BINCANG SEJIWA EPISODE 82 : MEMBENTUK KARAKTER ANAK MELALUI CARA BELAJAR YANG MENYENANGKAN

 

 

BINCANG SEJIWA EPISODE 82
MEMBENTUK KARAKTER ANAK MELALUI CARA BELAJAR YANG MENYENANGKAN
MINGGU, 05 JUNI 2022

 

 

 Narasumber :

  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Afriyani Rahmawati (Koordinator Kemitraan SEJIWA)
  • Sri Wahyaningsih (Pendiri Sanggar Anak Alam)

Dipandu oleh Andika Zakiy (Koordinator Program)

Tentang SALAM (Sanggar Anak Alam)

SALAM (sanggar anak alam) yang berdiri pada tahun 1988 Desa Lawen, Kemudian pada tahun 2000 20 juni salam juga dihidupkan kembali di Yogyakarta oleh ibu Wahya. Salam berasal dari Lawen Banjarnegara di Jawa Tengah, akan tetapi pada tahun 1988 Di Lawen masih belum ada listrik, belum ada jalan aspal dan juga yang melatarbelakangi Kenapa salam berada di sana, yang dikarenakan pada saat itu masih banyak Pernikahan Dini dan anak yang putus sekolah. Bu Wahya juga mengatakan bahwa dari riset mereka masih banyak anak-anak yang senang sekolah akan tetapi orang tua mereka tidak termotivasi untuk mendorong mereka agar sekolah, yang dikarenakan orang tua menganggap bahwa sekolah itu tidak menjawab persoalan mereka yang dimana jika anak-anak sekolah mereka menganggap anak-anak mereka akan menjauhi mereka dan tidak membantu mereka para orang tua bekerja. Maka dari itu, anak lelaki mereka di urbanisasi ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan dan anak perempuan mereka dinikahkan muda. Hal tersebut yang membuat ibu Wahya untuk melakukan sesuatu yang bisa mendekatkan para anak-anak ini ke kehidupan yang sebenarnya.

Setelah itu karena alasan keluarga Ibu Wahya ke Yogyakarta dan meninggalkan Lawe. Setelah itu Ibu Wahya juga melihat ternyata di Kota juga mempunyai hal yang hampir mirip dengan yang ada di Lawe, Bu Wahya mengatakan sekalipun di Yogyakarta tidak ada pernikahan muda tetapi, anak putus sekolah cukup tinggi. Maka dari itu dengan pengalaman Ibu Wahya di Lawe, Ibu Wahya mencoba untuk memperkuat komunitas yang ada di Yogyakarta bersama masyarakat yang ada di Yogyakarta. Pada tahun 2000 SALAM mencoba untuk mendampingi anak-anak remaja dalam mengerjakan PR, dan pada saat itu Ibu Wahya dan yang lainnya menyadari bahwa anak-anak belajar tidak sesuai dengan usia mereka dan kehidupan nyata mereka, akhirnya Ibu  Wahya dan teman-teman yang peduli dengan pendidikan memberanikan diri untuk memulai dari  membuka kelompok bermain yang bertempat di ruang tamu rumah Ibu Wahya, yang dimana Ibu Wahya sendiri yang mengajar dan dibantu oleh beberapa anak muda yang ada di kampung tersebut. Bu Wahyu juga mengatakan bahwa SALAM diliput oleh media nasional, dank arena hal itu SALAM sering dikunjungi oleh mahasiswa, dan banyak orang yang penasaran dengan SALAM, kemudian ada 10 mahasiswa yang menjadi relawan untuk SALAM.

Bu Wahya mengatakan bahwa di SALAM itu belajar yang mendekatkan anak-anak dengan Alam, belajarnya juga tidak seperti sekolah-sekolah formal, sehingga hal tersebut membuat anak-anak menemukan dirinya dan cukup ceria, bahkan dari orang tua juga meminta untuk melanjutkan agar dari kelompok bermain ke jenjang taman anak. Sehingga berkelanjutan sampai hingga saat ini SALAM sudah melanjutkan dari PAUD sampai ke jenjang SMA. 

Proses Belajar Di SALAM (Sanggar Anak Alam)

Proses belajar di SALAM bu Wahya mengatakan bahwa tidak berbasis mata pelajaran tetapi melalui riset sesuai dengan ketertarikan anak masing-masing sama seperti yang dilakukan oleh bu Wahya waktu masih di Lawen, yaitu anak-anak dapat mengamati dan meriset dari sesuatu yang membuat mereka tertarik, yakni jika mereka tertarik maka mereka akan semangat untuk melakukannya. Bu Wahya juga mengatakan bahwa mereka bekerjasama dengan keluarga khususnya para orang tua, masyarakat dan juga sekolah. 

Bu Wahya juga mengatakan bahwa mereka sudah menemukan anak-anak yang sudah dapat menemukan jati diri dan potensi mereka, dan pada saat pandemi bu Wahya mengatakan bahwa karena belajarnya melalui riset mereka tidak terlalu terpengaruh dalam proses belajar mengajar, mungkin yang tadinya dapat berbicara secara langsung, pada saat pandemic mereka tidak dapat berbicara secara langsung. Bu Wahya juga mengatakan bahwa setelah pandemic kemarin anak SMP menyelenggarakan senja expressing Jadi mereka menampilkan karya-karya Mereka kemudian pong Ada workshop ada top song itu yang ada pentas musik di kalangan anak-anak SMP semalam itu menyelenggarakan mulai dari 04.00 sampai 10.00 rental jadi anak-anak pun punya ruang berekspresi yang mungkin tidak banyak kita temui kalau misalkan mengikuti suatu kurikulum itu karena tentu anak-anak punya kemampuan yang berbeda-beda, masing-masing punya kelebihan masing-masing ada yang disenangi ada yang mungkin bisa yang sudah segalanya dan segala macemnya jadi ini diekspor sedemikian rupa.

Bentuk Pendidikan Di SALAM

Bu Wahya mengatakan bahwa pada SALAM menggunakan kurikulum nasional dan hanya mengambil kompetensi dasar, misalnya mengambil capaian minimal per tingkat kelasnya. Tetapi untuk proses belajarnya anak-anak dapat memilih sendiri sesuai dengan ketertarikan mereka masing-masing. Untuk tingkat SMA bu Wahya mengatakan bahwa mereka sudah harus tahu apa yang akan mereka lakukan dan apa yang merupakan fashion mereka. Bu Wahya juga mengatakan bahwa di SALAM pada tingkat SD masih diperbolehkan untuk menggantikan riset setiap semester untuk mencari tahu fashion yang mereka inginkan, dan ketika sudah di tingkat SMA anak-anak sudah bisa tahu apa yang mereka inginkan dan fokuskan.

Fasilitator dan Ruang Dalam SALAM (Sanggar Anak Alam)

Bu Wahya mengatakan bahwa mereka membatasi jumlah siswa gitu ya jadi satu kelas itu maksimal hanya 15 anak dan fasilitatornya ada tiga, satu fasilitator itu memfasilitasi lima anak dan masing-masing anak itu bisa mencari narasumber ketua jadi narasumbernya tidak mesti dari fasilitator bisa orangtuanya bisa temen orangtuanya, bisa tetangga jadi anak-anak ini sangat Mungkin gitu ya punya pasti tak punya narasumber narasumber di luar sekolah. “Oleh karena itu tadi di depan saya mengatakan bahwa kami itu menghidupkan trisentra itu jadi keluarga masyarakat dan sekolah ini betul-betul kami jalankan gitu ya jadi anak-anak belajar Kalau di sekolah itu justru mereka menyampaikan progress progress risetnya apa gitu ya jadi risetnya tidak dilakukan di sekolah gitu Nah nanti ada saat-saat tertentu kalau dia memang harus mempraktekkan itu misalnya masak di sekolah ada dapur kami” Kata Bu Wahya.

Tanggapan Afriyani Rahmawati (sebagai Anak Muda)

Afri sebagai anak muda sangat mengapresiasikan kepada Ibu Wahya beserta rekan-rekan kerjanya yang ada di SALAM (Sanggar Anak Alam), karena menurut Afri hal ini adalah hal positif yang dikarenakan anak di ajak untuk memproses kegiatan belajar mereka khususnya sesuai dengan minat dan bakatnya anak-anak, selain itu anak-anak diberikan banyak kesempatan untuk melakukan apa yang mereka inginkan dan tentunya anak juga diajak untuk bertanya.

Menurut Afri disini adalah proses belajar yang gitu ketika anak diberikan kesempatan untuk terjun langsung dengan fenomena yang terjadi ada disekitarnya ini bukan cuma mengajak anak untuk dihadapkan pada tantangan-tantangan tapi juga diajak melihat banyak perbedaan. Afri juga mengatakan bahwa ia bisa melihat ini juga bisa meningkatkan kecerdasan emosional anak, anak jadi mempunyai efek yang besar kemudian anak sudah jadi yang menjadi jati diri yang autentik tidak ada dia tidak perlu takut lagi nih ketika “aku berbeda ya inilah aku” dengan dirinya dia yang otentik karena dia sudah menemukan jati dirinya dia tahu apa minat bakatnya dan step apa aja sih yang perlu dilakukan ketika dia mau mencapai tujuan. 

Pembelajaran Dari Mba Diena (Pendiri Yayasan SEJIWA)

“saya pernah belajar tentang community leadership, bagaimana kepemimpinan di dalam membangun komunitas itu terjadi yaitu bagaimana orang itu menumbuhkan empati nya dan merasakan masalah gitu Nah dari merasakan mengidentifikasi masalah kemudian orang mencari tahu ada nggak sumberdaya disekitarnya yang bisa disentuh,bisa diajak terlibat untuk melihat masalah ini bersama karena belum tentu dia ngeliat masalah seperti saya melihat masalah itu” Kata Mba Diena. 

Jadi Community Leadership adalah mengidentifikasi masalah kemudian mengajak orang lain melihat masalah itu juga dengan mempromosikan masalahnya kemudian sama-sama membahasnya, dan ketika mereka sama-sama diajak berempati dan sadar aku punya sesuatu yang biasa aku bagikan semuanya tadi saling berbagi begitu sehingga masalah yang ada di depan yang mungkin tidak jika dilihat secara satu orang saja tidak tertangani karena banyak yang melihat dan semuanya mengumpulkan sumberdaya tadi ternyata bisa.

Mba Diena mengatakan bahwa ia melihat dari kecil rupanya SALAM Sudah membangun Community Leadership ini ada anak-anak.

 

Bagi Sahabat SEJIWA yang ingin tau lebih jauh tentang praktik baik yang dilakukan oleh SALAM, silakan untuk mengunjungi link berikut:

BINCANG SEJIWA EPISODE 82 MEMBENTUK KARAKTER ANAK MELALUI CARA BELAJAR YANG MENYENANGKAN