BINCANG SEJIWA EPISODE 36: “MEMAKNAI HIDUP SEBAGAI IBU TUNGGAL”

BINCANG SEJIWA EPISODE 36: “MEMAKNAI HIDUP SEBAGAI IBU TUNGGAL”
Minggu, 31 Januari 2021

 

Narasumber:

  • Maureen Hitipeuw (Pendiri Single Moms Indonesia)
  • Jentina Pakpahan (Anggota & Relawan Single Moms Indonesia)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Officer)

 

Latar Belakang Berdirinya Single Moms Indonesia

Komunitas Single Moms Indonesia merupakan komunitas atau kelompok dukungan bagi para ibu tunggal di Indonesia. Single Moms Indonesia pertama kali didirikan oleh Maureen Hitipeuw pada 8 September 2014. Berdirinya Komunitas Single Moms Indonesia ini dilatarbelakangi dari keinginan Mba Maureen untuk memiliki rumah aman sekaligus komunitas yang bisa saling menguatkan khusus untuk ibu tunggal di Indonesia. Sebelumnya Mba Maureen telah mencari komunitas khusus untuk ibu tunggal di Indonesia, tetapi saat itu ia hanya menemukan komunitas ibu tunggal yang berbasis di luar negeri.

Satu momen penting yang membuat Mba Maureen memutuskan untuk mendirikan Single Moms Indonesia, adalah ketika ia diundang pada acara launching buku antalogi tentang ibu tunggal. Dari acara tersebut, Mba Maureen terpikir akan sangat baik jika ada komunitas khusus untuk ibu tungga di Indonesia, agar mereka memiliki tempat untuk bisa saling berbagi, menguatkan, tanpa dihakimi. Oleh karena itu, Mba Maureen memutuskan untuk membentuk Komunitas Single Moms Indonesia dengan mengajak beberapa temannya yang juga merupakan  ibu tunggal. Saat ini anggota Single Moms Indonesia sudah mencapai 4900 anggota.

Kisah Mba Jentina Bergabung dengan Single Moms Indonesia

Mba Jentina menjadi ibu tunggal sejak tahun 2017. Suami Mba Jentina meninggal dunia karena kanker. Sejak tahun 2017  hingga awal tahun 2019, Mba Jentina merasakan berjuang sendirian seteah kepergian suaminya. Saat itu Mba Jentina biasa mengeluarkan emosinya melalui menulis di Facebook. Saat itu Mba Jentina penasaran, apakah ada komunitas untuk ibu tunggal di Indonesia untuk bisa sharing satu sama lain, hingga akhirnya Mba Jentina menemukan komunitas Single Moms Indonesia melalui pencarian di Facebook. Pada 23 Februari 2019, Mba Jentina mendaftarkan diri menjadi member di Single Moms Indonesia Fanpage. Setelah bergabung dengan Single Mom Indonesia, Mba Jentina merasakan adanya kedekatan secara emosional dengan para anggota di SMI. Sejak saat itu, Mba Jentina merasa seperti mendapatkan keluarga baru.

Tantangan yang Dihadapi Single Moms

Berdasarkan survey di komunitas, Mba Maureen memaparkan beberapa tantangan terbesarnya yang dihadapi ibu tunggal, di antaranya adalah:

  1. Tantangan finansial.

Ibu tunggal harus menjadi tulang punggung keluarga, sekaligus mengurus anak. Jika sebelumnya suami bisa memberikan dukungan finansial kepada keluarga, maka saat menjadi ibu tunggal, mereka harus menjadi penyokong utama kondisi finansial keluarga mereka.

  1. Tantangan emosional .

Masing-masing anggota di Single Moms Indonesia datang dengan membawa traumanya dan luka batinnya masing-masing. Ibu tunggal dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu ibu tunggal karena suaminya meninggal, ibu tunggal karena bercerai, dan single moms by choice. Ibu tunggal yang suaminya meninggal harus menghadapi tantangan bagaimana mereka harus berdamai dan menerima takdir bahwa suaminya meninggal. Ibu tunggal yang bercerai harus menghadapi bagaimana mereka menerima bahwa pernikahannya telah berakhir. Dan single moms by choice juga harus menerima bagaimana harus bangkit ditengah tantangan yang berat.

Single Moms Indonesia Sebagai Sistem Pendukung untuk Ibu Tunggal

Sebagai rumah teduh, Single Moms Indonesia sebisa mungkin menciptakan ruang yang nyaman dan aman bagi para ibu tunggal di Indonesia, dimana para anggotanya saling menguatkan. Adanya Single Moms Indonesia diharapkan dapat memberikan  wadah bagi para ibu tunggal untuk saling bercerita, dan bertanya tanpa dihakimi. Selain itu,program-program di Single Moms Indonesia juga dilakukan untuk membantu proses healing para anggotanya. Kegiatan emotional healing biasanya  banyak bekerja sama dengan para akhli seperti psikolog, life coach dsb.. Selain itu, ada juga kegiatan/program pemberdayaan untuk menambah skill, seperti pengelolaan keuangan, capacity building dsb.

Mba Jentina menjadi ibu tunggal karena suaminya meninggal dunia karena kanker.. Peristiwa ini menjadi trauma tersendiri bagi Mba Jenttina, dimana ada fase dimana ia merasakan kesepian karena tidak memiliki tempat bersandar setelah suaminya meninggal. Ia juga harus berjuang seorang diri memenuhi semua kebutuhan. Secara emosi, Mba Jentina harus menghadapi masalah finansial dan masalah dalam menghadapi publik. Hingga saat ini, stigma terhadap janda, baik karena bercerai maupun suaminya meninggal, masih sangat kental di masyarakat. Adanya stigma ini membuat Mba Jentina merasa kurang nyaman. Setelah bergabung dengan Single Moms Indonesia, Mba Jentina sadar bahwa ia tidak mengalami hal ini sendirian. Disanalah Mba Jentina bertemu dengan anggota lainnya yang saling menguatkan.

Selain mendapatkan dukungan dari anggota lainnya, di Single Moms Indonesia juga terdapat program capacity building, sehngga ibu tunggal bisa membuat dirinya berdaya, dan lama kelamaan bisa menjadi penawar dari luka batin yang sebelumnya dimiliki. Dengan adanya program-program capacity building, akhirnya para tunggal ini mampu menggeluti passionnya masing-masing.

Ibu Tunggal Harus Tetap Tegar untuk Melindungi Anak

Menurut Mba Diena, anggota Single Moms Indonesia merupakan para ibu yang sangat tegar. Kenyataan bahwa mereka mencari support system, menunjukan bahwa mereka ingin menjadi lebih baik dari apa yang mereka rasakan sebelumnya. Hal ini juga menunjukan kemampuan  para ibu tunggal untuk keluar dari masalah mereka. Mba Diena menambahkan bahwa yang menjadi masalah pada para ibu tunggal adalah ketika mereka terlalu terganung pada pasangan mereka. Jika terjadi realita diluar dugaan (pasangan meninggal, cerai dsb), hal ini justru akan memberatkan mereka. Ketika mereka dihadapkan pada kesendirian, perempuan mau tidak mau harus siap untuk tetap bertahan demi anak. Hal tersebut bisa mejadi luka batin, dan anak-anak  dapat terdampak karena hal tersebut. Oleh karena itu, kita dapat menganggap pasangan hidup ibarat icing on the cake. The cake itu adalah diri kita bersama dengan passion-passion kita, dan pasangan hidup jangan dijadikan pegangan 100%, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai harapan, kita masih bisa tetap tegar bertahan.

Selain itu hal yang perlu dilakukan oleh para ibu tunggal adalah dengan menciptakan hubungan yang berarti dengan anak-anak mereka. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat perencanaan dalam satu minggu akan melakukan hal apa bersama dengan anak. Setiap waktu bersama anak, adalah waktu yang bahagia. Cara untuk menciptakan waktu yang bahagia tersebut adalah dengan: 1) melakukan hal yang sama-sama disenangi oleh anak dan orang tua, 2) selalu hadir dan memahami anak dalam kondisi apapun.

Peran Masyarakat untuk Menghapuskan Stigma Ibu Tunggal

Menurut Mas Doni, ibu tunggal memikul beban yang luar biasa, diantaranya adalah stigma masyarakat, berjuang dengan dirinya sendiri, bertahan dengan kondisi finansial, dan mengasuh anak. Ibu tunggal dengan segala kemampuannya, harus bisa berjuang sendiri dalam memulihkan luka batin yang dialami baik akibat perceraian ataupun kematian pasangan. Selain itu, peran sebagai orang tua dan juga tulang punggung dalam keluarga harus dipenuhi. Ditambah lagi dengan adanya stigma di masyarakat terhadap ibu tunggal, hal ini tentunya menambah beban yang harus dihadapi oleh ibu tunggal dalam kesehariannya.

Oleh karena itu, peran masyarakat dalam segala lapisan sangatlah penting untuk menghilangkan stigma terhadap ibu tunggal. Kegiatan-kegiatan sharing kepada masyarakat dapat menjadi salah satu langkah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai ibu tunggal, sehingga stigma tersebut dapat berkurang.  Pendidikan karakter adalah dimana kita membangun sebuah dunia tanpa diskriminasi dan stigma, sehingga setiap orang bisa bertumbuh dan berkembang, keluarga bisa diharagai potensi dan sumbangsihnya, termasuk ibu tunggal bisa dihormati hak-haknya sebagai bagian dari masyarakat. Semua aspek masyarakat harus bisa paham dan menghargai hal ini.

 

Untuk menyaksikan kisah lengkap dari Single Moms Indonesia, Sahabat SEJIWA dapat menyaksikannya pada video berikut:

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”