Penelitian mengenai kekerasan pada anak pada tahun 2010 ini diselenggarakan
di enam sekolah dasar di tiga kabupaten di Kepulauan Maluku. Penelitian ini mengungkapkan bahwa anak mengalami kekerasan dari orang tua, guru dan juga teman sebaya di sekolah. Kekerasan umumnya dilakukan orang tua dan guru dengan alasan mendisiplinkan anak. Anak umumnya dipukul (dengan tangan, rotan, penggaris, kayu, sapu, dll) bila tidak disiplin di rumah (tidak melakukan tugas/perintah orang tua, melanggar jadwal tidur, mengaji, dsb) dan di sekolah (tidak mengerjakan pr, tidak membawa buku, terlambat, dll).
Sementara di sekolah anak pun mengalami dan menyaksikan kekerasan dari sesama siswa. Kekerasan fisik sesama siswa terjadi setiap hari dan lebih intensif dibandingkan kekerasan verbal dan psikologis. Respon anak terhadap kekerasan dari guru dan orang tua berbeda dengan bila anak mengalami kekerasan dari sesama siswa. Anak cenderung membalas langsung perlakuan teman dengan tindakan agresif pula. Sementara bila pelaku adalah orang dewasa (orang tua, guru, kepala sekolah) anak cenderung berlaku pasif, tidak mampu melawan dan merasa layak mendapatkan hukuman sebagai konsekuensi atas kesalahan / perilaku tidak disiplin yang ia lakukan. Namun kebanyakan anak menganggap kekerasan dari orang dewasa amat menekan perasaan, membuat anak merasa sakit hati, dendam dan marah. Secara umum, semua anak yang terlibat dalam riset ini mengaku merasa sedih, tertekan, takut, malu, marah serta tidak berdaya menghadapi kekerasan baik dari guru, orang tua maupun teman sebaya.
Bila anda hendak mengetahui tentang hasil riset secara lebihrinci, anda dapat menghubungi SEJIWA di antibullying@sejiwa.org atau di pesawat telepon 021- 7884 3283 / 021 7060 1060.





save as PDF