SMART SCHOOL ONLINE 2018 : SEPERTI APA?

                 Tahun 2018 ini, highlight kampanye dunia digital dilakukan bersama program Smart School Online. Program Smart School Online kolaborasi SEJIWA, ICT Watch dan ECPAT Indonesia bekerjasama dengan Google.org telah diluncurkan sejak akhir tahun 2017. Akan tetapi, pelaksanaan programnya berlangsung sejak awal tahun 2018 di 10 wilayah Indonesia, diantaranya Jakarta Selatan (22 – 24 Februari), Jakarta Timur (28 Feb – 2 Maret), Ambon (8 – 10 Maret), Kupang (14 -16 Maret), Pare-pare (19 – 21 April), Pontianak (24 – 26 April), Banyumas (3 – 5 Mei), Cirebon ( 26 – 27 September), Palembang (2 – 4 Oktober), Lombok (10 – 12 Oktober).

Kegiatan Smart School Online ini diberikan kepada guru, orangtua, masyarakat umum dan siswa SMP dan SMA dengan waktu pelaksanaan kegiatan yang berbeda. Selama tiga hari tersebut, ada dua tipe kegiatan yang kami berikan yaitu Seminar untuk ±300 peserta dan Workshop untuk ±50 peserta/kelas yang dilakukan secara paralel dengan topik yang berbeda  Dalam program ini, SEJIWA lebih fokus kepada materi Digital Parenting: Menjadi Pendidik Unggul Bagi Milleanials Untuk Orangtua dan Guru, serta Aku Netizen Unggul Untuk Remaja. Secara keseluruhan, kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh sambutan dan kesan positif dari masyarakat.

TEMUAN LAPANGAN YANG MENARIK
Banyak sekali fakta-fakta menarik yang ditemukan di lapangan berkaitan dengan isu dunia digital. Walaupun berbeda-beda kasus di setiap kota, tapi ada garis besar yang sama terjadi pada orangtua masa kini. Salah satunya, banyak sekali orangtua dan guru yang belum mengetahui bagaimana mendampingi anak di era digital ini. Hal ini disebabkan karena mereka belum paham dalam penggunaan gawai, sehingga merasa kerap kali “dibodohi” oleh anak-anak mereka. Sulitnya akses dan media untuk belajar perkembangan dunia digital membuat para orangtua menjadi “ketinggalan” dibandingkan anak-anak mereka.
Ada juga orangtua yang tidak mengetahui bahaya gawai, sehingga memberikan kepercayaan penuh pada anaknya tanpa pengawasan. Uniknya bagi beberapa orangtua membelikan gawai atau telepon pintar yang keren adalah kewajiban, agar anaknya tidak ketinggalan zaman dan sama unggulnya dengan teman sepermainannya. Akhirnya, banyak orangtua yang melepaskan keseharian anak-anak mereka dengan gawainya. Kejadian inilah yang menjadi awal permasalahan komunikasi antar anak dan orangtua yang buruk di era digital ini.
Disisi lain, temuan menarik juga kami temukan pada anak-anak. Mayoritas anak mengakui bahwa mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gawainya dibandingkan dengan aktivitas lain. Umumnya mereka menggunakan gawai untuk membuka media sosial, bermain games online, menonton atau berkomunikasi dengan teman-teman. Bahkan dibeberapa kesempatan workshop, ada anak-anak yang mengakui menggunakan gadget selama 20 jam sehari. Fakta yang sangat mengejutkan bukan? Lebih jauh, rekomendasi penggunaan gawai selama 4 jam 17 menit oleh Andrew Przybylski, peneliti dari University of Oxford dinilai cukup sulit diaplikasikan oleh anak-anak.
Fakta-fakta tersebut tentu menjadi PR bagi kita bersama. Tidak hanya tugas anak-anak saja untuk mengubah perilakunya, tetapi juga pola pengasuhan orangtua dan sistem yang diterapkan di sekolah berkaitan dengan penggunaan gawai, dapat menjadi faktor yang bisa mendukung perilaku positif antara anak dan gawainya. Semoga program Smart School Online terus hadir di tahun 2019 dengan menyentuh lebih banyak lapisan masyarakat di Indonesia. Dengan demikian, pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki dapat kami sebarluaskan demi kebaikan  bagi banyak orang di era digital ini. 

%d blogger menyukai ini: