Kopi Darat dan Pedofil

Posted on Posted in Artikel

Kopi darat merupakan sebuah istilah yang digunakan di dunia maya untuk menyebutkan pertemuan yang terencana di dunia nyata. Kopi darat dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan saling berkenalan melalui dunia maya. Konon, istilah kopi darat sudah dikenal sejak dahulu. Bedanya adalah media yang digunakan berupa surat, sedangkan saat ini adalah internet. Perubahan media dalam berkopi darat memberikan kemudahan dalam berbagai hal, terutama dalam menjalin komunikasi Dengan kemudahan tersebut semua orang dapat berkopi darat, termasuk anak-anak.

Menurut UU No. 25 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, seseorang yang belum berusia 18 tahun dapat dikatakan sebagai anak. Pada usia tersebut, anak cenderung ingin tahu dan mencoba hal baru di lingkungan sekitar. Padahal anak masih belum berpengalaman untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Apabila bertemu dengan orang asing atau orang yang tidak dikenal di dunia maya, anak cenderung mudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang tersebut. Terlebih lagi dengan rayuan atau iming-iming sebuah hal yang menyenangkan. Dapat dikatakan, karena ketidaktahuan dan sikap awam yang dimiliki oleh anak, mengenal orang asing atau yang tidak dikenal sebelumnya lalu melakukan kopi darat, bagi anak dapat menjadi suatu hal yang menyenangkan.

Keadaan tersebut tak jarang dimanfaatkan oleh para predator anak atau yang juga dikenal sebagai pedofil. Pedofil berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata pais (anak-anak) dan phillia (cinta yang bersahabat atau sahabat). Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan yang dialami oleh orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (www.polines.ac.id). Dalam buku Right From The Start (Hana, 2014: 226), pedofil adalah orang dewasa yang hanya bisa mendapatkan kepuasan seks dengan melakukan hubungan seks dengan anak-anak. Sedangkan, The American Heritage Stedman’s Medical Dictionary menyatakan pedofilia merupakan tindakan atau fantasi yang dilakukan oleh orang dewasa terkait aktivitas seksual dengan anak-anak (www.academia.edu). Dengan demikian, pedofilia adalah gangguan kejiwaan yang dialami oleh orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa yang hanya bisa mendapatkan kepuasan seks dengan melakukan tindakan atau fantasi berupa aktivitas seksual dengan anak-anak.

 

Kemudahan yang ditawarkan internet membuat para pedofil dengan mudah mendapatkan korban. Hal ini terlihat dari kasus-kasus yang semakin marak terjadi terkait dengan penculikan, pencabulan, serta pemerkosaan yang melibatkan anak dengan pelaku orang yang lebih dewasa. Tak jarang kasus pedofilia berakhir dengan pembunuhan (http://m.inilah.com/). Dalam dunia maya, biasanya para pedofil memasang foto orang lain yang terlihat lebih menarik, lalu mereka mencari korban dalam mesin pencari, mengajaknya berkenalan dan mengobrol. Setelah berhasil membuat korban tertarik, mereka akan mengajak korban untuk kopi darat. Dalam beberapa kasus ditemukan, setelah pelaku bertemu korban, korban diculik, dicabuli atau diperkosa. Beberapa pedofil juga mendokumentasikan hasil kopi darat, berupa video atau foto dan menyimpannya ke dalam komputer pribadi.

Sebagai korban, anak akan merasa tidak berdaya. Anak selalu berada dalam posisi lemah di depan orang dewasa, bahkan ketika bujuk rayu tidak mempan, pelaku dapat menggunakan cara-cara kekerasan untuk melampiaskan nafsunya (http://m.inilah.com/). Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri, Syarif Hidayatullah Jakarta (PSAG UIN) mengatakan terdapat beberapa dampak yang dapat dirasai oleh anak-anak yang menjadi korban pedofilia. Dampak tersebut antara lain (disadur dari http://www.republika.co.id/):

  1. Rusaknya kemampuan relasional anak. Anak menjadi sulit membina hubungan dan kedekatan dengan orang lain.
  2. Terganggu secara emosional. Seseorang yang menjadi korban akan selalu tidak percaya diri, pemalu, memiliki rasa takut yang berlebihan, merasa selalu bersalah, bahkan dapat menjadi pendendam dan selalu merasa dimusuhi.
  3. Mengalami kelemahan kognisi atau kemampuan belajar. Persepsi negatif yang sering muncul membuat anak sulit berkompetisi, rendah diri dalam berprestasi sehingga konsenterasinya menjadi terganggu.
  4. Cenderung berperilaku negatif.

 

Hal serupa juga disampaikan oleh Seto Mulyadi (ahli kejiwaan anak), menurutnya para korban pedofilia akan mengalami kurang rasa percaya diri dan memilki pandangan negatif terhadap seks (Sawitri Supardi, 2005). Selain itu, Wati (2010) menambahkan bahwa dampaknya tidak hanya merusak masa depan anak secara fisik saja, tetapi juga akan merusak mental dan kejiwaan anak, seperti depresi yang dapat terbawa hingga dewasa. Bahkan, kebanyakan penderita pedofilia disebabkan karena dirinya pernah menjadi korban pelecehan seksual serupa pada masa kanak-kanaknya. Dengan demikian dapat dikatakan dampak yang dirasakan oleh korban pedofilia tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikis yang dapat menghambat tumbuh kembangnya, dan dapat terjadi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Dampak tersebut penting untuk diperhatikan lebih lanjut. Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan pondasi dan kepribadian yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya (Laili, 2005). Apabila luput dari perhatian, maka di masa yang akan datang akan adanya generasi yang hilang (lost-generation). Untuk itu sebagai orang tua perlu memperhatikan hal-hal berikut (disadur dari http://www.yudhe.com/):

 

  1. Ceritakan mengenai kasus kriminal terkait dengan teman di dunia maya
  2. Memberi pesan supaya tidak mudah percaya dengan teman di dunia maya, sebaik apa pun orang tersebut. Semakin baik seseorang, diharapkan radar kewaspadaan lebih tinggi lagi.
  3. Jangan berbagi data pribadi, seperti nomor telepon rumah, nomor ponsel, alamat rumah, alamat sekolah, nomor rekening atau semua data yang dapat dilacak di dunia maya.
  4. Tekankan bahwa berbagi foto pribadi, terlebih lagi dalam pose vulgar, akan merugikan anak di kemudian hari. Bahkan foto anak di bawah umur pun dapat menjadi objek kaum pedofil.
  5. Peringatkan betapa bahaya untuk kopi darat dengan teman di dunia maya.
  6. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Hal tersebut merupakan kunci utama, karena mayoritas anak atau remaja yang mudah percaya dengan teman di dunia maya adalah mereka yang merasa kurang diperhatikan oleh orang tua.

 

Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa penting untuk waspada terhadap orang-orang baru yang dikenal melalui dunia maya. Terlebih lagi apabila orang tersebut mengajak untuk bertemu (kopi darat). Sebagai upaya pencegahan peringatkan kepada anak untuk tidak memasukan identitas pribadi ke dalam dunia maya, sekecil apapun itu dan jangan mudah percaya dengan orang-orang yang berada di dunia maya, sebaik apapun orang tersebut. Terakhir adalah penting untuk menjalin komunikasi dengan orang-orang terdekat, seperti orang tua.

 

Daftar Acuan

Hana, Bunda. 2014. Right from The Start. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Laili, Nurul. 2005. Makalah Karakteristik Anak Usia Dini. https://www.academia.edu/5092555/Makalah_Karakteristik_Anak_Usia_Dini

Wati, Desita Rahma Setia. 2010. Tinjauan Tentang Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Pedofilia Di Indonesia. Skripsi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

http://m.inilah.com/news/detail/2246481/awasi-anak-dari-jeratan-pedofilia

https://www.academia.edu/7461715/Paedophilia_-_Kekerasan_Sexual_pada_Anak

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/05/27/n67lez-inilah-4-dampak-psikis-anak-korban-pedofilia

www.polines.ac.id