BINCANG SEJIWA EPISODE 57:  KELUARGA HARAPAN DIBANGUN DI SOS CHILDREN’S VILLAGES

BINCANG SEJIWA EPISODE 57 
Keluarga Harapan Dibangun di SOS Children’s Villages
Minggu, 18 Juli 2021

Narasumber:

  • Tri Lestari Dewi Saraswati (Child Protection Specialist, National Office)
  • Yulius Wete (Mandiriwan SOS Children’s Village)
  • Doni Koesoema (Pakar Pendidikan Karakter)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Koordinator Program)

 

Latar Belakang Berdirinya SOS Children’s Villages di Indonesia

SOS Children’s Village Indonesia didirikan oleh bapak Agus Prawoto, diawali ketika beliau berada di Austria dan melihat SOS Children sebagai sesuatu yang bagus yang bisa dicontoh dan diterapkan di Indonesia. Bapak Agus merasa bahwa banyak sekali anak-anak di Indonesia yang kehilangan pengasuhan yang seharusnya memiliki hak untuk bisa tumbuh dan berkembang dalam keluarga. Akhirnya pak Agus beserta ibu Ilsye berinisiatif untuk mendirikan SOS Children di Indonesia. SOS Children’s Villages Indonesia pertama kali didirikan di Lembang pada tahun 1972 yang kemudian berkembang di wilayah-wilayah yang lain. Diikuti oleh pendirian village kedua di Jakarta pada tahun 1984, ketiga di Semarang, dan keempat di Tabanan, Bali  pada tahun  1991. Village kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan dibangun sebagai respon dari bencana tsunami di Flores dan Aceh. Village di Flores berdiri pada tahun 1995, sedangkan di Banda Aceh, Meulaboh dan Medan tahun 2004. Saat ini SOS Children’s Villages Indonesia tersebar di sembilan wilayah mulai dari Banda Aceh hingga Flores.

Program-Program SOS Children’s Villages Indonesia

Terdapat tiga program utama yang dijalankan oleh SOS Children’s Villages Indonesia, antara lain:

  • Family Based Care (Pengasuhan Berbasis Keluarga), yaitu program yang dilaksanakan di delapan wilayah dimana anak-anak yang tidak mendapatkan pengasuhan orang tua dapat merasakan hidup dengan memiliki rumah, ibu, kakak, dan adik selayaknya keluarga pada umumnya. 
  • Family Strengthening Program (Program Penguatan Keluarga), yaitu program yang dilaksanakan di sepuluh wilayah yang ditujukan sebagai penguatan bagi anak-anak yang beresiko atau rentan dalam pengasuhan. Anak-anak yang tergabung dalam program ini tetap tinggal bersama keluarga asalnya namun mendapatkan penguatan dari SOS Children untuk memaksimalkan proses pengasuhan dari keluarganya.
  • Emergency Response Program (Tanggap Darurat Bencana), yaitu program yang dilaksanakan ketika terjadinya sebuah bencana untuk memastikan bahwa anak-anak yang terdampak bencana tetap mendapatkan hak-haknya serta terlepas dari trauma bencana. Program ini memfasilitasi semua kegiatan anak termasuk pendidikan, bermain, serta trauma healing. (Sumber: https://www.sos.or.id/tentang-sos/program)

Pengalaman sebagai Anak Asuh di SOS Children’s Village

Yulius Wete, salah satu mandiriwan SOS Children’s Village pertama kali bergabung pada tahun 1999 ketika ia berusia 14 tahun. Ia menjadi bagian dari SOS Children’s Village semenjak menjadi seorang yatim piatu ketika ditinggal ibunya saat SD dan ayahnya saat SMP. Mas Yulius merasa bahwa hal yang paling berkesan saat menjadi anak asuh SOS Children’s Village adalah bagaimana ia sangat diperlakukan seperti layaknya keluarga sendiri. Ia tidak pernah merasa terasingkan dalam ruang lingkup tersebut. Untuk akses pendidikan yang disediakan oleh SOS Children, mereka diperbolehkan untuk memilih sendiri sekolah dimana mereka dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kebanyakan dari mereka sekolah di kota dan diberikan pula akomodasi berupa mobil yang mengantar jemput dari dan ke sekolah. Kehidupan selama menjadi anak asuh di SOS Children’s Village sangat membahagiakan bagi Mas Yulius. Mulai dari banyaknya teman sebaya yang bisa diajak bermain bersama, fasilitas yang tersedia seperti lapangan bola, keyakinan beragama yang didukung penuh, dan masih banyak yang lainnya.

Setelah menjadi seorang mandiriwan, yang berarti sudah mampu mandiri dan menafkahi diri sendiri, Mas Yulius saat ini bekerja menjadi seorang pekerja sosial dan mendapatkan penghargaan sebagai Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia pada tahun 2020. Namun walaupun sudah dapat menjadi mandiri, setiap anak yang pernah tergabung dalam SOS Children’s Village akan selamanya menjadi anak SOS.

Proses Menjadi Ibu Asuh SOS Children’s Village

Apabila ingin menjadi seorang ibu asuh di SOS Children’s Village, diwajibkan untuk mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Ketika sudah melewati pelatihan tahap awal yang berlangsung selama dua tahun, mereka tidak bisa langsung menjadi ibu namun menjadi ‘tante’ terlebih dahulu. Peran ini diibaratkan sebagai proses ‘magang’ sebelum mereka dapat menjadi ibu asuh secara resmi. Sepanjang proses menuju dan menjadi tante, dilakukan evaluasi hingga akhirnya apabila memang dinilai layak untuk menjadi seorang ibu asuh. Ketika sudah menjadi ibu, dilakukan pengayaan secara terus menerus setiap tahunnya secara nasional. Proses pengayaan ini juga disertai penguatan dan pengkajian akan apa yang dibutuhkan mengingat situasi selalu berubah. Seperti misalnya pada masa pandemi ini diberikan program bagi para ibu asuh untuk belajar tentang pengetahuan daring.

Pada masing-masing village, diadakan family conference setiap minggunya yang harus dihadiri oleh para ibu asuh dan juga village director. Dalam konferensi ini dilakukan diskusi mengenai kondisi keluarga asuh mereka masing-masing, apa masalah yang mereka hadapi, perilaku anak yang menyimpang misalnya, dan lain sebagainya dan kemudian dicari solusi bersama-sama atas masalah tersebut.

Fasilitas Digital di SOS Children’s Village

SOS Children’s Village memiliki program bernama Digital Village dimana setiap rumah difasilitasi dengan sebuah komputer dan akses internet yang bisa dipergunakan oleh seluruh anggota keluarga asuh. Program ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mendukung proses pembelajaran anak-anak. Selain itu juga disediakan lab komputer dan perpustakaan yang tentunya terdapat beberapa komputer dan laptop di dalamnya. Di sana anak-anak dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk belajar bersama-sama dengan tetap di bawah pengawasan educator. Selain fasilitas berupa perangkat digital, SOS Children juga memberikan edukasi berupa literasi digital kepada para ibu asuh, educator, dan juga anak-anak agar bisa menggunakan media digital dengan aman dan bermanfaat. Mereka juga menerapkan sistem pada teknologi digital yang disediakan dengan memilah mana saja konten positif yang bisa diakses oleh anak-anak serta melakukan pengawasan atas apa saja yang dikonsumsi anak-anak dari internet.

Penerapan Konsep SOS Children’s Village di Indonesia

Kegiatan yang dilakukan oleh SOS Children’s Village tentunya dapat membantu banyak sekali anak-anak Indonesia yang membutuhkan pertolongan khususnya pengasuhan. Agar konsep ini dapat disebarluaskan penerapannya sehingga bisa menjangkau lebih banyak lagi anak-anak Indonesia, maka dibutuhkan orang-orang yang memiliki hati dan mau mewujudkannya. Selama tersedianya sarana dan fasilitas, SOS Children’s Village sebagai sistem sudah dapat diduplikasi dan diterapkan oleh pihak-pihak lain yang ingin membantu mewujudkan tujuan yang sama, yaitu anak Indonesia yang tidak terlantar dan mendapatkan pengasuhan yang layak. Dalam mewujudkannya, akan dibutuhkan banyak pihak yang memiliki hati yang pernah berhubungan langsung dengan anak-anak yang mengalami situasi kurang layak seperti anak jalanan, pemulung, dan sebagainya agar dapat menjalaninya dengan sepenuh hati karena mereka sudah mengetahui dan melihat secara langsung bagaimana kondisi anak-anak tersebut sehingga menjadi lebih peka dan berempati.

Maka dari itu, agar konsep SOS Children’s Village ini dapat diterapkan secara lebih luas, dibutuhkan lebih banyak lagi orang-orang yang dapat berempati dan telah melihat langsung realita kondisi anak-anak yang terlantar. Penanaman rasa empati ini dapat dilakukan salah satunya dengan menyelipkan pada sistem pembelajaran oleh guru-guru agar para siswa dapat melihat secara langsung realita yang ada sehingga kemudian tumbuh rasa peduli yang lebih  mendalam dan tergerak untuk melakukan perubahan. Selain itu tentunya penanaman nilai kepedulian oleh orang tua juga sangat berpengaruh bagi anaknya. Orang tua harus memberikan contoh perbuatan yang menunjukkan kepedulian sehingga tertanam rasa peduli pula pada diri anak mereka. Apabila ada cukup banyak orang yang berempati, peduli, dan mau melakukan sesuatu agar tercipta kondisi yang lebih baik, maka akan lebih besar pula kemungkinan terjadinya gerakan nasional untuk menciptakan Indonesia yang lebih berkemanusiaan dan bermartabat serta ramah untuk anak-anak yang kurang beruntung.

 

Untuk menyaksikan lebih lengkap mengenai SOS Children’s Village, Sahabat SEJIWA dapat menyaksikannya pada link di bawah ini:

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”