Workshop Sehari

Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional, Hari Jadi IKAPI ke 60, dan Hari Jadi Perpustakaan Nasional ke 30

Jakarta, 17 Mei 2010,—Mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu, mendidik adalah usaha berkesinambungan dalam membentuk karakter seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika, estetika, maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Idealnya memang demikian, namun apa yang terjadi di ranah praktis? Banyak kita jumpai perilaku anak didik yang mengalami krisis karakter—melenceng nilai-nilai luhur. Kita jumpai spektrum dari krisis karakter terjadi hampir di segala bidang kehidupan, semisal di bidang kepemimpinan, kesadaran bela negara, kebangsaan, sejarah bangsa, spiritualisme, toleransi, olah raga (sportivitas), ketahanan hidup, dan kasih sayang. Fenomena ini tidak dapat kita lepaskan dari arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobalbahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara—hingga mempengaruhi seluruh sendi kehidupan.

Apabila kita amati, pencapaian pendidikan nasional kita masih jauh panggang dari api, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan perkembangan pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun kualitatif, pendidikan nasional masih memiliki kelemahan mendasar. Pendidikan nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam membentuk karakter dan watak kepribadian, bahkan terjadi adanya degradasi moral.

Namun demikian, Ketua Yayasan SEJIWA, Diena Haryana masih menaruh harapan pada sekolah sebagai agen pendidikan pembentukan karakter. Diena mengatakan, ”Kita berharap banyak akan dunia pendidikan, di mana sekolah bisa menjadi tempat yang aman dan menyenangkan, sehingga mampu menyerap minat anak-anak untuk beraktifitas, tumbuh dan berkembang di dalamnya. Permasalahannya, kita semua punya tanggung jawab untuk memicu perubahan positif ini untuk terjadi.”

Konselor masalah keluarga dan pembentukan karakter, Rani Anggraeni, mengatakan, “Kami percaya, secara spiritual setiap manusia sudah dibekali nilai-nilai luhur di dalam dirinya. Namun, diperlukan pendidikan berbasiskan nilai untuk mengaktualisasikan karakter luhur itu?

Kita harus sadar, bahwa pembentukan karakter sangat penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya. Hal ini cukup beralasan, mengingat desakan krisis yang terus berkelanjutan melanda negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas.

Menanggapi fenomena ini, pemerhati masalah-masalah berkaitan dengan pembentukan karakter luhur, Tjahyo Tamtomo MA, M-Phil, mengatakan, “Masih minimnya ‘leading by examples’ yang diperlihatkan oleh para pemimpin, regulator dan para pembuat kebijakan, menyebabkan rakyat menjadi bingung dalam mencari panutan. Masih dilakukannya ‘pembiaran’ terhadap masalah-masalah governing dan acts of commissions menyebabkan rakyat mencari solusi dengan melakukan self-organizing actions yang mendasarkan kepada nilai-nilai keadilan di masyarakat. Inilah yang menjadi karakter rakyat pada saat ini.

Dalam usaha melahirkan generasi yang mampu mengaktualisasikan diri, semua pihak terkait pendidikan harus menemukan beberapa hal terkait pendidikan pembentukan karakter, antara lain: menentukan problems identification & definisi dari masalah pendidikan karakter; mendefinisikan kebutuhan-kebutuhan real yang diperlukan untuk problem solving; dan menentukan solusi dalam bentuk program real di aspek-aspek implementasi kualitatif dan kuantitatif,” papar Tjahyo Tamtomo lebih lanjut.

Kita juga harus menyadari, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak, baik keluarga, sekolah, instansi pemerintah, penegak hukum, media massa, penulis dan penerbit, LSM, serta masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu diupayakan penyambungan hubungan dan educational networks. Pembentukan dan pendidikan karakter, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.

Momentum Hari Buku Nasional, Hari Jadi IKAPI ke 60, dan Hari Jadi Perpustakaan Nasional ke 30, sengaja diambil untuk menggelar workshop dengan tema “Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa” diharapkan mampu menjadi pijakan para penulis dan penerbit dalam mengupayakan pendidikan pembentukan karakter. Saya berharap workshop ini bisa memacu penulis dan penerbit untuk melahirkan karya-karya yang mengarah pada pembinaan karakter, sehingga mengurangi kekerasan yang selama ini terjadi,harap Ketua IKAPI, Setia Dharma Madjid.[dj]

Leave a Reply