Festival Layang-Layang Forum Pemimpin Muda Nasional 2010 Pantai Jimbaran, Taman Inpian Jaya Ancol

Wisma Kinasih, 9 Juli 2010—Puluhan layang-layang model kupu-kupu dengan ukuran rata-rata 2 x 2 meter menghiasi langit Jimbaran, Jumat 9 Juli 2010 jam 10.00 – 11.00. Selain dihias dengan lukisan warna-warni, layang-layang tersebut juga memuat pesan-pesan dan pengharapan para peserta Forum Pemimpin Muda Nasional 2010 duta anak dari 40 kabupaten di 10 propinsi wilayah layanan World Vision Indonesia dan mitra utamanya, Wahana Visi Indonesia, yang membawa suara teman-teman sebayanya lewat layang-layang yang mereka terbangkan.

Sedari Senin 5 Juli hingga Sabtu 10 Juli 2010, anak-anak ini berkumpul dan saling bertukar pengalaman tentang permasalahan yang mereka dan teman-teman dari seluruh Indonesia alami di sekolah, keluarga, ataupun lingkungan masing-masing dalam Forum Pemimpin Muda Nasional 2010, yang mengambil tema: ‘Saya anak Indonesia. Saya bisa menjadi pemimpin dunia!’ Tak sekadar mencari akar permasalahan, mereka juga mencoba mencari solusi sederhana untuk mengatasi persoalan mereka sendiri dan menuangkan pendapat mereka lewat berbagai media.

Salah satu media yang mereka gunakan untuk menyampaikan aspirasi dan pesan pengharapan dalam hal pemenuhan hak-hak mereka, dilakukan lewat pembuatan layang-layang yang diterbangkan di Pantai Jimbaran. Semua peserta berusaha membuat layang-layang sesuai kemampuan dan kreatifitasnya, demi menyalurkan pesan pengharapannya.

Pembuatan layang-layang itu dilakukan sehari sebelum diterbangkan dengan bimbingan para instruktur dari Museum Layang-Layang Indonesia di Wisma Kinasih, Cibinong, sedang proses menghias dan pewarnaannya dilakukan di Pantai Jimbaran, dua jam sebelum diterbangkan. Para peserta sangat antusias dan penuh ceria berekspresi lewat lukisan dan penggunaan warna, kemudian menuliskan pesan-pesan dan harapan mereka untuk hari depan yang lebih baik serta Indonesia yang lebih ramah anak pada layang-layang yang mereka buat.

”Kesempatan membuat layang-layang menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak, di saat yang sama mereka belajar melakukan advokasi lewat media sederhana, cara positif untuk berekspresi dan berkarya,” tulis Pitoyo dalam press releasenya.

Agus Satriandi (13) perwakilan anak dari Pontianak dengan ceria menjelaskan gambar-gambar yang dilukiskannya di layang-layangnya. ”Layang-layangku mungkin tidak bagus-bagus amat Kak, tapi ada maknanya,”ujarnya sambil menunjukkan hasil karyanya. ”Aku ingin hak-hakku sebagai anak dipenuhi, makanya kugambar anak-anak bergandengan tangan, supaya kita saling melindungi.” tambah Agus penuh filosofi. Demikian juga Misael (16) yang berasal dari Papua juga merasa senang bisa membuat dan menerbangkan layang-layang buatannya sendiri. ”Baru kali ini saya membuat layang-layang sebesar ini,” sahut Misael bangga sambil mencoba menerbangkan layang-layangnya.

Setalah puas menerbangkan layang-layang dan menyantap masakan Bali di Resto Jimbaran, 200 duta anak dengan didampingi para pendampingnya dari masing-masing daerah beserta panitia FPMN ini kemudian bergembira di Wahana Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol, hingga saat acara makan malam digelar di tempat yang sama.[dj]

Leave a Reply