Workshop IKAPI – Perpustakaan Nasional – SEJIWA

Kerangka Acuan

“Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa”

Latar Belakang

Akhir akhir ini kita melihat begitu banyaknya perilaku yang amat jauh dari keluhuran yang ditunjukkan oleh sebagian siswa/i di sekolah sekolah. Diantaranya, perkelahian antar sekolah, pemukulan oleh kakak kelas kepada adik kelasnya, peristiwa peristiwa ketika MOS berlangsung yang masih sarat dengan kekerasan, bahkan berdampak pada kematian siswa (data SEJIWA, 2009: 4 siswa/ dan 2 calon mahasiswa tewas dalam MOS), dan berbagai perilaku kekerasan yang seolah-olah menjadi nada irama rutin yang diperdengarkan media massa akhir akhir ini.

Perilaku ini juga ditampilkan oleh sebagian dari pendidik kepada anak anak dalam bentuk bentuk yang memprihatinkan. Ada yang masih menggunakan rotan atau penggaris untuk memukul anak, bila kedapatan anak tersebut tidak patuh. Ada orangtua yang meminta guru memukul anaknya bila anak tersebut tidak patuh (penelitian SEJIWA di Maluku, 2010). Bentuk bentuk pendisiplinan dengan cara cara kekerasan pada anak masih sering terdengar dan masih cukup banyak para pendidik yang menganggap hal tersebut amatlah wajar dan bukan masalah yang perlu diprihatinkan.

SEJIWA mengadakan pendataan tentang jumlah siswa/calon mahasiswa yang menjadi korban perilaku tak luhur di dunia pendidikan, dan mendapati data yang memiriskan. Dari data yang terhimpun mulai akhir 2005 sampai akhir 2007, didapati sejumlah 30 anak berusia 9 s/d 15 tahun yang telah bunuh diri maupun meninggal karena perilaku tak luhur tersebut, diantaranya pengeroyokan, pelecehan, pemukulan, penggencetan, yang membuat korban merasa tak berdaya dan kehilangan harapan hidup yang layak dan bermartabat. Ketika harapan harapan ini hilang, mereka mengakhiri hidup dengan cara cara yang mengenaskan.

Perilaku yang ditunjukkan anak tak lepas dari perilaku yang mereka serap sehari hari dari orang orang dan lingkungannya. Pola asuh orang tua yang keras dan kurang berempati berdampak kepada anak anak yang keras dan kurang berempati pula, atau sebaliknya, anak anak yang pasif dan kehilangan kepercayaan dirinya. Apa yang mereka lihat dan dengar di media masa, film dan game permainan di internet yang sarat dengan ketidakpantasan (keras, atau pornografi) menambah kuatnya penanaman nilai nilai anti keluhuran yang selanjutnya berdampak kepada anak anak yang menganggap apa yang setiap saat tersaji dalam kehidupan mereka menjadi kewajaran dan layak pula mereka ikuti.

Saat ini Pesantren Suralaya dipenuhi tidak saja para korban narkotika, tetapi juga anak anak yang kecanduan menggunakan internet, sehingga mereka tak mampu lagi mengatur waktu mereka dengan baik untuk belajar dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Mereka menjadi tak peduli terhadap dirinya maupun lingkungannya. Mereka kehilangan empati, tanggung jawab terhadap hidupnya dan lingkungannya, serta tak peduli terhadap apapun yang terjadi di lingkungannya. Mereka kehilangan potensi diri mereka untuk menjadi manusia utuh yang penuh kreativitas dan antusiasme. Kemajuan teknologi telah menelan sebagian dari anak anak kita untuk tak berkembang.

Kehidupan yang penuh dengan konsumerisme, dimana mall mall bertumbuhan dimana mana, mengurangi ruang gerak anak di alam terbuka, memaksa mereka hidup sebagai manusia yang tergantung pada tempat tempat tersebut. Mereka beraktifitas disana, bertemu teman temannya, bergaul, bergaya, bermimpi, di tengah tengah dunia konsumerisme yang membius mereka menjadi materialistis dan konsumtif. Mereka bukan saja jauh dari alam terbuka, bahkan dari dirinya sendiri. Kreatifitas mereka bisa jadi terancam, potensi potensi mereka bisa jadi pula terhambat untuk berkembang pesat. Mereka menjadi “generasi kafe” yang tumbuh dengan ketergantungan kepada kehidupan yang hingar bingar, membentuk mereka jadi kurang peduli dan berempati kepada lingkungan mereka di luar sana, yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

Selain bullying, sekolah sekolah juga menghadapi adanya korban korban miras serta narkoba diantara siswa siswa kita, yang telah membuat anak anak tersebut hidup dalam ketergantungan yang menghancurkan kehidupan mereka. Mereka menjadi apatis, tak memiliki harapan, terbenam didalam kenistaan. Bila korban korban ini berasal dari keluarga tak mampu, maka sulit bagi anak anak tersebut untuk keluar dari kondisi buruk ini.

Semua yang tergambar di atas hanyalah sebagian kecil ilustrasi kehidupan yang terjadi pada sebagian anak anak didik kita. Semua perilaku tersebut di atas menggambarkan lemahnya nilai nilai luhur yang tertanam pada jiwa jiwa mereka. Bagi anak anak seperti ini, lingkungan dimana mereka tumbuh, bisa jadi miskin dari kesuri tauladanan, kering dari empati, kepedulian dan respek, membuat mereka tak memiliki contoh untuk berbuat baik. Nilai nilai luhur mereka pudar dan terbenam dalam sikap sikap yang egoistis, asosial maupun asusila. Kehidupan mereka mengalir liar tanpa arah, kehilangan kesempatan untuk menjadi yang terbaik dari diri diri mereka.

Dunia pendidikan dapat menjadi tempat yang strategis untuk membangun karakter luhur anak. Pihak sekolah  dapat menyentuh dan mendorong para siswa untuk mengembangkan perilaku luhur ini. Para guru juga perlu lebih mencari upaya agar melalui kesuritauladanan, mereka mampu mempengaruhi anak didik sedemikian rupa, sehingga mereka menjadi panutan dan pilar yang mampu membangkitkan anak anak untuk saling menghargai, peduli, melakukan kerjasama, berkreasi, dan membangun kedamaian. Kita berharap banyak akan dunia pendidikan kita, dimana sekolah bisa menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak anak kita, sehingga mampu menyerap minat anak anak kita untuk beraktifitas, tumbuh dan berkembang di dalamnya. Permasalahannya, kita semua punya tanggung jawab untuk memicu perubahan positif ini untuk terjadi.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional, hari jadi IKAPI ke 60, dan hari jadi Perpustakaan Nasional ke 30 dan, SEJIWA bekerjasama dengan IKAPI dan Perpustakaan Nasional untuk mengadakan sebuah workshop yang mengangkat tema “Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa”. Didorong kesamaan pandang dalam melihat permasalahan sosial dan pendidikan khususnya, yang berkaitan dengan karakter luhur ini, maka kami mengangkat tema workshop “Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa”, mengingat sekolah adalah lahan yang paling strategis untuk membuat sebuah kesadaran terjadi. Sebagai “the future generation”, bila anak anak didik kita dikuatkan dalam pembentukan nilai nilai luhur mereka, maka kita bisa berharap generasi mendatang akan mampu membangun sebuah budaya damai dan kreatif yang akan mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.

Workshop ini bermaksud mengajak seluruh pihak dalam masyarakat kita untuk bekerjasama mendorong terjadinya sebuah kesadaran luas akan pentingnya berperilaku luhur di segala bidang. Selain usaha usaha keras untuk meningkatkan kualitas sekolah sekolah kita dalam membina karakter luhur siswa, diperlukan pula usaha usaha lainnya. Para penulis buku dan penerbit, peneliti, wartawan, tokoh-tokoh masyarakat, LSM, serta semua pihak dalam dunia pendidikan kita perlu mencari peluang-peluang pada disiplin masing-masing dalam menanggulangi fenomena penumpulan terhadap perilaku luhur pada sebagian dari anak didik kita. Dikhawatirkan bahwa tanpa upaya yang memadai dari berbagai pihak, kondisi ini akan memburuk dan semakin sulit untuk diatasi. Bila hal ini terjadi, maka bangsa kita akan terpuruk menjadi bangsa yang semakin lemah, tak berdaya dan miskin makna kehidupan.

Tujuan Workshop

  • Mengajak pihak pihak sekolah untuk berupaya mengatasi gejala gejala pudarnya nilai nilai luhur pada sebagian anak anak didik kita, dengan meningkatkan kemampuan para guru untuk  mempengaruhi anak didik melalui kesuritauladanan mereka.
  • Mendorong para penulis, penerbit dan media masa untuk menghasilkan karya karya penulisan yang menginspirasi masyarakat, dan menjadikan “Pembinaan Karakter” ini sebagai tema utama karya karya mereka untuk mengajak masyarakat berpikir, berkata dan berperilaku luhur di segala lini kehidupan.
  • Mendorong para guru, orang tua dan para pendidik secara luas untuk terus mencari cara cara dalam mengarahkan anak didik agar mereka tumbuh sebagai anak anak yang berkarakter luhur, sehingga mampu berperilaku luhur dalam kehidupan mereka.
  • Menyadarkan masyarakat akan terjadinya penumpulan terhadap karakter luhur  pada berbagai bentuk kehidupan kita saat ini, sehingga membangkitkan semangat untuk mengatasinya, khususnya melalui ranah pendidikan.
  • Mendorong terjadinya jaringan “Peduli Penataan Pembentukan Karakter Luhur pada Anak Didik Kita” yang luas di Indonesia melibatkan sekolah sekolah, pemerintah, psikolog, peneliti, media masa, LSM-LSM, para penulis, penerbit, polisi, dan para tokoh masyarakat.

Diselenggarakan: IKAPI dan Perpustakaan Nasional

Didukung oleh: Direktorat Pendidikan Menengah Provinsi DKI Jakarta   ***** (mohon approvalnya, Pak Taufik Yudi… with thanks, diena)

Dilaksanakan oleh: Yayasan SEJIWA (keterangan di bawah)

Pelaksanaan Workshop:

Tanggal                :  17 Mei 2010

Tempat                :   Perpustakaan Nasional, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat

Waktu                   :  Jam 8.30 s/d 15.30

Peserta                 :  250 orang terdiri dari:

  • Menteri Pendidikan Nasional: Prof Dr Ir H. Mohammad Nuh, DEA/

Bapak Fasli Djalal

  • Direktur Pendidikan Menengah Prov DKI Jakarta: Bapak Taufik Yudi Mulyanto
  • Anggota DPR Komisi X peduli Pembinaan Karakter Luhur: Ibu Venna Melinda dan Ibu Theresia Pardede (TeRe)
  • Jaringan penerbit dan distributor buku di Indonesia
  • Jaringan penulis dan seniman
  • Orangtua dan guru
  • Para jurnalis
  • LSM nasional dan internasional
  • Volunteers dan panitia
  • Para pembicara

Pelaksana Workshop:

Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA)

Sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan. Beranggotakan psikolog, para pendidik dan profesionals, SEJIWA bertekad memainkan perannya dalam membantu meningkatkan mutu pelajar yang dihasilkan oleh sistem pendidikan kita, yang sehat, toleran, peduli, memiliki respek pada orang lain dan bersahaja.

Alamat SEJIWA:

Jl. Rawa Bambu 14C, Pasar Minggu, Jakarta 12520

Telp: 78843283, 70601060; fax: 7811058

Email address: antibullying@sejiwa.org; Website: www.SEJIWA.org

Contact Person:  Emilia Bassar: 0816-1904994; Nurhuda Astari: 0813-7175200

Pembicara:

  • Welcoming speech: Bapak Agus Pambagio (SEJIWA)

Sambutan 1: Bp. Setia Dharma Madjid

Sambutan 2: Ibu Venna Melinda atau Ibu Theresia Pardede

  • Key Note Speaker:

Menteri Pendidikan Nasional atau Wakil

  • Profesor Harkristuti Harkrisnowo, SH, MA, PhD; Direktur Jend Departemen HAM
  • Bapak Taufik Yudi Mulyanto: Direktur Pendidikan Menengah Provinsi DKI Jakarta
    • Professor Irwanto, PhD, Guru Besar Tetap FPsi Univ Atmajaya, Direktur Penelitian dan Pengembangan Masyarakat, Universitas Atmajaya
    • Bapak Tommy Tamtama: pemerhati masalah masalah berkaitan dengan pembentukan karakter luhur
    • Bapak Sudijo: Program Manager, Plan Indonesia
    • Ratna Djuwita: Dosen dan peneliti dari Universitas Indonesia, pendukung SEJIWA dalam kajian dan penanggulangan masalah-masalah bullying
    • Diena Haryana: Ketua LSM SEJIWA
    • Hiburan:  siswa/i pendukung kegiatan antibullying

Moderator:

Debra Yatim: Pemerhati Masalah Pendidikan, Penulis, Penyair


Jadwal Workshop:

8.30 – 9.00:         Registrasi

9.00 – 9.05:         Film pendek menampilkan kasus-kasus kekerasan di sekolah

9.05 – 9.15:         Puisi ‘Stop Bullying’ oleh: Ferinda

9.15 – 9.40:         Welcoming Speech: SEJIWA, Bp Agus Pambagio

Pidato Sambutan 1: Ketua Umum IKAPI

Pidato Sambutan 2: Anggota DPR, Komisi X: Ibu Venna Melinda atau Ibu Theresia Pardede (TeRe)

9.40 – 10.00:       Key Note Speech : Bapak Menteri Diknas atau Wakil

10.00 – 10.30:     Penampilan Group Band Falset, Juara Nasional Musik Anti Kekerasan Pada “Young Hearts Project” (Plan Indonesia-SEJIWA), dan mewakili Indonesia dalam “Youth Gathering on Anti Violence” di Thailand, 2009.

10.30 – 12.00:     “Mengapa Perlu Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa?”

Profesor Harkristuti Harkrisnowo,

Profesor Irwanto, PhD;

Bapak Sudijo;

Ibu Ratna Juwita. Moderator: Debra Yatim

Tanya Jawab

12.00 – 13.00:     Rehat makan siang

Potong tumpeng ulang tahun

Press Conference

13.00 – 13.30:     Survey terhadap peserta workshop:

1. Apakah anda akan turut melakukan sesuatu untuk menanggulangi masalah pemudaran terhadap pembentukan karakter luhur di kalangan siswa?

2. Apakah peranan anda yang dapat anda lakukan dalam rangka turut menanggulangi masalah ini?

3. Apakah selanjutnya yang perlu dilakukan SEJIWA ke depan?

13.30 – 16.00:     Adakah jalan keluarnya?

Bapak Taufik Yudi Mulyanto, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

Bapak Tommy Tamtama, Pemerhati Pendidikan Karakter;

Diena Haryana, Ketua LSM SEJIWA.          Moderator: Ibu Debra Yatim

Tanya jawab; wrap up; penutupan

Leave a Reply