{"id":3272,"date":"2024-03-13T04:00:37","date_gmt":"2024-03-13T04:00:37","guid":{"rendered":"http:\/\/sejiwa.org\/?p=3272"},"modified":"2024-03-13T04:00:37","modified_gmt":"2024-03-13T04:00:37","slug":"bincang-sejiwa-episode-77-membangun-atmosfir-kondusif-untuk-meregulasi-emosi-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/bincang-sejiwa-episode-77-membangun-atmosfir-kondusif-untuk-meregulasi-emosi-anak\/","title":{"rendered":"BINCANG SEJIWA EPISODE 77: MEMBANGUN ATMOSFIR KONDUSIF UNTUK MEREGULASI EMOSI ANAK"},"content":{"rendered":"<h5 style=\"text-align: center;\"><b>BINCANG SEJIWA EPISODE 77<\/b><\/h5>\n<h5 style=\"text-align: center;\"><b>MEMBANGUN ATMOSFIR KONDUSIF UNTUK MEREGULASI EMOSI ANAK<\/b><\/h5>\n<h5 style=\"text-align: center;\"><b>MINGGU, 06 MARET 2022<\/b><\/h5>\n<p><b>\u00a0<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3273\" src=\"https:\/\/sejiwa.org\/staging\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Slide1-2.png\" alt=\"\" width=\"617\" height=\"347\" title=\"\"><\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"text-decoration: underline;\"><b>Narasumber:<\/b><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><b>Santi Kusuma Dewi, M.Psi., Psikolog <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">(Psikolog Anak)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><b>Benny Pudyastonto, M.Psi., Psikolog <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">(Psikolog Remaja)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><b>Mba Diena Haryana <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">(Pendiri Sejiwa)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> \u00a0 \u00a0 \u00a0 <\/span><b>Doni Koesoema A <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">(Pakar Pendidikan Karakter)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>\u00a0<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Dipandu oleh <\/span><b>Afriyani Rahmawati\u00a0<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Regulasi Emosi Secara Umum\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara mengenai regulasi emosi dapat dilihat banyak anak-anak yang sulit untuk meregulasi emosi atau mengelola emosi mereka. Mba Santi Kusuma Dewi mengatakan bahwa regulasi emosi itu ialah bagaimana seseorang mengelola emosinya dalam menghadapi situasi untuk siapapun itu, baik anak maupun orang dewasa dapat tidak berlebihan dalam menghadapi situasi tertentu. Bu Santi juga mengatakan bahwa regulasi emosi sangat penting untuk mengajarkan anak sejak dini, karena jika tidak kedepannya anak-anak sudah pasti sulit mengelola emosi, dan tidak tahu aturan, artinya tidak dapat memposisikan dirinya saat ia berada. Adapun cara untuk mengajarkan anak sejak dini agar dapat meregulasi emosi anak ialah yang pertama pentingnya peran orang tua atau lingkungan terdekat anak, yang kedua ialah anak-anak juga perlu tau dan mengenal emosi.<\/span><\/p>\n<p><b>Faktor Penyebab dan Cara Mengatasi Temper Tantrum Pada Anak<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mba Santi mengatakan bahwa Temper Tantrum pada anak adalah emosi yang meledak-ledak pada anak dan bereaksi secara berlebihan. ada beberapa penyebab yang dikatakan oleh Mba Santi yakni anak belum mengajarkan untuk mengenali emosi dan juga tidak ada kontrol dari lingkungan anak itu sendiri, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201ccontohnya ketika seorang anak sedang menangis, orang tuanya langsung meberikan fasilitas untuk anak agar berhenti menangis, hal tersebut akan membuat anak tidak dapat mengenal dirinya sedang sedih, kecewa atau sedang marah\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kata Mba Santi. maka dari itu anak perlu diajarkan bahwa mengenali emosi itu penting, validasi dan mengatur emosi juga sangat penting.<\/span><\/p>\n<p><b>Faktor Penyebab dan Cara Mengatasi Perilaku Agresif Pada Remaja<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Pak Benny ada dua alasan mengapa seorang remaja tiba-tiba menunjukkan emosi atau juga sebaliknya menunjukan pribadi yang tertutup atau bahkan untuk orang tuanya sendiri yakni alasan fisiologis dan juga alasan sosial. Pak Benny juga mengatakan bahwa ia sangat mengapresiasi untuk orang tua yang mampu menemani remaja hidup bertumbuh karena menurut beliau sangat tidak mudah, akan tetapi Pak Benny juga mengakui bahwa sebagian besar orang tua kesulitan dalam menemani remaja dalam masa pertumbuhannya. Pak Benny mengakui bahwa untuk dunia digital sendiri dapat mengembangkan kognitif anak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cakan tetapi untuk emosi anak sejujurnya agak mengacaukan&#8221; <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ucap Pak Benny. Pak Benny juga mengatakan bahwa ada beberapa penghambat dari dunia teknologi digital untuk meregulasi emosi remaja, contohnya ialah anak-anak yang bermain game online, dan juga kecepatan informasi yakni remaja tidak dapat mengelola mana informasi yang benar dan yang hoaks, akibatnya mudah untuk mempercayai informasi yang ada.<\/span><\/p>\n<p><b>Peran Sekolah Membangun Atmosfir Regulasi Emosi Positif<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Doni mengatakan bahwa tentu saja di dalam proses pendidikan itu pendewasaan emosi dari pelajar menjadi sesuatu yang sangat penting sekali, beliau juga mengatakan bahwa di dalam konteks pendidikan Bimbingan Konseling itu biasanya ada di tingkat SMP dan SMA, dan untuk SD saat ini masih belum ada ketentuan apakah harus memiliki bimbingan konseling atau tidak, hal tersebut dapat dikatakan akan menjadi persoalan jika wali kelas tidak dibekali dengan kemampuan psikologi yang baik maka tentu saja anak akan mengalami kesulitan meregulasi emosinya. Kemampuan seseorang mengelola emosi harus menjadi bagian penting dari peranan bapak dan ibu guru, guru BK karena dalam konteks pendidikan karakter ketika berbicara mengenai regulasi emosi sangat saling berkaitan yang dimana regulasi emosi ini terkait dengan seseorang yang menghayati nilai-nilai kehidupan di dalam hidupnya, artinya dalam proses pembentukan karakter membentuk anak berkarakter itu tidak dapat dilepaskan dari pengembangan regulasi emosi dari dalam diri anak itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Doni juga menginginkan untuk pemerintah perlu memberi perhatian pada bagaimana caranya guru-guru terutama guru di tingkat Sekolah Dasar diberi pengembangan, pengayaan, bagaimana cara melatih, atau mengelola emosi anak-anak ketika mereka menghadapi dalam situasi pembelajaran.<\/span><\/p>\n<p><b>Peran Orang Tua Membangun Atmosfir Regulasi Emosi Positif<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Regulasi emosi yang akan berkembang menjadi karakter anak, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cyang mampu meregulasi emosinya ialah yang akan memiliki karakter yang sangat mampu untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain, berempati dengan orang lain dan lain-lain\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kata mba Diena. Mba diena juga menyetujui bahwa pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua punya pengaruh regulasi emosi yang dimiliki anak, pola asuh yang punya kecenderungan untuk membentuk anak agar mampu meregulasi emosi dengan baik adalah ketika orang tua mempunyai cara untuk berempati kepada anak-anaknya, pastinya orang tua yang punya kemampuan mendengarkan dengan baik, selain itu bisa merasakan perasaan anak, mempunyai waktu untuk memperhatikan anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Bagi Sahabat SEJIWA yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai membangun atmosfir yang kondusif untuk meregulasi emosi pada anak? Anda dapat menyaksikan pada link di bawah ini:<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"Membangun Atmosfir Kondusif untuk Meregulasi Emosi Anak - BS 77\" width=\"800\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/aJvAEjBMcEw?feature=oembed&#038;enablejsapi=1&#038;origin=https:\/\/sejiwa.org\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BINCANG SEJIWA EPISODE 77 MEMBANGUN ATMOSFIR KONDUSIF UNTUK MEREGULASI EMOSI ANAK MINGGU, 06 MARET 2022 \u00a0 \u00a0 Narasumber: \u00a0 \u00a0 \u00a0 Santi Kusuma Dewi, M.Psi., Psikolog (Psikolog Anak) \u00a0 \u00a0 \u00a0 Benny Pudyastonto, M.Psi., Psikolog (Psikolog Remaja) \u00a0 \u00a0 \u00a0 Mba Diena Haryana (Pendiri Sejiwa) \u00a0 \u00a0 \u00a0 Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter) \u00a0Dipandu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3274,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,9,10],"tags":[19,50,121],"class_list":["post-3272","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-blog","category-press","tag-parenting","tag-pendidikan-karakter","tag-regulasi-emosi-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3272"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3272\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3525,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3272\/revisions\/3525"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3274"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sejiwa.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}