BINCANG SEJIWA EPISODE 50: PANDANGAN ANAK MUDA MILENIAL TERKAIT PENANAMAN KARAKTER MELALUI PENGASUHAN ORANG TUA

BINCANG SEJIWA EPISODE 50
Pandangan Anak Muda Milenial Terkait Penanaman Karakter melalui Pengasuhan Orang Tua
Minggu, 30 Mei 2021

Narasumber:

  • Afriyani Rahmawati (Mahasiswi UNJ Semester 8)
  • Meissy Okasari (Mahasiswi UNJ Semester 8)
  • Doni Koesoema (Pakar Pendidikan Karakter)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)

Dipandu oleh Elsya Sakillah (Program Officer)

 

Pola Pengasuhan Orang Tua Afriyani dan Meissy

Setiap orang tua tentunya memiliki cara yang berbeda-beda dalam mendidik, membesarkan, dan mengasuh anak-anaknya. Pada Bincang SEJIWA episode 50 ini, terdapat dua pembicara muda yang membagikan pengalaman mereka dalam mendapatkan pendidikan dan pengasuhan dari orang tua mereka sehingga mereka tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka saat ini. Meissy dibesarkan dan dididik oleh orang tuanya dengan selalu memberikannya penjelasan dan alasan atas segala sesuatu yang harus dilakukan olehnya. Misalnya ia diajarkan untuk selalu menjaga kebersihan, agar ia paham mengapa harus melakukan hal tersebut, maka orang tuanya menjelaskan alasan pentingnya menjaga kebersihan. Selain itu orang tuanya juga selalu memberikan contoh perbuatan yang baik untuk dilakukan, misalnya orang tuanya selalu langsung mencuci piring mereka ketika selesai makan. Dengan melihat contoh yang diberikan oleh orang tuanya, lama kelamaan Meissy meniru perbuatan orang tuanya sehingga hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Dalam pengasuhannya, kedua orang tua Meissy memberikan kebebasan kepadanya dan tidak banyak menuntut ia untuk mencapai sesuatu. Ia dibebaskan untuk mengambil keputusan apapun yang ia yakini selama sadar dan siap untuk bertanggung jawab atas keputusannya.

Seperti Meissy, Afri juga dididik oleh orang tuanya salah satunya melalui contoh perbuatan sehari-hari. Seperti misalnya saat Afri berumur 4-5 tahun, ia melihat orang tuanya yang berwirausaha untuk menghidupi keluarganya. Dengan melihat perjuangan kedua orang tuanya dan juga sering ikut bersama mereka ketika berjualan, ia belajar menjadi orang yang bisa berinisiatif untuk berjualan juga, belajar bernegosiasi, dan juga belajar untuk bisa memasarkan produknya. Afri juga menceritakan bagaimana orang tuanya menerapkan komunikasi yang baik dan selalu membuka ruang untuk berdiskusi di dalam keluarganya sebagai upaya pemecahan masalah. Setiap kali ada suatu isu yang melibatkan seluruh anggota keluarga, orang tua Afri selalu melibatkan ia dan saudara-saudaranya dalam diskusi. Orang tuanya menyampaikan permasalahan apa yang sedang terjadi, latar belakangnya, dan apa langkah yang mereka rencanakan untuk dilakukan selanjutnya. 

Dengan komunikasi terbuka seperti ini, Afri sangat bersyukur karena ia bisa mengetahui kondisi apa yang terjadi di keluarganya dan belajar untuk memahami serta membantu memberikan solusi menurut perspektifnya sebagai seorang anak. Hal ini membuat Afri belajar bagaimana permasalahan di kehidupan yang sebenarnya serta belajar bagaimana caranya mencari solusi atas permasalahan yang ada. Pola komunikasi terbuka dan asertif seperti ini juga orang tuanya terapkan dalam pengambilan keputusan oleh anak-anaknya. Salah satu contohnya adalah ketika Afri hendak membuat keputusan untuk pendidikannya, dimana ia menceritakan dan mengungkapkan perasaannya, ingin sekolah dimana dan apa alasannya, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Kemudian orang tuanya membebaskan pilihannya asalkan Afri bisa maksimal dan nantinya dapat memberikan manfaat bagi orang banyak. Orang tuanya mendengarkan ketika diskusi, memberikan arahan, dan memberikan gambaran akan hal apa yang mungkin dihadapi oleh Afri di masa mendatang apabila ia membuat suatu keputusan. 

Peran Pengasuhan Orang Tua dalam Membentuk Karakter Afriyani dan Meissy

Pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua Afri dan Meissy tentunya memberikan dampak bagi pembentukan karakter mereka. Afri tumbuh menjadi orang yang bisa berempati pada orang-orang di lingkungan sekitar karena ibunya yang suka berbagi kepada siapapun disekitarnya, tidak hanya manusia namun juga kepada tumbuhan dan hewan. Ia juga seorang pekerja keras dan memiliki daya juang tinggi karena didikan serta contoh yang diberikan bapaknya untuk selalu sungguh-sungguh dan totalitas dalam mengerjakan sesuatu khususnya dalam mengejar cita-cita. Pesan dan perilaku sehari-hari yang dicontohkan oleh kedua orang tua Afri yang membuat ia bisa menjadi orang yang bisa memberikan kebermanfaatan bagi orang disekitarnya. Salah satu contohnya, ia suka mengikuti kegiatan sosial, charity, dan lain sebagainya. Diskusi-diskusi yang selalu diterapkan oleh orang tua Afri dalam keluarganya juga membuat ia bisa lebih memahami tidak hanya perspektifnya saja namun juga orang lain. Ia belajar bagaimana caranya mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik. Ia juga menjadi percaya diri dalam diskusi di kegiatan kampus, berani untuk mengutarakan pendapatnya dan hal-hal yang memang sesuai dengan nilai-nilai yang ia percayai.

Sama halnya dengan Meissy, ia juga tumbuh menjadi seseorang yang memiliki karakteristik yang baik. Meissy merupakan sosok yang mandiri yang terbiasa melakukan apapun dan pergi kemanapun seorang diri. Hal ini dikarenakan orang tuanya yang membiasakan ia berangkat ke sekolah tanpa diantar. Ia biasa pergi ke sekolah bersama kakak-kakaknya sehingga terciptalah karakter yang mandiri pada diri Meissy. Ia juga merupakan seseorang yang disiplin, tepat waktu, dan juga taat aturan karena terbiasa dari kecil dididik untuk selalu melakukan segala sesuatunya sesuai dengan aturan yang ada. Walaupun memang tidak ada aturan tertulis yang diterapkan dalam keluarga Meissy, namun ia selalu dibiasakan untuk menghargai waktu dan aturan yang berlaku dimanapun ia berada.

Pentingnya Pengendalian Emosi dalam Pengasuhan

Kendali pola pengasuhan terhadap anak tentunya ada di tangan orang tua. Penanaman nilai yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya berbeda-beda tergantung nilai, norma, dan budaya yang dipegang oleh setiap keluarga. Namun ketika ada perlakuan anak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berusaha ditanamkan oleh orang tua, rasa kecewa merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari untuk dirasakan. Ada berbagai macam respon yang bisa diberikan oleh orang tua ketika menghadapi situasi tersebut, salah satunya adalah marah. Emosi negatif memang merupakan sesuatu yang muncul di luar kendali seseorang, maka dari itu hal ini menjadi tantangan bagi orang tua untuk mengontrol emosi negatif sehingga bisa menyalurkannya dengan cara yang lebih positif. Dengan berusaha menenangkan diri dan tetap sadar akan situasi, orang tua dapat lebih siap ketika mengajak anaknya berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati. Berikan pertanyaan-pertanyaan seperti ‘kenapa kamu melakukan itu?’, ‘apa kamu sadar akan dampak apa yang bisa terjadi karena perlakuanmu?’, ‘kira-kira apa yang terjadi pada orang itu apabila kamu berperilaku seperti itu?’, dan lain sebagainya. Dengan diskusi seperti itu, anak pasti akan melakukan refleksi terhadap dirinya dan perbuatannya namun emosi orang tua tetap terkontrol. Ini akan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan meluapkan emosi negatif tersebut dengan marah-marah dan membuat situasi dengan anak menjadi tidak enak.

Apabila memang sudah terlanjur meluapkan emosi negatif dengan amarah, langkah yang tepat untuk dilakukan adalah memberikan ruang untuk sama-sama menenangkan diri terlebih dahulu. Ketika sudah sama-sama tenang, maka penting untuk mengkomunikasikan apa yang terjadi. Utarakan kepada anak alasan mengapa orang tua bisa marah, pada saat itu apa yang terjadi dalam diri orang tua sehingga bisa keluar emosi seperti itu, dan perilaku apa yang dilakukan anak sehingga bisa membuat emosi tersebut muncul. Apabila memang diperlukan untuk meminta maaf, maka minta maaflah. Kemudian diskusikan bagaimana supaya orang tua dan anak sama-sama memperbaiki diri untuk kedepannya. Agar kejadian seperti ini tidak terulang atau paling tidak diminimalisir pengulangannya, buatlah kesepakatan antara orang tua dan anak yang memang sama-sama dimaknai oleh masing-masing pihak sehingga keduanya harus melakukan apa yang sesuai dengan yang disepakati.

Pada situasi lain, misalkan orang tua menyadari suatu karakter buruk anak. Lalu sikap seperti apa yang harus diambil? Pertama-tama, cari tahu terlebih dahulu penyebabnya. Misalkan anak emosian, tidak sabaran, hal itu terjadi karena apa? Bisa jadi karena terlalu sering berada di ranah digital sehingga saat berada di dunia nyata, anak merasa tidak nyaman dan tidak sabaran. Apabila penyebabnya bukan karena dunia digital, lagi-lagi jawabannya adalah dengan komunikasi. Coba tanyakan apa penyebab anak marah, galau, dan emosi-emosi lainnya. Ketika mengajak berkomunikasi, coba tanyakan secara perlahan kepada anak dengan kemungkinan-kemungkinan yang orang tua asumsikan bisa menjadi penyebabnya. Dengan begitu anak lama-lama akan bisa terbuka. Namun apabila masih belum juga mau untuk terbuka, coba ajak anak untuk menenangkan diri terlebih dahulu, lakukan hal yang ia senangi dulu, baru ajak bicara kembali. Dengan orang tua menyadari perubahan sikap atau perilaku anak yang berbeda dari biasanya, itu sudah menjadi satu cara untuk mengawasi anak agar tetap berperilaku sesuai dengan apa yang ditanamkan. Penting bagi orang tua untuk selalu hadir mendampingi anak sehingga tau apakah anak sedang membutuhkan dukungan atau tidak.

Pendidikan Karakter di Lingkungan Sekolah 

Sebagai pendidik, guru berperan penting dalam memantapkan karakter anak yang ditanamkan oleh keluarga di rumah. Penting bagi guru dan akademisi untuk mengenali karakter masing-masing anak, paling tidak seperti apa latar belakang keluarganya. Misalkan ada anak yang seperti Afri yang memiliki empati yang tinggi, maka sifat tersebut dapat dieksplorasi dan dikembangkan di lingkungan sekolah sehingga ia dapat menjadi contoh bagi teman-temannya. Hal ini sangat mungkin untuk terjadi, karena tidak jarang anak-anak sekolah melakukan suatu tindakan karena mencontoh apa yang dilakukan teman sebayanya. 

Satuan pendidikan itu sangat luar biasa karena adanya keberagaman di dalamnya. Terlebih lagi ketika berlangsungnya tahun ajaran baru dimana satu angkatan yang berasal dari asal dan latar belakang yang berbeda-beda masuk secara bersamaan ke dalam satu lingkup yang sama. Sifat-sifat bawaan keluarga yang baik seperti solidaritas, ramah tamah, dll perlu digali untuk proses belajar bersama. Ketika bapak dan ibu guru sudah mengenali sifat masing-masing anak, maka hal ini bisa menjadi bekal untuk membangun situasi yang dapat membuat siswa-siswinya saling belajar dari satu sama lain. Contohnya apabila ada anak yang kurang bisa berempati dan acuh tak acuh, dalam pengerjaan tugas guru dapat mengelompokkan anak tersebut dengan anak yang memiliki empati tinggi sehingga ia dapat belajar dan menyerap sifat empatinya. Lama kelamaan, upaya seperti ini dapat membantu membangun karakter anak-anak di dalam kelas. Salah satu tugas bapak dan ibu guru adalah membangun situasi dimana dapat terjadinya pembentukkan karakter anak-anak dengan belajar dari satu sama lain.

Peran Lingkungan Sekitar terhadap Pembentukkan Karakter Anak

Tidak hanya dipengaruhi oleh pengasuhan orang tua, pembentukkan karakter anak juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya di luar lingkup keluarga. Namun, besarnya pengaruh lingkungan sekitar terhadap pembentukkan karakter masing-masing anak itu relatif tergantung budaya dan tradisi yang ada di rumah dan keluarga masing-masing. Mas Doni menyampaikan pengalaman pribadinya mengenai topik ini, dimana ia merasa bahwa salah satu aspek yang sangat membentuk karakternya adalah pendidikan. Ia merasa selalu haus akan ilmu sejak kecil karena tidak adanya tradisi membaca di rumahnya, hanya sebatas membaca majalah ataupun koran. Ia sejak kecil bermimpi untuk bisa memiliki rumah yang ada perpustakaan di dalamnya. Melalui pendidikan, wawasan Mas Doni berkembang meluas. Saat kecil apabila ia menerima uang saku dari orang tuanya, ia selalu menyisihkan sebagian dan ditabung sehingga bisa membeli buku-buku dongeng dan komik di pasar loak. Perbuatan Mas Doni ini terbentuk bukan karena lingkungan rumah namu dari proses pendidikan yang ia jalankan. 

Pada masa dimana dunia belum mengenali teknologi-teknologi canggih seperti saat ini, ada cerita Mas Doni mengenai pengaruh lingkungan  terhadap pembentukkan karakter serta perilaku anak dengan cara yang terdengar sederhana. Orang tua Mas Doni bukan merupakan tipe orang tua yang memiliki banyak tuntutan dan permintaan kepada anaknya. Jadi jarang sekali ia diperintahkan untuk belajar oleh kedua orang tuanya. Namun, interaksi orang tuanya dengan lingkungan sekitar yaitu tetangganya setiap kali ada pengambilan rapot lah yang secara tidak langsung mempengaruhi ia dalam menjalankan pendidikannya. Para orang tua di daerah rumahnya saling membanggakan anaknya ketika pengambilan rapot, seperti prestasi apa yang diraihnya, peringkat berapa yang didapat, dan lain sebagainya. Dengan mendengarkan percakapan ini, anak-anak di lingkungan tersebut termasuk Mas Doni mau tidak mau merasa memiliki kewajiban untuk belajar agar bisa membuat orang tuanya bangga atas prestasi yang ia capai.

Seorang anak yang lahir ke dunia adalah individu yang berbeda dari orang tuanya. Anak adalah individu yang merdeka, bebas, dan mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri. Kebebasan dan kemerdekaan adalah beberapa hal mendasar yang harus ada dalam pendidikan karakter. Ketika anak diharuskan untuk menentukan sebuah pilihan dan membuat sebuah keputusan, maka ada proses pertanggungjawaban dan konsekuensi atas pilihannya. Dari sinilah terbentuk karakter anak yang mandiri dan bertanggungjawab. Sifat-sifat ini tentunya sangat diperlukan untuk dimiliki seorang anak karena di masa depan nanti, setiap orang pasti akan membuat banyak pilihan dalam kehidupannya dan mereka harus membuat pilihan-pilihan tersebut sendiri.

Tips Pengasuhan di Era Digital menurut Anak Muda Milenial

Pada era digital seperti sekarang ini, tentunya orang tua harus memperluas serta mengembangkan aspek keterampilan yang wajib dimiliki agar bisa maksimal dalam mengasuh dan mendidik anak. Pengetahuan akan dunia digital, internet, media sosial, dan segala hal yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi merupakan suatu keharusan bagi orang tua di era ini dan masa mendatang. Afri sebagai salah satu anak muda generasi milenial menyampaikan dalam Bincang SEJIWA kali ini bahwa sangatlah penting bagi orang tua maupun calon orang tua untuk membuka pikiran sehingga siap untuk mencari bekal terkait ilmu-ilmu yang berkaitan dengan majunya teknologi digital. Ketika sudah memiliki pengetahuan akan dunia digital, paling tidak dasar-dasarnya, orang tua dapat mengetahui hal-hal positif dan negatif apa saja yang kemungkinan dapat memberikan dampak kepada mereka maupun kepada anak. Langkah pertama yang bisa dilakukan tentunya membekali diri dengan ilmu-ilmu literasi digital. Dengan bekal ilmu serta keterampilan yang dimiliki akan dunia digital, maka akan lebih mudah dan aman bagi orang tua dalam mendampingi serta mengawasi anak-anaknya dalam menggunakan media digital.

 

Untuk menyaksikan cerita lengkap mengenai penanaman karakter melalui pengasuhan, Sahabat SEJIWA dapat menyaksikannya melalui tautan berikut:

 

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”