BINCANG SEJIWA EPISODE 10 : “Waspadai Adiksi Gadget Mengikis Karakter Baik”

BINCANG SEJIWA EPISODE 10
“Waspadai Adiksi Gadget Mengikis Karakter Baik”
Minggu, 02 Agustus 2020

Narasumber :

  • Anne Gracia (Praktisi Neurosains Terapan – Vigor)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A. (Pakar Pendidikan Karakter)

Dipandu oleh Wuri Ardianingsih (Academic Advisor SEJIWA)

 

Pada Episode ini, Bincang Sejiwa membahasa mengenai sebuah kasus dimana terdapat seorang pemuda yang sejak kecil telah mendapatkan gadget tanpa pendampingan orang tua, ia juga menjadikan gadget sebagai pelarian atas kesepiannya, dan ternyata penggunaanya berlebihan. Lalu bagaimana tanggapan Mba Anne mengenai kasus tersebut?

Pada masa pandemi ini, angka adiksi gadget menjadi meningkat, karena kita manusia adalah makhluk sosial dan makhluk sosial itu selalu membutuhkan interakasi. Pada saat kehidupan sosial kita harus ditahan, karena kondisi saat ini membutuhkan keamanan, sehingga kita harus menahan diri untuk keluar dan menjaga jarak. Maka, kita akan mencari cara lain, namun mencari cara lainnya tersebut untuk saat ini berbeda dengan zaman dahulu. Pada zaman dahulu terdapat wabah kolera, yang situasinya sama dengan wabah covid-19. Di mana semua orang diminta untuk tidak keluar rumah, dahulu dalam kondisi dikurung maka, yang terjadi yaitu, dalam keluarga berkreasi membangun beraneka aktivitas untuk meningkatkan kebutuhan interaksi sosialnya. Namun, saat ini kita berinteraksinya menjadi melalui gawai, karena teknologi sudah mengizinkan hal tersebut. Otak kita seharusnya memiliki kemampuan analytic thinking, hal tersebut dapat terjadi ketika seseorang dapat memunculkan kendali dan kendalinya tersebut berada di otak. Sehingga terdapat area otak yang harus terbentuk koneksinya dengan sangat padat, agar dialah yang akan menjadi kendali untuk semua area otak lain yang bekerja. Tetapi, ketika kendali ini tidak terbentuk akan terseret pada magnet emotion (aku suka, aku mau). Sehingga, ketika menyusun skala prioritas, maka prioritas-prioritas tersebut hanya akan terkonsentrasi pada keinginan pribadi. Ketika hal itu semua dipenuhi oleh gadget yang awalnya gadget menjadi alat untuk belajar, alat bantu, alat dukung akhirnya menjadi alat utama.

Kecanduan atau adiksi berawal dari atensi (perhatian), kemampuan otak untuk menangkap stimulus baik visual maupun audio. Daerah otak depan memiliki jaringan koneksi ke daerah atensi untuk mengikat atensi, sehingga berubah status menjadi fokus. Ketika kita tertarik terhadap suatu hal, kita akan mengarahkan atensi kita kepada hal tersebut dan ternyata visual dan auditory kita terkoneksi dengan baik membuat kita tertarik untuk mengetahui lebih jauh, maka terbentuklah fokus, sehingga kita akan memperhatikan terus hal yang menarik tersebut. Ketika sudah fokus dan mulai memahami hal yang menarik untuk kita, maka terbentuklah konsentrasi. Namun, apabila atensi sudah tidak dapat di distract (diganggu), ketika kita sudah fokus terhadap hal yang menarik tadi dan terdapat hal lainnya (seperti, terdapat suara atau notifikasi atau gambar lainnya), biasanya kita akan mencari sumber suara tersebut, atau mencari tahu mengenai gambar tersebut yang mana artinya otak kita masih siap untuk menerima stimulus lainnya. Namun, kalau kita sudah terlalu fokus atau melihat hal yang menarik tersebut secara nanar tanpa bisa memiliki kemampuan untuk berganti atensi sedikit pun, hal tersebut sudah termasuk dalam adiksi awal. Sehingga, konsentrasinya sudah terkunci rapat dan hal itu tidak baik untuk otak, karena tidak aman untuk tubuh dan kehidupan kita. Karena, otak itu bertugas untuk membuat manusia aman dan nyaman. Tetapi yang memiliki adiksi, konsentrasinya sudah terikat, jangan-jangan mulai bertahap kehilangan sensasi internalnya, sehingga ketika ingin buang air kecil sudah tidak dirasa, mungkin awalnya badannya masih goyang-goyang tetapi ditahan terus, akhirnya putus informasi dari otak ke sensasi tubuhnya, karena hanya memenuhi otaknya hanya pada satu hal, konsentrasi yang sudah berlebihan memutuskan koneksi atensi, memutuskan koneksi sensasi, hal-hal tersebut merupakan ciri-ciri dari adiksi.

Terdapat sebuah kasus, terdapat seseorang yang sudah dewasa berusia 27 tahun, kondisinya teradiksi dengan gadget atau gawai, dia sudah tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang penting untuk dirinya. Sehingga, dia hanya di kamar saja, minim kegiatan dan hanya fokus pada gadgetnya hingga makan harus dikirim ke kamarnya, untuk mandi juga harus diingatkan, kondisi kamar yang sangat berantakan, kondisi akademiknya juga tidak terurus. Ketika lulus SMA, orang tuanya masih menganggap biasa dan tidak terdapat hal yang salah dengan anaknya, karena hanya bermain gadget saja. Namun, lama kelamaan anak tersebut semakin tidak dapat lepas dari gadget-nya. Selain itu, gerakan tubuhnya sudah tidak seperti orang normal, pandangan matanya sudah tidak dapat fokus, langkahnya sudah gontai seperti zombie dan ketika orang lain berbicara dengan dia, dia sudah tidak dapat menangkap pembicaraan tersebut. Sudah diupayakan berbagai macam hal, tetapi lama kelamaan dia juga tidak mau, karena dia sendiri juga sudah merasa untuk apa hidupku. Terdapat hal yang menyedihkan, anak ini memiliki kemarahan yang besar terhadap orang tua, sehingga koneksi kepada orang tua putus tidak ada komunikasi sama sekali. Anak tersebut merasa dia gagal seperti ini, karena orang tua yang tidak memperhatikannya, anak ini memang dampak dari pembiaran dan kehadiran orang tua pada akhirnya digantikan oleh gadget, karena pada saat diperlukan tidak hadir.

Tanggapan Mba Anne terhadap kasus tersebut, otak memiliki koneksi yang luar biasa sebagai bagian dari otak itu berfungsi atau bekerja dan terutama sensasi yang ditanggkap oleh sensori (panca indra) yang kemudian direspon oleh motor processing (respon dalam bentuk gerak). Apabila terdapat koneksi yang terputus dan rusak, tetapi masih ditingkat kaki-kaki atau cabang-cabang sel otak, hal tersebut masih dapat diupayakan dengan stimulus treatment atau terapi. Tetapi, ketika di otak terdapat area yang mengecil, hal tersebut terjadi kerusakan pada sel-sel di otak, bukan hanya sekedar terganggu dan hal tersebut sudah tidak dapat difungsikan kembali. Otak kita itu unik, terdapat belahan kanan dan belahan kiri, yang mana mereka bekerja saling mendukung. Sehingga, ketika ada satu area yang berfungsi sebagai atensi, nanti dia akan bertemu dengan area yang berfungsi untuk melihat, maka terbentuklah yang dinamakan visual attention, ada juga yang terhubung dengan auditory menjadi auditory attention. Tetapi, ketika area yang berfungsi sebagai atensi rusak, apa yang akan dia lihat sulit untuk dipertahankan. Pada kasus diatas, bahwa anak tersebut sudah tidak dapat koneksi dengan orang tua, apabila hal itu karena anak tersebut merasakan diabaikan, hal itu merupakan bagian dari memori yang disimpan sebagai sebuah cerita. Tetapi, bagaimana cerita tersebut menjadi jangkar utama yang tidak dapat beralih lagi, hal itu terjadi karena pada bagian otaknya sudah terjadi kerusakan yang terhubung dengan area emosinya. Adiksi merusak keseimbangan dari aneka cairan yang harusnya bekerja besinergi di otak. Adiksi yang terlambat untuk ditangani sampai betul-betul tidak lagi mau menerima informasi dari bagian tubuhnya sendiri (rasa lapar, buang air kecil) diabaikan, maka pelan-pelan otaknya akan rusak.

Kerusakan pada otak, apakah bisa seperti luka yang kemudian dioperasi kemudian dapat pulih kembali? Secara teknologi dan keuangan sangat mahal sekali. Terdapat upaya-upaya untuk memperbaiki area otak yang masuk kategori rusak dengan steam cell, karena steam cell (sel punca), merupakan induk dari semua jenis sel sehingga, terdapat ekspektasi teknologi bahwa sel punca ini mau apabila dia ditanam disel otak yang akan menjadi sel otak juga, tetapi tak semudah itu. Karena otak kerjanya asosiasi, maka yang dapat diperjuangkan adalah membangunkan fungsi-fungsi dasar (fungsi sensor, fungsi gerak, fungsi berfikir) dengan memanfaatkan jejaring dari area lainnya yang tidak rusak, dengan menggunakan metode yang komperhensif dan membutuhkan pengamatan yang tajam. Sehingga, memulihkannya membutuhkan waktu mungkin 100 kali lipat dari merusaknya.

Hal ini mengingatkan Mas Doni mengenai macro cosmos, ketika orang berfikir bahwa alam ini terdiri dari air, api, dl. Tetapi pada abad pencerahan, manusia mulai kembali kepada manusia sehingga, memahami manusia di tengah alam semesta, padahal alam semesta sudah begitu besar. Pada zaman sekarang, yang sangat maju sekali yaitu, ilmu neurosains dan ilmu ini bermula ketika ditemukannya komputer. Mas Doni melihat beberapa riset, ternyata otak kita itu tidak dapat membedakan kebiasaan yang baik dengan yang buruk, mekanisme bagaimana manusia bereaksi terhadap sebuah stimulus terhadap sebuah kejadian. Menunjukkan adanya proses, cara kerja otak yang mempengaruhi cara manusia  bertindak. Kalau berbicara mengenai karakter dan kebajikan, munculah sebuah pertanyaan apakah di otak kita terdapat mekanisme yang membuat seseorang berbuat baik atau berbuat buruk. “Kebiasaan-kebiasaan yang sudah sangat teknis hingga orang sudah tidak sadar kiri kanan berarti sudah mengunci kemerdekaan dan kebebasan anak, bahkan anak mengunci dirinya sendiri”(Doni Koesoema A). Untuk orang tua dan guru-guru harus sungguh-sungguh menseleksi permainan anak dalam gawai dan menyeimbangkan penggunaan gawai dengan bermain dikehidupan nyata, karena ketika seseorang sudah memiliki kebiasaan lebih lagi kebiasaan buruk. Maka, dalam diri akan ada stimulus yang selalu merasakan kenikmatan dan ganjaran dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, hal inilah yang kemudian akan menjadi sulit.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah manusia sangat bergantung pada seluruh mekanisme di neurosains atau memiliki kemerdekaan dan kebebasan, hal ini menjadi penting sekali ketika kita membicarakan mengenai karakter dan kebajikan. Kemudian bagaiman seseorang dapat berbuat baik tanpa ada sebuah kesadaran. Neurosains itu bukan something outside, sesuai dengan terminologinya, dia adalah ilmu tentang saraf, dimana saraf itu kalau dikumpulkan merupakan otak dan otak adalah kumpulan sel utama yang kemudian memiliki julur-julurnya ke seluruh tubuh. Kita dikendalikan oleh otak, otak itu bukan organ tunggal dia memiliki area-area yang memiliki nama dan pada area tertentu memiliki tugas. Apabila kita sudah membicaran emosi (rasa, kehendak, memori) itu semua masuk dari luar diberi nama dari luar bukan dari dalam otak, otak itu tugasnya proscessor. Otak memproduksi cairan-cairan akselerator atau inhibitor yang mendoronga atau menghambat kemudian yang betul-betul diproduksi oleh otak adalah gerak, yang kemudian menjadi kebiasaan yang penting yang bergerak tanpa adanya kesadarankita tidak boleh menjadi manusia yang terus menerus digerakkan oleh refleks tersebut, itu berarti kita tidak menjadi manusia yang memiliki rencana, memiliki kemampuan berpikir” (Anne Gracia).  Hal tersebut terjadi ketika cabang-cabang sel otak saling terkoneksi dan pertemuan tersebut terkumpul di otak depan (prefrontal cortex), dari situlah terjadilah permainan pikir, kelola rasa.

Kebanyaka penggunaan gadget membuat seseorang tidak memiliki kendali, sehingga apa saja yang ingin dilakukan harus dilakukan. Terdapat anak-anak yang melakukan kegiatan seksual dengan mencari anak-anak lain untuk dapat dia melakukan kegiatan seksual, karena ternyata sudah terdapat adiksi terhadap pornografi, dia sudah tidak merasakan bahwa hal tersebut tidak tepat untuk seorang anak, sudah tidak ada lagi agama yang tidak memperbolehkan, kata-kata orang tua bahwa seks sesuatu yang tidak baik untuk anak-anak, dia sudah tidak peduli lagi. Pada saat ini menjadi hal yang mengkhawatirkan, karena anak-anak dapat melakukan apa saja, karena sudah tidak mengetahui baik buruk dan otak sudah tidak bisa dilatih, kondisinya sudah rusak sehingga tidak memiliki kendali. Kemudian, hal yang lebih mengkhawatirkan terhadap anak-anak yang sudah diberikan gadget saat masih kecil, karena menyebabkan dia pada akhirnya tidak bergerak. Padahal semua panca indra itu harus diaktifkan agar semua koneksi otak dapat terbentuk dengan baik, sehingga antara pikiran dengan tindakan semuanya menggunakan karakter luhur dan kebajikan. Dengan, tidak bergerak berarti terdapat bagian-bagian yang rusak pada otaknya, karena hanya mata dan telinga saja yang jalan. “Sebagai orang tua kita harus waspada, karena selama ini yang kita salahkan adalah anak-anak, padahal anak-anak ini merupakan dampak dari kita yang mungkin ingin enak sendiri sebagai orang tua, tetapi dampaknya adalah bencana untuk anak kita. Internet dan gadget merupakan sebuah berkah, tetapi kita yang membuatnya menjadi musibah” (Diena Haryana).

 

Salam damai,

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”