat berkolaborasi dan bekerja bersama membentuk suatu karya yang mengundang 80 sekolah dengan latar belakang yang berbeda se-Jabodetabek.

Adanya masa pandemi tidak menyurutkan semangat bagi para RAGAMUDA, momen pandemi ini diisi oleh anak muda untuk terus berkarya walaupun seluruh kegiatannya dilakukan melalui daring. Menurut Yoga, pandemi memberikan peluang yang tidak biasa dibandingkan saat kondisi normal, yaitu apabila pandemi tidak terjadi, mungkin saja RAGAMUDA tidak terpikirkan untuk mengundang 80 sekolah se-Jabodetabek untuk melalukan gerakan “KITA TETAP BERKARYA”.

Menurut Yoga, untuk menjalani kegiatan dan berkolborasi bersama dibutuhkan motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri. Adanya motivasi dalam diri, maka kegiatan yang dilakukan akan terasa menyenangkan. Apapun rintangan dan masalah yang dihadapi, Yoga dan anak muda lainnya akan tetap menjalankan kegiatannya. Hal ini karena kolaborasi bersama yang menyenangkan dapat membuat orang yang di dalamnya merasa nyaman.

Menurut Keane, dalam menjalani kegiatan di RAGAMUDA, perasaan cemas tentu ada. Perasaan ini terjadi karena kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan baru dan pertama yang mungkin saja akan mendapatkan penolakan dan gagal. Namun, dengan melalui proses diskusi bersama dan kemudian mendapatkan inti-inti ide serta tujuan akhir, Keane menjadi bangga. Kebanggaan yang dirasakan karena mereka dapat merangkul teman-teman se-SMA dan menginspirasi mereka dalam kegiatan “KITA TETAP BERKARYSA”.

Tantangan Menjalani RAGAMUDA

Isu keberagaman dan menyuarakan keberagaman mungkin kurang populer dikalangan anak muda saat ini, namun RAGAMUDA yakin bahwa apabila hal ini dilakukan atas dasar keinginan diri sendiri dan bukan dari pihak lain, maka kerja sama di antara anak muda dapat menghasilkan suatu kolaborasi yang bermakna dan apa yang disuarakan akan sampai kepada masyarakat. Kerja sama yang dilakukan oleh Keane dan Yoga juga merupakan kerja sama pertama yang dilakukan. Kerja sama yang dilakukan oleh kedua sekolah ini juga tidak selalu berjalan mulus, ada perbedaan pandangan dan cara kerja yang berbeda. Namun, adanya perbedaan ini tidak membuat mereka terpecah belah, setelah mereka berdiskusi dan berkolaborasi bersama, mereka akhirnya bisa menyatukan suara dan menjalankan kegiatan dengan lancar.

Dampak RAGAMUDA Bagi Anak Muda

Banyak hal yang terjadi kepada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai pihak. Perbedaan yang dirasakan justru membuat anak ingin menjadi lebih tahu stau sama lain dan ingin melakukan kerja sama. Jiwa anak-anak murni, dimana mereka ingin saling respect dan menjalankan banyak kerja sama satu lain. Adanya modal kesadaran yang dimiliki anak muda akan menjadi bekal bagi mereka untuk berkarya ketika kelak mereka akan menjadi pemimpin. Nilai-nilai luhur ini yang perlu ditingkatkan untuk pengayaan karakter yang luar biasa. Apabila kita menguatkan nilai-nilai ini (saling respect, kerja sama, berempati, kerja sama, saling mendengarkan satu sama lain, dan saling mengisi) bisa membuat mereka antusias.

Peran Orang Tua untuk Penguatan Karakter Anak Terkait Keberagaman

Orang tua merupakan pendidik yang utama dan pertama yang memiliki pengaruh luar biasa kepada anak. Orang tua dapat melalukan banyak hal kepada anak, seperti misalnya saat ini ada Profil Pelajar Pancasila yang dapat menjadi bahan diskusi antara orang tua dan anak; anak-anak perlu mengetahui kenapa mereka menjalani kehidupan yang beragam dan kenapa kita sebagai bangsa harus bersatu. Orang tua perlu memberikan gambaran besar kepada anak mengenai dunia, bahwa dunia terdiri dari bangsa-bangsa yang perlu saling bekerja satu sama lain untuk membangun kedamaian dan untuk melakukan dan merawat lingkungan hidup. Kedua hal ini penting karena sumber daya alam yang sudah mulai terus berkurang dan bagaimana masyarakat mengelolanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Adanya kolaborasi dan kerja sama yang dilakukan anak bangsa menjadi hal penting untuk mencapai keadilan dan bahwa seluruh bangsa di dunia ini harus sejahtera. Hal inilah yang menjadikan keberagaman menjadikan kunci agar kita semua hidup dalam kedamaian dan tetap menolong diri untuk sejahtera satu sama lain.

Peluang Replikasi Seperti RAGAMUDA Bagi Sekolah Lain

Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan oleh sekolah, yaitu budaya sekolah yang menghargai keberagaman dan kebhinekaan, peran orang dewasa di sekolah, dan keterbukaan anak-anak muda di sekolah. Pendidikan Kebhinkeaan dan Keberagaman sangat tergantung dari sistem dan budaya sekolah. Sistem dan budaya sekolah ini dibuat oleh warga atau komunitas sekolah. Oleh karena itu, untuk membangun iklim keberagaman dan kebhinekaan ini kunci utamanya terdapat pada kehadiran orang-orang dewasa di sekolah, mulai dari guru, kepala sekolah, dan orang tua. Selain itu, peran dan kerja sama dari orang tua juga sangat dibutuhkan agar dapat mendukung nilai-nilai yang diajarkan oleh sekolah. Hal ini kemudian yang membuat budaya di sekolah, peran orang dewasa di sekolah, dan keterbukaan anak-anak muda di sekolah menjadi tiga hal yang dapat menumbuhkan nilai-nilai keberagaman dan kebhinekaan pada anak.

 

Untuk kisah lebih lengkap dari RAGAMUDA, Sahabat SEJIWA dapat menyaksikannya pada link berikut:

 

Yayasan SEJIWA

Service for Peace