BINCANG SEJIWA EPISODE 44: IBU RUMAH TANGGA YANG TEGAR MELAYANI ANAK-ANAK BERMASALAH

BINCANG SEJIWA EPISODE 44
IBU RUMAH TANGGA YANG TEGAR MELAYANI ANAK-ANAK BERMASALAH
MINGGU, 11 APRIL 2021

Narasumber :

  • Ekasari Widyati (Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Keluarga)
  • Ai Nurlatifah Khalid (Konselor/Pendamping Korban UPTD PPA Prov Jabar)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Program Coordinator SEJIWA)

 

Bincang SEJIWA Episode 44 menghadirkan Ibu Eka Widyati dan Ibu Ai Nurlatifah. Ibu Eka merupakan ibu rumah tangga yang juga aktif sebagai pegiat keluarga, sedangkan Ibu Ai merupakan Pendamping Korban di Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat. Ibu Eka dan Ibu Ai bersama-sama menangani dan melayani anak-anak yang bermasalah.

Peran Bu Ai dan Bu Eka dalam Menghadapi Anak-Anak Bermasalah

Ibu Ai merupakan konselor/pendamping korban di UPTD PPA (Unit Pelaksana teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak) Provinsi Jawa Barat. UPTD PPA berada di bawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Fungsi UPTD PPA adalah untuk pengaduan masyarakat, penjangkauan korban, pengelolaan kasus, penampungan sementara, mediasi, pendampingan korban dsb.

UPTD PPA merupakan perpanjangan dari amanat UU Perlindungan Anak, dimana salah satunya adalah pemenuhan anak terhadap pendidikan. UPTD PPA bekerjasama dengan Kerlip sebagai mitra dari bidang pendidikan. Saat ini UPTD PPA banyak melakukan pelayanan dalam ranah proses hukum, pendampingan psikologis, terutama korban kekerasan terhadap anak.

Bu Eka dan Bu Ai bisa saling mengenal satu sama lain saat mendapatkan tugas yang sama untuk menangani anak SMP yang mengalami masalah pada tahun 2016. Siswi SMP tersebut harus terpaksa keluar dari sekolah karena permasalahan tersebut. Bu Ai dan timnya dari UPTD PPA mendampingi korban yang mengalami masalah secara psikologis, sedangkan Bu Eka dari Kerlip membantu memperjuangkan anak tersebut untuk tetap mendapatkan pendidikan.

Hasil yang didapatkan dari proses panjang tersebut adalah, siswi SMP tersebut masih bisa bersekolah dengan metode homeschooling dan dapat mengikuti ujian kelulusan. Saat ini, anak yang didampingi oleh Bu Eka dan Bu Ai dapat kembali menata masa depannya yang cerah, dan saat ini sedang berkuliah di jurusan kedokteran. Dari kasus ini kita semua bisa belajar bahwa anak bisa melakukan kesalahan, tapi jika ia diberi kesempatan, masa depannya bisa lebih baik lagi.

 

Pendekatan Kepada Anak-anak Bermasalah

Hal yang utama dalam melakukan pendekatan kepada anak yang bermasalah adalah mau mendengarkan. Pada saat anak merasa kita mendengarkan dia, maka otomatis anak akan lebih terbuka. Tapi jika sejak awal kita sudah menghakimi dan tidak memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan, pasti anak tidak akan terbuka. Bu Eka melihat bahwa anak-anak memiliki kecenderungan untuk terus mencari dan mencoba hal-hal baru. Dalam proses pencarian itu, orang tua dan guru harus masuk pada anak-anak sebagai teman, berusaha memahami dan masuk ke dalam pikiran mereka. Pada saat kita masuk ke pikiran mereka, proses selanjutnya akan menjadi lebih mudah.

 

Peran Orang Tua Ketika Anak-Anak Bermasalah

Orang tua memiliki tanggung jawab ketika anak mengalami masalah. Ketika permasalahan yang dihadapi anak sudah masuk ke wilayah yang cukup mengkhawatirkan, maka pemberian tindakan kepada anak tidaklah cukup dilakukan. Kita juga perlu melihat dari sisi orang tuanya, apakah ada masalah-masalah lain yang bisa menempatkan anak tersebut di dalam masalah yang ia hadapi. Ketika terdapat masalah pada anak, maka pendekatan yang dilakukan bukan hanya pada anaknya saja, tetapi juga pada orang tuanya untuk mengetahui akar masalah yang ada.

Beberapa masalah yang dihadapi anak justru sumbernya bukan dari anak itu sendiri, tapi dari orang tua dan sistem. Beberapa contohnya seperti orang tua yang tidak bisa membayar SPP anaknya, dan anak harus dikeluarkan dari sekolah. Ini merupakan masalah dari orang tua dan pihak sekolah, sehingga orang dewasa lah yang justru harus duduk bersama dan menyelesaikan masalah. Dari orang tua harus mengembangkan perspektif penyelesaian masalah dengan perspektif etis, dengan memahami anak secara bermartabat dan menyadari bahwa anak memiliki hak.

 

Ketimpangan Gender dan Penyelesaian Masalah pada Anak

Beberapa kasus yang melibatkan antara anak laki-laki dan perempuan, sebagian besar perempuan justru yang menerima sanksi, sedangkan laki-lakinya tidak menerima sanksi. Pada salah satu kasus yang dipaparkan oleh Bu Eka, ketika ada permasalahan anatara siswa laki-laki dan siswi perempuan, justru siswi perempuan lah yang dikeluarkan dari sekolah. Hal ini menunjukan bahwa tidak semua ekosistem di sekolah mengerti mengenai hak anak. Hak anak adalah hak yang diberikan pada anak apapun kondisinya. Masih ada pihak-pihak yang melihat bahwa kesalahan yang dilakukan anak tidak terampuni, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Semua pihak perlu menyadari bahwa kesalahan merupakan hal yang manusiawi, dan manusia harus diberi kesempatan untuk menata kembali kehidupannya.

Terkait bias gender, sering kali perempuan menjadi korban. Pendidikan karakter harus menjadi komitmen di ekosistem pendidikan. Anak-anak melakukan kesalahan mungkin karena mereka tidak ada yang mendampingi, tidak tahu dan tidak paham akan konsekuensi dari perbuatannya. Fokus dari setiap proses pendidikan adalah sebuah transformasi perubahan. Kita bisa melihat bahwa anak mungkin bisa melakukan kesalahan, tapi justru pendidikan lah yang harusnya memiliki peran untuk mengubah anak dari keterpurukan untuk bangkit menuju masa depannya.

 

 

Sahabat SEJIWA dapat menyaksikan kisah lengkap dari Bu Eka dan Bu Ai dalam melayani anak-anak bermasalah pada link berikut:

 

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”