SIBERKREASI CLASS : SMART PARENTING Sesi 7 “Mencegah Anak Teradiksi Gadget”

RINGKASAN SIBERKREASI CLASS : SMART PARENTING
EPISODE 7
“Mencegah Anak Teradiksi Gadget”
Rabu, 24 Juni 2020
Via Zoom Meeting
#BerkreasiDiRumah #SiberkreasiClass #smartparenting

Episode kali ini, Smart Parenting mendatangkan narasumber Ibu dr. Andyda Melia dari Founder Resourceful Parenting Indonesia dan tidak lupa Pematik kita yaitu Ibu Diena Haryana dari Sejiwa.

Dunia digital dan segala kesenangan yang ada di dalamnya merupakan hal yang tidak asing bagi setiap orang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Adanya unsur “entertaining” yang dapat memberikan perasaan luar biasa kepada anak menjadikan anak tertarik pada dunia ini. Padahal, dibalik kesennagannya, dunia digital bisa saja menjadi tempat yang tidak aman dna menimbulkan dampak negatif, salah satunya adalah adanya adiksi terhadap konten-konten yang ditawarkan.

 

Dalam dunia digital, banyak sekali konten-konten yang dapat memicu adiksi internet, yaitu sosial media, game online, konten pornogafi, judi online, kencan online, dan belanja online. Pada webinar sesi 7 ini akan lebih memfokuskan pada adiksi gawai (dalam hal ini adalah kasus adiksi pornografi) dalam kajian perkembangan otak anak. Survei yang didapatkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan pada tahun 2017, menyebutkan bahwa kurang lebih 6000 anak SMP dan SMA di 3 kota besar (Jakarta, Aceh, dan Jogja) menghasilkan data 95,1% remaja sudah mengakses pornografi dengan rincian 0,4% adiksi ringan dan 0,1% adiksi berat. Namun, sebenarnya yang menjadi pertanyaan adalah: kenapa begitu banyak anak mengakses pornografi dan apa yang membuat mereka tertarik?

Industri pornografi merupakan industri besar yang “mencari mangsanya”. Salah satu peneliti mengatakan bahwa industry ini menargetkan anak-anak yang masih kecil untuk dijadikan target. Hal ini karena mereka akan membuat anak-anak kecil pada awalnya diberikan konten secara gratis hingga akhirnya ketika sudah besar, anak sudah memiliki kecanduan terhadap pornografi yang kemudian akan menghabiskan uangnya dalam industry ini. Dalam dunia instrusi ini, konten menjadi hal yang dapat membuat anak menjadi kecanduan. Konten ini dapat muncul dalam berbagai media, mulai dari sosial media anak dan game yang anak mainkan. Pada awalnya, konten tersebut muncul secara tiba-tiba dan anak merasa tidak suka (jijik), namun perasaan ini akan memunculkan rasa ingin tahu yang besar dan kemudian akan menjadi dopamine (candu) pada anak.

Adanya bahaya nyata dari pornografi dapat dilihat juga dengan ¼ pencarian di Google adalah materi pornografi. Pornografi merupakan materi cetak maupun visual yang menunjukkan secara eksplisit organ seksual maupun aktivitas seksual yang tujuannya untuk membangkitkan gairah seksual. Apabila anak secara terus menerus mengkonsumsi pornografi, maka anak akan menimbulkan “adiksi”. Adiksi ini merupakan suatu hal yang dapat menggangu jalannya kehidupan yang normal. Addiksi ini berkolerasi dengan berbagai hal, yaitu: gangguan konsentrasi, depresi, gangguan kecemasan sosial (anak menjadi menyendiri dan berada di dunia yang dirahasikan), motivasi rendah, rendah diri, gangguan ereksi, dan gangguan seksual (hal ini disebabkan oleh cara kerja industri pornografi yang mendindoktrinasi anak atau pengguna agar memiliki keyakinan, sikap, dan perilaku seksual yang salah).

Apabila membahas mengenai pornografi, ada dua hal penting yang terjadi di otak, yakni apa yang terjadi dalam sitem limbik dan korteks prefrontal. Sistem limbik adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup seseorang, misalnya memastikan kebutuhan dasar terpenuhi (pangan, sandang, papan). Apabila dilakukan hal tersebut, maka system limbik akan mengeluarkan zat kimiawi yang dinamakan dopamin. Dopamin adalah zat yang dapat membuat seseorang merasa senang, sehingga kegiatan tersebut akan dicatat oleh bagian otak yang lain, sehingga akan diingat oleh otak dan membuat seseorang melakukan hal yang sama di kemudian hari. Ketika seseorang mengkonsumsi pornografi, individu tersebut akan “kebanjiran dopamin”. Banjir dopamin ini yang kemudian menjadi bahaya karena dapat merusak korteks prefrontal. Korteks prefrontal merupakan suatu bagian penting yang berfungsi sebagai “rem” otak yang mengontrol aktivitas anak. Apabila anak tidak mempunyai kontrol, anak dapat melupakan norma-norma ataupun nilai kehidupan yang telah dibangun sebelumnya.

Dalam hal adiksi, orang tua mempunyai tantangan besar di era digital karena adanya ketertarikan anak dalam dunia digital dengan segala kesenangannya. Sebagai bentuk untuk mencegah adiksi pornografi, orang tua dan guru perlu memainkan peran penting. Berbagai upaya dapat dilakukan oleh orang tua dan guru, antara lain.

  1. Orang tua perlu mengedukasi diri sendiri, baik mengenai konten yang ada di internet maupun cara kerja otak.
  2. Orang tua dan guru perlu membanun hubungan dan komunikasi yang kuat dengan anak.
  3. Orang tua dan guru perlu mengembangkan bagian otak anak, terutama yang berhubungan dengan dopamine dan korteks prefrontal. Penting bagi orang tua dan guru menciptakan kegiatan yang menyenangkan dan sehat, serta memperkuat “rem” yang ada di otak anak.
  4. Mengadvokasi sekolah agar mempunyai kurikulum mengenai wellness atau kesehatan yang termasuk di dalamnya mengajari anak agar mencegah kecanduan pornografi.

Sebagai orang tua, diperlukan keterampilan pengasuhan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang hebat dan tidak teradiksi terhadap dunia digital (pornografi). Terdapat dua prinsip penting dalam pengasuhan di dunia digital ini, antara lain.

  1. Membangun keteraturan (good habits)

Keteraturan merupakan hal penting untuk menciptakan kebiasaan baik pada anak. Dengan adanya kemungkinan anak teradiksi, maka keberaturan mungkin akan perlahan memudar. Tetapi, apabila orang tua secara terus menerus sadar untuk mengembangkan keteraturan, maka usaha ini akan menghilangkan adiksi (bad habits) dan memunculkan good habits baru.

  1. Keterampilan untuk mengelola emosi

Terdapat empat langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan emosi atau bisa juga disebut dengan LiRIkan Lola:

  1. Kenali

Kenali berkaitan dnegan bagaimana seseorang mengenali emosinya. Sebagai orang tua, perlu untuk membangun perbendaharaan kosa kata anak. Semakin kaya perbendaharaan kosa kata untuk emosi, maka akan memudahkan seseorang untuk mengambil keputusan dengan akurat.

  1. Sadari

Sadari berkaitan dengan bagaimana seseorang menyadari emosinya. Seperti contohnya, ketika anak masih berusia balita, orang tua dapat menebak apa yang dirasa anka agar kata yang telah dikenalkan orang tua dapat nyambung dengan apa yang dirasakan oleh anak.

  1. Ekspresikan

Ekspresikan berkaitan dengan bagaimana seseorang mengekspresikan apa yang dirasakannya. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengungkapkan emosinya melalui kata-kata. Perlu diketahui bahwa apabila anak sudah bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya, maka akan mudah bagi anak untuk mengelola emosinya.

  1. Kelola

Kelola berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola emosinya. Jika anak sudah bisa mengelola emosinya, maka anak akan mengetahui sebab dan solusi atas apa yang mereka rasakan.

Semua elemen masyarakat mulai dari unit terkecil sampai negara, dirasa perlu mengawasi dan mendampingi anak dalam dunia digital ini. Pencegahan terhadap adiksi gadget dan bagaimana menggunakan gadget hingga menghasilkan manfaat, merupakan salah satu kunci untuk menjadikan anak sebagai penurus bangsa yang unggul. Mari bersama mendampingi, melindungi, dan hadir dalam upaya pencegahan adiksi di dunia digital. Mari hadir dan bersama dengan anak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, jangan samapai kita semua menyesal.

               

Siberkreasi

In Collaboration with

Yayasan Sejiwa

#BerkreasiDiRumah #SiberkreasiClass #smartparenting