“Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa”
Jakarta, 18 Mei 2010—Hakekat pendidikan adalah pembentukan sikap dan perilaku, serta pengembangan potensi sumber daya manusia yang bermanfaat bagi individu itu sendiri dan bangsa secara umum. Namun dalam pencapaiannya, dibutuhkan satu sistem yang mampu menyatukan unsur-unsur pendidikan dalam satu visi dan rujukan secara nasional. Pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, guru, siswa, para pemerhati pendidikan, adalah unsur-unsur sistem pendidikan, kekuatan besar yang apabila diintegrasikan akan menjadi satu kekuatan yang sangat besar untuk secara bersama-sama mencapai visi mencerdaskan kehidupan bangsa.
Persoalan-persoalan tentang pendidikan yang hingga kini masih menjadi polemik adalah menyangkut cara yang digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Diperlukan suatu usaha yang holistik, intensif, dan berkesinambungan.
Karena semua orang berangkat dari keluarga, maka kunci untuk mengatasi persoalan di atas ada pada keluarga. Ada beberapa fungsi keluarga yang bersifat spiritual yang perlu ditegakkan, yaitu fungsi religius, pendidikan, sosialisasi, dan perlindungan. Keluarga adalah kelompok yang memberikan acuan bersikap dan bertingkah laku. Di sinilah perlunya model yang berdimensi fisik, sosial, maupun psikologis. Dalam hal ini, orangtua adalah model sekaligus penyedia energi positif yang diekspresikan dalam bentuk pemberian dukungan, semangat, bimbingan, dan penghargaan. Permasalahan yang kemudian timbul dari kondisi ini adalah “kesibukan” orangtua dalam penegakan fungsi ekonomi keluarga. Kondisi ini mengindikasikan diperlukannya lembaga-lembaga pendukung untuk menegakkan keseimbangan perwujudan peran fungsi-fungsi di atas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pada hari ulang tahun IKAPI ke-60 yang berbarengan dengan hari ulang tahun ke-30 Perpustakaan Nasional, dengan menggandeng SEJIWA sebagai pelaksana, menggelar workshop sehari dengan tema “Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa”. Dalam kata sambutannya, Ketua IKAPI Setia Dharma Madjid, berjanji mengajak semua penerbit di Indonesia untuk mencetak bubu-buku bermutu berkenaan dengan pembinaan karakter.
Workshop yang diselenggarakan di Aula Perpustakaan Nasional, Jl. Medan Merdeka Selatan no. 11 Jakarta Pusat itu dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai unsur pendidikan. Workshop ini sangat menyentuh seorang anggota komisi X DPRRI yang peduli pembentukan karakter, Venna Melinda. Dalam sambutannya Venna mengaku, “Selama menjabat anggota dewan, ini undangan pertama yang meaningfull bagi saya. Seharusnya acara seperti ini tidak hanya digelar dalam ulang tahun IKAPI dan Perpustaan Nasional saja, tapi diselenggarakan di tiap sekolah dan instansi pendidikan di Indonesia agar semua pihak terkait pendidikan sadar akan pentingnya pendidikan karakter dalam usaha membentuk kepribadian bangsa.”
Dalam pidatonya, pemerhati masalah-masalah berkaitan dengan pembentukan karakter luhur, Tjahyo Tamtomo, mengatakan, “Karakter yang baik tidak muncul secara otomatis; hal ini berkembang bersamaan dengan waktu melalui sebuah proses dari pengajaran bertahun-tahun dan juga cognitive input dari sekitarnya untuk menjadi praktek yang berkembang menjadi pendidikan karakter. Pendidikan Karakter sangat penting sekarang ini, karena anak-anak muda kita akan menghadapi banyak kesempatan tetapi juga banyak bahaya yang ‘tidak terdefinisikan’ oleh generasi-generasi sebelum mereka. Anak-anak kita sangat ter-‘bombardir’ oleh banyak sekali pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari media elektronika secara sangat kuat di peradaban moderen ini.”
Guru Besar Tetap FPsi Universitas Atmajaya, Prof. Irwanto, mengatakan bahwa setiap manusia secara alamiah dibekali dengan kondisi putih, namun dalam perjalanannya akan selalu dibayangi oleh kondisi hitam. Inilah tantangan bagi setiap manusia dalam mengaktualisasikan kondisi putih dalam dirinya.
“Kurangnya pengetahuan dan pemahaman pihak sekolah, orangtua, maupun siswa terhadap bullying, serta kurangnya kesempatan anak untuk belajar bersosialisasi dan berkomunikasi secara alamiah dengan keluarga adalah sebab mengapa permasalahan ini terjadi. Karena itulah nilai-nilai luhur harus kembali diaktifkan di rumah maupun di sekolah,” ujar dosen dan peneliti dari Universitas Indonesia, Ratna Djuwita.
Di lingkungan sekolah, guru adalah sosok teladan bagi siswa. Dirjen HAM Kemenhukham, Harkristuti Harkrisnowo, menaruh harapan besar kepada para guru dalam pembentukan karakter bangsa, “Orangtua cenderung menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah. Inilah tugas berat yang diemban seorang guru dan sekolah.”
Bagi konselor masalah keluarga dan pembentukan karakter, Rani Anggraeni Dewi, karakter luhur memiliki kekuatan membuka hati dan mengubah sifat manusia, sehingga kehidupan dipenuhi dengan perdamaian dan kerendahan hati. Dengan memberi kesempatan siswa/anak mengembangkan nilai-nilai dalam diri mereka, berarti kita menyiapkan mereka melangkah menuju dunia dengan penuh optimis. Dengan demikian, nampaknya kita benar-benar perlu meninjau ulang metode pendidikan yang selama ini digunakan, apakah sudah tepat guna agar memungkinkannya menghidupi nilai-nilai dalam setiap siswa.
Untuk kembali menghidupi karakter luhur, Ketua Yayasan SEJIWA Diena Haryana, berpendapat diperlukannya usaha menuju perubahan secara systemic solution, di mana semua unsur pendidikan secara integrated berjalan searah menuju pendidikan yang berbasiskan karakter dan kompetensi secara seimbang. Selama ini kita hanya menekankan pada pendidikan berbasiskan kompetensi. Menurut Diena, perubahan hanya bisa terjadi jika setiap unsur pendidikan memiliki ‘problem ownership’, sehingga masing masing memperbaiki keadaan sesuai peran masing masing. Ia menambahkan “Tak mungkin perubahan di luar diri bisa kita lakukan, sebelum kita mampu mengubah diri sendiri. Semoga usaha ini dapat kita teruskan bersama ke depan hingga perubahan terjadi,” ujar Diena menutup pidatonya.[dj]





save as PDF