Young Hearts: Anak Bersuara Melawan Bullying di Sekolah
Jakarta, 25 Juni 2008. Sekitar 150 sekolah menengah dari Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya akan berpartisipasi dalam kampanye anti kekerasan (bullying) disekolah melalui media seni (musik, poster, foto, puisi) dan musik. Kampanye yang diberi nama Young Hearts mengambil tema “Belajar tanpa Rasa Takut”. Kegiatan ini mendorong siswa-siswa berpartisipasi mengekspresikan isu dan solusi seputar bullying dan kekerasan di sekolah melalui media seni dan musik untuk mewujudkan sekolah yang ramah anak. Di Jakarta, kegiatan Young Hearts diawali di Universitas Paramadina pada 25 Juni 2008 dengan seminar sehari tentang fenomena dan survey kekerasan dan bullying di sekolah dan dihadiri ratusan siswa sekolah Jakarta dan pejabat pemerintah.
Seminar sehari di Universitas Paramadina tersebut akan mengambil tema “Kekerasan di Sekolah Sekolah dan Peranan Musik, Seni, dan Media Dalam mengatasinya”. Akan hadir dalam acara tersebut pemerhati budaya Debra Yatim dan Ratna Juwita (pakar di bidang psikologi), sebagai pembicara.
Kampanye Young Hearts akan berlangsung hingga Mei 2009 baik di tingkat kota (Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya) , nasional (Jakarta) maupun internasional (Thailand). Selain seminar sehari di tiga kota tersebut, kampanye lewat media seni/musik akan diisi dengan serangkaian pelatihan kreasi media seni/musik, kompetisi media seni/musik dan pagelaran sejumlah media seni/musik pilihan untuk mengkampanyekan ”Belajar tanpa Rasa Takut”.
Kampanye Young Hearts merupakan inisitatif bersama Plan dan Yayasan Sejiwa serta melibatkan Departemen Pendidikan Nasional, praktisi media seni dan musik, kalangan akademisi seperti Universitas Paramadina, dan sekolah menengah, media massa dan pemerhati pendidikan.
Selain meningkatkan partisipasi anak-anak muda dalam menanggapi permasalahan disekitar mereka, Young Hearts membantu anak-anak muda menciptakan kreasi musik dan seni berkualitas. Kreasi musik dan seni berkualitas ini diharapkan menggugah kesadaran pemerintah dan kalangan pendidikan untuk menghentikan kekerasan/ bullying di sekolah dan meningkatkan sistem pendidikan yang ramah anak. Hal ini sejalan dengan Konvensi PBB artikel 12, 13, dan 29 tentang hak anak, yang mendukung pemakaian media seni/ musik sebagai cara efektif dalam meningkatkan kesadaran akan isu penting yang dihadapi anak-anak dan membantu mereka menganalisa isu tersebut dan mengekspresikan isu tersebut.
“Diharapkan melalui kegiatan kampanye ini, anak-anak memiliki kesadaran dan kepercayaan diri untuk terlibat menangani permasalahan dan memberi solusi alternatif atas kekerasan di sekitar mereka. Plan di Indonesia merasa perlu mendukung upaya peningkatan kualitas sekolah yang memungkinan siswa-siswa belajar tanpa rasa takut dan tumbuh kembang secara sehat,” ujar Paulan Aji, Communication Officer pada Plan Indonesia.
”Kampanye ini amat membantu meningkatkan bekerjanya otak kanan para anak didik kita melalui musik dan karya seni, agar mereka lebih santun, halus dan menghargai dalam bersikap dan berinteraksi dengan orang lain. Selama ini sekolah lebih terfokus pada bekerjanya otak kiri yang cenderung logis, aritmatis, tapi kurang diseimbangkan dengan isian pada otak kanan mereka. Barangkali ini yang membuat anak didik kita kering jiwanya, dan cenderung keras dalam bersikap. Semoga sekolah-sekolah akan lebih berusaha untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan musik dan seni, bahkan teater dan tari bila mungkin” ujar Diena Haryana, ketua SEJIWA.
Kampanye Young Hearts didorong oleh temuan survey yang dilakukan Plan dan Sejiwa pada Mei 2008 di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya tentang kekerasan di SD, SMP dan SMA. Survey yang melibatkan hampir 1.500 siswa (dari 11 SD, 6 SMP, 7 SMA) dan 75 guru tersebut menemukan bahwa terjadi kekerasan verbal dan psikologis (bullying), fisik oleh guru terhadap siswa (corporal punishment), kekerasan antar siswa (geng anak muda), pelecehan seksual dan penggunaan senjata. Dari jawaban kuesioner yang disebarkan di SMP dan SMU, 66.1% siswa SMP dan 67.9% siswa SMA menilai terjadi kekerasan disekolah. Pelaku kekerasan umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas, guru, kepala sekolah, dan ’preman’ disekitar sekolah. Hal ini juga diperparah oleh temuan survey tentang reaksi siswa dan guru terhadap kekerasan di sekolah. 31.3% siswa SMP dan 27.9% siswa SMA akan ikut melakukan kekerasan atau 24.1% siswa SMP dan 25.4% siswa SMA mengambil sikap diam saja (bystander) jika mendapati adanya kekerasan. Beberapa guru tidak tahu berbuat apa, sementara sebagian besar akan memanggil pelaku dan melaporkan ke guru BP hingga kepala sekolah.
Program Young Hearts berupaya membantu dunia pendidikan mengatasi permasalahan tersebut melalui keterlibatan langsung siswa-siswa SMP dan SMA dan didukung penuh oleh kalangan pendidik disekitar mereka.
Kampanye Young Hearts akan dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan hingga bulan Mei 2009. Setelah survey tentang kekerasan pada Mei 2008, selama bulan Juni ini dilakukan seminar sehari di tiga kota (Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya) tentang kekerasan disekolah dan perlunya upaya penanganan serta undangan pada siswa dan sekolah untuk terlibat dalam kreasi media seni/ musik dan mengirimkan karya mereka untuk dilombakan.
Pada bulan September 2008 akan dilakukan seleksi karya seni dan musik yang diciptakan oleh siswa-siswi SMP dan SMA. 10 karya terbaik seni dan kelompok musik dari 3 kota akan mendapat pelatihan khusus terkait seni dan musik dan melakukan pagelaran seni dan musik di masing-masing kota sebagai upaya kampanye.
Dari 30 karya seni dan 30 kelompok musik akan dipilih 3 dari masing-masing kategori dan kota untuk dipagelarkan secara nasional di Jakarta pada akhir Januari 2009. Kelompok pemenang ini juga akan mendapat pelatihan lanjutan dan berkolaborasi dengan Serieus Band. Mereka juga akan dilatih menjadi trainer yang memungkinkan mereka melatih siswa-siswa lain di berbagai sekolah dan terus berkampanye anti kekerasan/ bullying di sekolah melalui media seni dan musik.
Rangkaian kampanye ini akan berpuncak di Thailand pada Mei 2009 dimana Indonesia akan mengirimkan karya-karya seni dan 1 kelompok musik terbaik dalam acara tersebut. Bersama Indonesia, perwakilan anak dampingan Plan Internasional dari Filipina, Bangladesh, Vietnam, India dan Thailand akan berbagi pengalaman, melakukan pagelaran dan berkampanye menyuarakan stop bullying dan kekerasan di sekolah.***





save as PDF