SIBERKREASI CLASS : SMART PARENTING Sesi 8 ““Manguatkan Harga Diri pada Anak”

 

SIBERKREASI CLASS SMART PARENTING 
Episode #08
 “Manguatkan Harga Diri pada Anak”
Sabtu, 27 Juni 2020

Host : Mira Sahid

Moderator : Diena Haryana (Yayasan Sejiwa)

Narasumber :

  • Rose Mini Agoes Salim, M.Psi (Founder Essa Consulting, Dosen Fakultas Psikologi UI)

 

 

 

Pegantar Bu Diena :

Anak-anak sebetulnya mengalami kondisi sosial yang tidak ramah dan tentunya ada anak yang kuat yang biasanya tangguh menyampaikan isi hati mereka, berani menyampaikan ketidaksetujuan, dan percaya diri untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Namun, ada juga anak yang sensitif, yang biasanya diam sambil merasa tertekan dan merasa tidak dihargai. Apabila hal ini terjadi secara terus-menerus, pengalaman ini bisa melukai harga diri anak.

Anak yang memiliki potret diri yang baik akan memiliki kedamaian dan kepercayaan diri untuk memecahkan masalah-masalah hidupnya. Sementara keterampilan orang tua dalam membangun rasa aman dan harga diri anak akan menjadi hadiah indah selamanya.

Dalam episode kali ini, Siberkreasi X Yayasan Sejiwa mengundang Bunda Romi sebagai pembicara. Bunda Romi menjelaskan bahwa membangun harga diri ini biasanya jarang kita pelajari. Dalam kondisi pandemic ini, biasanya stress meningkat dan stress ini bisa menular Orang tua yang stress stress bisa membuat anak jadi ikut stress. Namun, harga diri yang positif bisa membantu anak dalam menghadapi stress.

Setiap orang tua pasti mendambakan anak yang bahagia dan percaya diri. Namun, maksud baik orang tua belum tentu tersampaikan dan ditangkap baik oleh anak. Misalnya meminta anak membereskan kamarnya, namun dengan cara membandingkan ia dengan hasil kerja kakaknya.” (Bunda Romi)

Komentar yang kerap diterima anak, seperti tidak percaya, menyindir, menyalahkan, serta mengkritik anak bisa menyebabkan luka pada anak dan mengganggu harga diri anak. Harga diri merupakan evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu, sikap orang terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif sampai negative (Baron & Byrne, 2012). Evaluasi ini memperlihatkan penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya sendiri. Semakin rendah harga diri seseorang, maka ia semakin merasa dirinya tidak berarti. Komentar negatif dari orang tua bisa menjadi potongan puzzle gambaran negatif anak terhadap dirinya sendiri.

Bunda Romi memaparkan bahwa evaluasi diri dibentuk melalui pemahaman diri, konsep diri, harga diri (self esteem), dan kepercayaan diri yang diperoleh dari introspeksi yang dilakukan terhadap diri sendiri dan umpan balik yang diberikan oleh orang sekitar. Semakin banyak hal positif yang dicerna oleh anak, maka harga dirinya tinggi. Namun, semakin banyak hal negatif yang ia terima, seperti komentar buruk, maka ini bisa membuat self esteem anak rendah. Namun sayangnya, di sekolah jarang diajarkan untuk belajar menggambarkan diri sendiri.

Bunda Romi menjelaskan terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi harga diri seseorang, di antaranya :

  • Family experience, yaitu pengalaman hubungan orang tua dengan anak yang memiliki peranan paling penting untuk pekembangan harga diri
  • Performance feedback, yaitu umpan balik terus menerus terhadap kualitas performa kita seperti kesuksesan dan kegagalan. Jika kita merasa kerap menjumpai kegagalan, maka harga diri kian menurun, begitu pula sebaliknya. Namun, hal yang perlu orang tua ingat adalah tidak anda anak yang sempurna, karena mereka masih dalam tahap belajar.
  • Social comparison, yaitu proses membandingkan performa baik dengan hasil yang diharapnkan diri sendiri maupun dengan performa orang lain, misalnya anak dibandingkan dengan performa saudaranya atau tetangganya.

 

Harga diri yang tinggi bisa membuat seseorang memiliki konsep dirinya yang positif, merasa berharga, dan mau menerima diri apa adanya. Sementara, harga diri yang rendah membuat seseorang memiliki konsep diri yang negatif, merasa diri tidak berharga, dan merasa tidak puas dengan kondisi dirinya.

 

Bunda Romi berpesan pada orang tua bahwa ketika kita menemukan ada hal yang kurang pada diri anak, coba untuk diproporsionalkan. Misalnya anak tidak terlalu pandai secara akademik, namun ia mudah bergaul secara sosial. Hal itu bisa jadi positif. Dengan melihat kelebihan yang dimiliki dan menganggap bahwa hal itu penting, itu bisa membuat harga diri anak menjadi tinggi. Terdapat beberapa manfaaat ketika orang tua berhasil membangun harga diri anak, yaitu anak menjadi tidak mudah dikecilkan atau dilecehkan, mudah bergaul, disegani dan mau mengharai orang lain, percaya diri, mandiri, dan tidak banyak bergantung pada orang lain.

Di sisi lain, Bunda Romi juga mengingatkan orang tua agar berhati-hati dalam mendidik anak karena terdapat beberapa sikap orag tua yang dapat menurunkan harga diri anak, seperti berteriak dan memukul, mengancam atau menakut-nakuti, berkutat pada masa lalu, menyudutkan anak dengan rasa bersalah (menyalahkan), berbicara dengan kasar atau melabel, serta membanding-bandingkan.

Ketika orang tua melihat bahwa anak memiliki kekurangan, orang tua harus bisa menjelaskan secara spesifik anak kurang dalam bidang apa dan jangan digeneralisir.

 

Terdapat beberapa tips dari Bunda Romi untuk orang tua menumbuhkan harga diri pada anak, di antaranya :

  • Berikan kesempatan pada anak untuk mencoba dan berpendapat
  • Sampaikan kritik yang membangun pada anak, bukan menjatuhkan
  • Berikan lingkungan yang lebih banyak memberikan pujian dibandingkan hukuman
  • Ajak anak memahami kelebihan dan kelemahannya
  • Terapkan aturan kepada anak secara tidak kaku, sehingga memungkinkan anak untuk memberikan alasan atas apa yang ia lakukan
  • Hindari label negatif pada anak, seperti bodoh, tolol, dsj.

 

Dari pemaparan yang dijelaskan oleh Bunda Romi, Mbak Diena menarik insight bahwa ‘hadiah dari harga diri yang baik pada anak adalah rasa percaya diri yang bisa membuat anak kuat dan mampu mengatasi masah dalam kehidupannya. Itu adalah hadiah yang indah untuk anak’.

“Anak adalah investasi terbesar dan termahal untuk orang tua dibandingkan tanah, bangunan, dlsb. Pada waktu orang tua salah mendidik anak sehingga anak tidak mempunya harga diri, orang tua akan melihat itu seumur hidup sampai menutup mata. Jadi jangan main-main mendidik anak, dan harus diatur bagaimana cara kita ngomong di depan anak.” (Bunda Romi)

Bunda Romi menyampaikan bahwa terkadang niat orang tua itu baik, namun aplikasinya yang tidak baik. Misalnya membandingkan itu niat awalnya baik untu memotivasi, namun ternyata caranya salah. Maka dari itu, orang tua perlu punya wawasan yang luas tentang kapasitas anak yang sesuai dengan usianya.  Zaman sekarang informasi mudah sekali didapatkan, namun pertanyaannya apakah orang tua mau mengakses hal itu dan mengaplikasikannya.

Bunda Romi percaya bahwa anak memiliki banyak potensi talenta, tinggal tugas orang tua dan guru memberikan stimulasi untuk memunculkan talenta tersebut. Orang tua perlu membantu anak untuk menemukan apa yang ia suka atau tidak suka dan bisa membedakan serta menjelaskan alasannya berdasarkan pengalaman yang ia miliki.

Bunda Romi juga menjelaskan tentang kemungkinan terburuk apabila anak tidak mempunyai kepercayaan diri adalah ia bisa jadi rentan, seperti tidak mau mencoba, down ketika menghadapi ujian, bahkan bisa melampiaskan pada hal negatif seperti narkoba, dan lain-lain. Ketika orang tua ingin menjadikan anak tangguh, maka yang dilakukan bukan melindungi dari luar, melainkan perlu distimulasi secara internal. Anak perlu diajarkan untuk melihat kemampuan diri, namun jangan dibandingkan dengan hal yang lebih besar dari dirinya. Beri umpan balik yang jelas dan spesifik terhadap performa anak, dan beri tahu solusi konkret apa yang bisa dilakukan anak untuk memperbaiki dirinya.

Pada kasus khusus untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada anak yang memiliki trauma di masa kecil, menurut Bunda Romi, yang bisa dilakukan adalah menyelesaikan trauma itu dan itu tidak mudah. Anak perlu diajak memahami bahwa pengalaman negatif itu ada, lalu apa sumber daya yang ia miliki. Hal ini perlu dipahami oleh orang terdekatnya, bahwa di samping kekurangannya, anak perlu diajak melihat kelebihannya dan ini harus ditanamkan setiap hari. Sementara pada anak berkebutuhan khusus, perlu pendekatan yang berbeda. Perlu dilihat kebutuhan khususnya apa dan kita ajak anak melihat kelebihannya lalu mengembangkannya sesuai kapasitas anak. Mengajarkan harga diri yang baik pada anak dapat dimulai dengan melatih anak untuk selalu mampu melihat sesuatu yang positif sekalipun dari pengalaman yang tampak negatif.

Kesimpulan Bu Diena :

Merupakan hadiah besar untuk anak apabila orang tua mampu memberi umpan balik yang positif. Orang tua jangan hanya menagkap kesalahan anak, namun tangkap juga momen ketika anak berbuat positif. Jangan membandingkan anak karena setiap anak mempunyai potensi yang berbeda. Anak membutuhkan eksplorasi, dan bila potensi anak diberi kesempatan untuk ke luar, maka itu bisa mengangkat harga diri anak. Menciptakan atmosfer baik di keluarga juga merupakan hal penting untuk menumbuhkan harga diri anak, seperti lewat pujian dan melibatkan anak dalam kegiatan bersama keluarga. Hadiah selanjutnya dari harga diri yang baik adalah rasa percaya diri yang tinggi sehingga anak memiliki rasa mampu dan terampil dalam menjalani kehidupan ini.