Penelitian

Secara berkala SEJIWA melakukan penelitian untuk mengkaji kekerasan dan bullying yang terjadi di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kegiatan penelitian umumnya bertujuan mengidentifikasi bentuk kekerasan/bullying yang dialami anak baik di sekolah maupun di rumah, respon korban menghadapi bullying serta kebijakan sekolah dalam menangani kasus. Hasil penelitian merupakan bukti empiris yang kemudian dijadikan landasan saran, rekomendasi dan kebijakan selanjutnya bagi sekolah maupun instansi terkait lain. Selain itu, secara rutin SEJIWA juga mengkaji dan mengumpulkan data kasus kekerasan pada anak yang diberitakan di media massa. Berikut ini penelitian-penelitian yang telah dilaksanakan SEJIWA:

a.    Baseline study SEJIWA (2004) di empat SMA di Jakarta mengungkapkan beberapa hal sebagai masalah dalam kualitas pendidikan Indonesia. Dalam studi ini ditemukan bahwa siswa mempersepsikan metode mengajar guru cenderung monoton, directive, teacher-centered, tidak kreatif dan tidak mengikuti perkembangan terbaru materi. Motivasi dan disiplin guru dalam mengajar rendah sehingga mempengaruhi pula motivasi belajar siswa. Bullying pun umum ditemukan di sekolah, baik dilakukan oleh guru kepada siswa maupun siswa kepada siswa lain atau siswa junior.

b.    Baseline study SEJIWA (2005) mengenai persepsi siswa terhadap cara mengajar guru pada tiga SMA di dua kota besar di Jawa. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa siswa mempersepsikan metode mengajar guru membosankan (41,4%), tidak pernah berubah (43,7%) dan guru seringkali memberikan instruksi yang membingungkan (47,9%). Siswa juga mempersepsikan bahwa guru seringkali tidak mendengarkan dan memahami siswa (40%). Hal ini sejalan dengan temuan berikutnya bahwa guru merasa kesulitan dalam menghadapi dan berkomunikasi dengan siswa (31%). Dalam studi ini umum ditemukan bahwa ada masalah dalam komunikasi baik antar guru dengan siswa maupun guru dengan rekan kerja sesama guru dan kepala sekolah.

  1. Penelitian mengenai kekerasan di sekolah (2008) yang diselenggarakan atas kerjasama  SEJIWA, Plan Indonesia dan Universitas Indonesia. Penelitian ini melibatkan sekitar 1233 orang siswa SD, SMP dan SMA di di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa kekerasan, baik yang dilakukan oleh guru kepada siswa maupun dari dilakukan siswa kepada sesama siswa, terjadi di semua sekolah yang terlibat penelitian. Bentuk kekerasan yang meliputi bullying verbal, psikologis serta fisik dilaporkan oleh 66.1% siswa SMP dan 67.9% siswa SMA. Umumnya siswa mempersepsikan kekerasan yang mereka alami ataupun saksikan di sekitar mereka lebih berat daripada persepsi guru dan kepala sekolah.

Kekerasan antar siswa di tingkat SMP secara berurutan terjadi di Yogyakarta (77.5%), Jakarta (61.1%) dan Surabaya (59.8%). Kekerasan di tingkat SMA terbanyak terjadi di Jakarta (72.7%), kemudian diikuti Surabaya (67.2%) dan terakhir Yogyakarta (63.8%).

Sementara siswa SMP dan SMA mempersepsikan guru paling sering melakukan bullying psikologis (41.8% & 47.8%). Namun di SMP guru masih lebih sering memberikan hukuman fisik (26.3%) daripada di SMA (24.0%). Kekerasan fisik yang sering terjadi antara lain adalah menjambak rambut, menjewer dan memukul dengan penggaris. Seiring dengan bertambahnya usia siswa, kekerasan yang dilakukan guru lebih cenderung pada kekerasan yang tidak “berbekas” seperti bullying verbal (ejekan) dan psikologis (diskriminasi, ancaman dsbnya).

  1. Penelitian mengenai kekerasan pada anak (2010) di enam sekolah dasar di tiga kabupaten di  Kepulauan Maluku. Penelitian ini mengungkapkan bahwa anak mengalami kekerasan dari orang tua, guru dan juga teman sebaya di sekolah. Kekerasan umumnya dilakukan orang tua dan guru dengan alasan mendisiplinkan anak. Anak umumnya dipukul (dengan tangan, rotan, penggaris, kayu, sapu, dll) bila tidak disiplin di rumah (tidak melakukan tugas/perintah orang tua, melanggar jadwal tidur, mengaji, dsb) dan di sekolah (tidak mengerjakan pr, tidak membawa buku, terlambat, dll).

Sementara di sekolah anak pun mengalami dan menyaksikan kekerasan dari sesama siswa. Kekerasan fisik sesama siswa terjadi setiap hari dan lebih intensif dibandingkan kekerasan verbal dan psikologis. Respon anak terhadap kekerasan dari guru dan orang tua berbeda dengan bila anak mengalami kekerasan dari sesama siswa. Anak cenderung membalas langsung perlakuan teman dengan tindakan agresif pula. Sementara bila pelaku adalah orang dewasa (orang tua, guru, kepala sekolah) anak cenderung berlaku pasif, tidak mampu melawan dan merasa layak mendapatkan hukuman sebagai konsekuensi atas kesalahan / perilaku tidak disiplin yang ia lakukan. Namun kebanyakan anak menganggap kekerasan dari orang dewasa amat menekan perasaan, membuat anak merasa sakit hati, dendam dan marah. Secara umum, semua anak yang terlibat dalam riset ini mengaku merasa sedih, tertekan, takut, malu, marah serta tidak berdaya menghadapi kekerasan baik dari guru, orang tua maupun teman sebaya.

Bila anda hendak mengetahui tentang hasil riset secara lebihrinci, anda dapat menghubungi SEJIWA di antibullying@sejiwa.org atau di pesawat telepon 021- 7884 3283 / 021 7060 1060.