CYBERBULLYING SERIES #4 – MENGAPA CYBERBULLYING MASIH TERJADI?

Hallo, Sahabat Sejiwa, kita masih membahas mengenai cyberbullying nih! Setelah kita mengetahui apa itu  cyberbullying, siapa saja yang terlibat, bagaimana dampaknya. Nah, sekarang kita akan membahas, sebenarnya apa sih yang membuat cyberbullying itu masih terjadi? Yuk, simak penjelasan berikut!

Cyberbullying merupakan salah satu permasalahan global, dengan jumlah korban yang cukup banyak. Hal-hal yang berkaitan dengan cyberbullying  di antaranya, dapat terjadi 24 jam, 7 hari dalam seminggu dan dapat menjangkau anak-anak saat mereka sendirian baik pagi, siang maupun malam hari. Kemudian, pesan dan gambar dapat di posting dan menyebar dengan cepat sehingga tidak mudah menelusuri sumbernya. Terakhir, sulitnya menghapus pesan atau gambar yang sudah terposting dan menyebar di dunia maya (ASPA, 2020). Hal-hal tersebut sangat merugikan baik untuk korban yang informasinya sudah tersebar begitu cepat, juga untuk pelaku yang pada akhirnya memiliki jejak digital yang tidak baik, yang mana besar kemungkinannya berpengaruh pada masa depannya. Misalnya, ketika ingin melamar kerja, perusahaan yang akan menerimanya memeriksa lebih dahulu jejak digitalnya. Ketika ditemukan hal-hal yang tidak diinginkan besar kemungkinan apabila ia akan ditolak oleh perusahaan tersebut walau ia sangat kompeten untuk bidang yang dilamarnya. Hal mengenai jejak digital ini sudah dibahas oleh Yayasan Sejiwa, sahabat sejiwa dapat menontonnya untuk lebih memahami mengenai jejak digital (di sini). Lalu, mengapa cyberbullying masih terjadi?

Terdapat fakto-faktor yang mendorong terjadinya cyberbullying diantaranya:

  1. Jenis kelamin, studi yang dilakukan oleh Putri et al. (2015) menemukan adanya perbedaan pada perilaku cyberbullying antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memiliki kecenderungan untuk menjadi pelaku cyberbullying. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Sari dan Suryanto (2016) bahwa laki-laki lebih rentan terhadap perilaku cyberbullying. Dilihat dari karakter, laki-laki memiliki karakter maskulin, seperti tegas, persaingan, sombong, rasional, dominasi, perhitungan agresif dan objektif. Sedangkan perempuan memiliki karakter feminim seperti; kerjasama, fleksibel, emosional, orientasi menjalin hubungan, pasif, banyak bicara (Putri et al., 2015). Dengan begitu, laki-laki akan cenderung menjadi pelaku cyberbullying dibandingkan perempuan karena adanya karakter maskulin, agresi, orientasi dominasi dan juga persaingan pada anak laki-laki.
  2. Tipe Kepribadian, perbedaan yang signifikan pada perilaku cyberbullying antara yang memiliki kepribadian ekstrovert dan yang memiliki kepribadian introvert, dimana individu dengan kepribadian ekstrovert akan memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melakukan cyberbullying dibandingkan dengan individu yang berkepribadian introvert (Satalina, 2014 dalam Adawiyah, 2019). Hasil yang sama juga ditemukan dalam studi yang dilakukan oleh Hamidah dan Emilya (2018) individu yang memiliki kepribadian ekstrovert lebih tinggi memiliki kecenderungan perilaku cyberbullying. Kepribadian ekstrovert cenderung lebih terbuka terhadap lingkungan, bertindak lebih agresif bahkan tanpa berpikir panjang dan cenderung impulsif (Putri et al., 2015).
  3. Anonimitas, anonimitas erat hubungannya dengan perilaku agresif, hal ini membuat individu tidak teridentifikasi atau tidak dikenali sehingga dengan mudah mereka melakukan cyberbullying kepada orang lain. Ketika mereka tidak teridentifikasi dalam media sosial membuat mereka tidak merasa bersalah, perasaan tidak bersalah itulah yang membuat seseorang secara berulang melakukan perilaku agresif termasuk melakukan cyberbullying (Santhoso, n.d.)
  4. Moral diengagement, dimana biasanya dikaitkan dengan perilaku antisosial pada anak-anak dan remaja. Pelaku cyberbullying menekankan hasil positif dari tindakan agresif untuk diri sendiri dengan mendistorsi konsekuensi dan mengabaikan korban (Sticca et al., 2013).
  5. Penggunaan internet atau media sosial, waktu atau intensitas penggunaan internet atau media sosial terkait dengan perilaku cyberbullying pada individu. Penggunaan media sosial lebih dari dua jam setiap hari dapat meningkatkan perilaku cyberbullying sebesar 66% (Athanasiou et al., 2018). Kecanduan game online dan menghabiskan waktu lebih dari 2 atau 4 jam sehari dapat meningkatkan peluang individu menjadi pelaku cyberbullying (Rao et al., 2019). Dalam mengurangi perilaku berisiko pada individu terutama dalam penggunaan internet atau media sosial dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, khususnya pengawasan orang tua dan guru.

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan diatas, ternyata terdapat faktor lainnya yang dapat mendorong perilaku cyberbullying. Berdasarkan systematic-review yang dilakukan oleh Dewi dan Sriati (2020), menemukan faktor-faktor yang mendorong perilaku cyberbullying, diantaranya:

  1. Faktor individu, individu merupakan kunci utama dalam dalam cyberbullying, keterlibatan seseorang dalam cyberbullying dapat ditentukan oleh dirinya sendiri. Seseorang yang terlihat sangat rentan untuk menjadi korban cyberbullying sedangkan, individu yang lebih terlihat lebih kuat, lebih berani tidak mau menjadi korban, mereka memiliki kemungkinan yang kecil untuk menjadi korban cyberbullying.
  2. Pengalaman kekerasan, paparan terhadap kekerasan dapat meningkatkan resiko seorang individu untuk terlibat dalam cyberbullying. Kemudian, terdapat hubungan yang kuat antara pengalaman kekerasan dengan keterlibatan dalam perilaku cyberbullying pada remaja dengan impulsif rendah, yang mana menempatkan mereka memiliki resiko yang tinggi sebagai korban cyberbullying. Pengalaman kekerasan yang dialami oleh individu baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan media sosial secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam keterlibatannya pada cyberbullying.
  3. Harga diri dan pengendalian diri, hal ini diperlukan karena berkaitan dengan kontrol perilaku seorang individu. Pelaku cyberbullying cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi dengan pengendalian diri yang lebih rendah, sebaliknya dengan korban mereka memiliki harga diri yang lebih rendah dan pengendalian diri yang lebih tinggi. Pengendalian diri yang tinggi ditunjukan dari tingginya kontrol tingkah laku dan persepsi yang lebih besar mengenai kontrol psikologis.
  4. Faktor keluarga, keluarga merupakan elemen yang penting. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan lingkungan sosialisasi pertama bagi individu untuk mempelajari aturan berperilaku untuk hidup bersama, yang pada akhirnya membuat individu dapat melakukan adaptasi pribadi, sosial dan sekolah. Kurangnya pemantauan orang tua dan kebebasan yang diberikan memicu anak untuk terlibat dalam cyberbullying. Orang tua memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter seorang anak untuk bertindak, bersikap dan berperilaku yang mempengaruhi keterlibatan mereka untuk perilaku cyberbullying. Dalam mengurangi resiko keterlibatan anak dalam perilaku cyberbullying diperlukan kompetensi orangtua dalam mendidiknya melalui pola asuh yang tepat.
  5. Faktor teman, teman memiliki pengaruh besar terhadap kecenderungan seseorang menjadi pelaku cyberbullying. Korban cyberbullying memiliki tingkat penolakan teman yang tinggi dan dukungan teman yang rendah, sebaliknya dengan pelaku cyberbullying memiliki tingkat penolakan yang rendah dan dukungan teman yang tinggi. Dengan demikian, dapat dikatakan apabila teman juga memiliki peran yang penting dalam keterlibatan individu pada perilaku cyberbullying, melalui teman individu dapat mempelajari berbagai hal termasuk perilaku cyberbullying.
  6. Faktor sekolah, dukungan sosial menjadi faktor risiko untuk individu sebagai korban cyberbullying, sehingga, dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh individu. Tingkat sekolah, jenis sekolah, ukuran sekolah dan kualitas sekolah berhubungan dengan resiko perilaku cyberbullying. Cyberbullying lebih sering terjadi pada siswa di sekolah kejuruan, hal ini berkaitan dengan penggunaan internet yang cukup tinggi dan penggunaan internet yang tinggi menjadi predisposisi terjadinya cyberbullying. Lalu terdapat studi yang menemukan apabila siswa sekolah negeri lebih memungkinkan terlibat dalam cyberbullying dibandingkan siswa di sekolah swasta.

Wah, sahabat sejiwa ternyata banyak juga ya, faktor-faktor yang mempengaruhi atau pun mendorong terjadinya perilaku cyberbullying. Ternyata keterlibatan seseorang dalam perilaku cyberbullying dapat dipengaruhi baik oleh faktor internal atau individu maupun oleh faktor eksternal, nah faktor-faktor diatas dapat digunakan untuk melakukan pencegahan maupun intervensi dalam mengatasi masalah cyberbullying.

 

Oleh : Al Wasi’ilah Atini Arum

 

Referensi :

Adawiyah, S. R. (2019, November). Faktor-faktor yang mempengaruhi cyberbullying pada remaja. In Prosiding Seminar Nasional Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (pp. 398-403).

Assistant Secretary for Public Affairs (ASPA). (2020, July 21). What Is Cyberbullying. Retrieved August 06, 2020, from https://www.stopbullying.gov/cyberbullying/what-is-it

Dewi, H. A., Suryani, S., & Sriati, A. (2020). Faktor faktor yang memengaruhi cyberbullying pada remaja: A Systematic review. Journal of Nursing Care, 3(2).

Hamidah, T., & Emillya, R. (2018). Perbedaan kecenderungan perilaku cyberbullying ditinjau dari tipe kepribadian pada siswa SMA. Proceedings of Psychology” Cyber Effect: Internet Influence on Human Life”, 29-39.

Putri, H. N., & Nauli, F. A. (2015). Faktor–faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja (Doctoral dissertation, Riau University).

Santhoso, F. H. Peran Mediasi Orang Tua dan Anonimitas terhadap Kecenderungan Cyberbullying Siswa. Jurnal Psikologi, 46(3), 261-272.

Sari, R. N. (2016). Kecerdasan Emosi, Anonimitas dan Cyberbullying (Bully Dunia Maya). Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 5(01).

Sticca, F., Ruggieri, S., Alsaker, F., & Perren, S. (2013). Longitudinal risk factors for cyberbullying in adolescence. Journal of community & applied social psychology, 23(1), 52-67.