BINCANG SEJIWA Episode 9 : “METAMORFOSA, DARI ZERO TO HERO”

Bincang Sejiwa: Menumbuhkan Karakter dan Kebajikan
Episode #9
 “Metamorfosa, dari Zero To Hero”
Minggu, 26 Juli 2020

Moderator: Andika Zakiy (Program Koordinator SEJIWA)

Narasumber :

  • Nabila Ishma Nurhabibah (Founder & Fasilitator Metamorfosa)
  • Shaka (Anggota Metamorfosa)
  • Diena Haryana (Pendiri Yayasan SEJIWA)
  • Doni Koesoema A. (Pakar Pendidikan Karakter)

Masa remaja merupakan masa ketika para anak muda mulai lebih giat melakukan eksplorasi diri sekaligus masuk dalam lingkungan pergaulan yang bervariasi. Di sana, mereka akan banyak mendapatkan pengalaman, baik pengalaman baik maupun buruk, yang akan ikut memengaruhi bagaimana pembentukan karakter sebagai seorang individu. Meskipun demikian, ketika anak masuk dalam lingkungan yang buruk, bukan berarti seluruh potensi dan nilai yang ada dalam diri anak semerta-merta hilang. Pada saat inilah, anak perlu mendapatkan pendampingan dari orang-orang sekitar agar tetap bisa tumbuh dan berkembang menjadi individu yang utuh. Bagaimana cara untuk memberikan pendampingan, bimbingan, dan perhatian kepada anak-anak tersebut?

Episode 9 Bincang SEJIWA dengan tema “Metamorfosa, dari Zero to Hero” mengundang Nabila, founder dan fasilitator Metamorfosa, dan Shaka, salah satu anggota Metamorfosa. Metamorfosa merupakan program lanjutan dari sebuah program kerja sama antara KERLIP dan Kemendikbud RI yang bernama “From Zero To Hero”. Program ini sebagai kegiatan pendampingan bagi anak-anak dari berbagai komunitas yang ada di Bandung.

“Para peserta yang mengikuti program ini sebenarnya adalah anak-anak muda yang tergabung dalam suatu ‘geng sekolah’ yang memiliki karakter ‘unik’ dan ‘istimewa’. Mereka mengikuti pendampingan selama enam bulan dengan bentuk kegiatan berupa bootcamp. Di sana, mereka juga mendapatkan pendampingan minat dan bakat, serta melaksanakan Panggung Metamorfosa untuk menampilkan berbagai karya yang dibuat oleh peserta sendiri. Bisa dalam bentuk galeri, fotografi, puisi, pencak silat, dan lainnya,” jelas Nabila.

Setelah program “From Zero To Hero” ini selesai, Nabila merasa bahwa perlu ada program lanjutan untuk memberdayakan peserta. Oleh karena itu, dibentuklah Metamorfosa sebagai wadah bagi para anak muda yang pernah mengikuti bootcamp “From Zero To Hero” maupun yang tidak pernah. Komunitas ini adalah tempat bagi mereka untuk berdiskusi, berkumpul, dan berkegiatan yang positif dengan pendampingan dari fasilitator.

Sasarannya adalah anak muda yang membutuhkan pendampingan karena masyarakat menganggap mereka sebagai anak pembuat onar, memalukan nama sekolah, dan tidak punya apa-apa. Masyarakat cenderung memandang mereka sebelah mata. Padahal, mereka adalah anak-anak yang punya potensi masing-masing, punya suatu hal yang luar biasa. Sayangnya, masyarakat hanya fokus pada hal negatif yang mereka lakukan. Berdasarkan kenyataan tersebut, Metamorfosa dibentuk.

Pendekatan utama yang dilakukan kepada anak-anak “geng sekolah” atau “komunitas” untuk ikut serta menjalani perubahan itu pun tidak mudah. Nabila menjelaskan, mereka sengaja memilih para fasilitator yang berasal dari komunitas yang sama atau memang pernah berada pada lingkungan yang sama dengan anak-anak tersebut. Dengan demikian, anak akan lebih percaya, terbuka, dan mau untuk diajak berkembang bersama. Rasa kebersamaan ini yang akhirnya membuat Metamorfosa berjalan.

Menurut Mas Doni, komunitas Metamorfosa ini merupakan suatu kegiatan yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan karakter anak muda. Pertanyaan besar yang sebenarnya harus dijawab adalah bagaimana seorang individu yang tadinya hidup dalam pergaulan yang buruk bisa berubah menjadi lebih baik?

Perubahan sifatnya konkret. Anak-anak harus mendapatkan pengalaman langsung. Ketika Ketika pengalaman diapresiasi oleh orang lain, individu akan merasa bermakna dan berharga. Ketika hal ini terjadi, individu pasti akan melanjutkan perubahan dirinya ke arah yang lebih baik. Namun, jika kreasinya tidak dihargai, ini akan mematikan kreativitas dan unsur perubahan dalam diri. Program seperti Metamorfosa ini memberikan ruang bagi anak mengalami apa artinya dihargai, dikembangkan, dan diperhatikan sehingga anak bisa dibantu dalam proses transformasi diri. Dengan ini mereka bisa difasilitasi untuk bisa  menemukan cita –cita yang bermakna bagi hidupnya.

Shaka, salah satu anggota Metamorfosa, secara langsung telah mengalami perubahan yang signifkan. Sebelumnya, ia masuk ke dalam “geng sekolah” yang terkadang terlibat dalam perkelahian. Ia juga anak yang emosional tapi ekspresif, selalu ingin menyampaikan sesuatu tapi belum tahu caranya seperti apa, memiliki potensi tapi tidak tahu harus melakukannya seperti apa, peduli dengan teman-temanya tapi terkadang dengan cara yang salah.

Akhirnya, Metamorfosa memberikan kepercayaan kepada Shaka untuk menjadi penanggung jawab Panggung Metamorfosa bersama teman-temannya. Melalui “From Zero To Hero” juga, Shaka menjadi tertarik dengan isu politik, sosial, pendidikan, dan filsafat. Budaya literasi itu sangat berpengaruh bagi Shaka karena membuatnya berpikir krisis.

Menanggapi perubahan luar biasa yang dialami oleh Shaka, Mbak Diena menyebutkan bahwa perubahan pasti akan dialami oleh seseorang dan sangat mungkin difasilitasi oleh lingkungan. Anak-anak muda yang tergolong atau dicap “geng” ini pasti sebenarnya ingin menjadi sesuatu.

“Setiap orang ingin diakui dan ingin sukses. Seringkali, karena tidak dipahami dan tidak diterima, dibandingkan dengan orang lain, hal-hal ini akan membuat mereka merasa kecil juga di mata orang lain di dalam kehidupan ini,” jelas Mbak Diena.

Kunci perubahan dalam diri anak adalah motivasi internal (kemauan yang kuat) yang digabungkan dengan motivasi ekternal. Metamorfosa dan para fasilitator ini sebagai salah satu contoh hal eksternal yang bisa memotivasi proses perubahan anak. Sayangnya, kalau program ini tidak dibantu dan tidak dibukakan jalan, akan sulit. Oleh karena itu, pemerintah perlu bergabung juga dalam usaha ini.

Lalu, bagaimana dengan peran orangtua dalam membentuk karakter anak?

Remaja memang memiliki dorongan untuk mengeksplorasi lingkungannya. Sebagai orangtua, tidak perlu takut menghadapi proses ini. Siapapun yang anak hadapi sebenarnya tidak akan menjadi masalah ketika orangtua mengutamakan komunikasi di dalam keluarga. Dengan demikian, orangtua bisa paham apa saja yang dialami anak dalam pergaulannya. Berkaitan dengan itu, Mbak Diena mengusulkan tiga cara yang sebaiknya dilakukan orangtua agar tercipta suasana yang nyaman dalam berkomunikasi dengan anak:

  1. Bangun kedekatan dengan anak. Dalam hal ini, orangtua diajak untuk lebih mengenal dunia yang sedang dihadapi anak, bersikap open-minded, sekaligus mengikuti trend pergaulan anak. Hal ini dilakukan agar orangtua tahu betul apa yang terjadi dengan anak di luar rumah. Orangtua pun bisa mendukung kegiatan-kegiatan anak.
  2. Buka diskusi dengan anak. Bicarakan isu-isu yang sedang terjadi di masyarakat atau masalah-masalah yang sedang dihadapi anak. Bantu anak untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam maupun luar dirinya.
  3. Kurangi menggurui anak. Berikan kesempatan untuk anak bercerita dan berekspresi. Buat anak senyaman mungkin untuk terbuka. Dengarkan apa yang ingin mereka sampaikan. Terlalu banyak larangan bisa membuat anak merasa tidak punya tempat untuk bercerita.

Sebagai penutup, Mbak Diena dan Mas Doni kembali menekankan bahwa program seperti Metamorfosa adalah program yang seharusnya lebih dikembangkan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Kegiatan-kegiatan ini perlu untuk mendominasi media sosial dan menjadi teladan nyata bagi anak-anak muda lainnya. Perlu diingat juga, perubahan individu menjadi lebih baik merupakan proses yang butuh kolaborasi dari berbagai pihak. Tentunya, dengan tetap memerhatikan tanggung jawab masing-masing. Orangtua, guru, dan pemerintah pun perlu punya kepercayaan besar kepada anak bahwa mereka berpotensi menjadi orang yang sukses di masa mendatang. Harapannya, semoga orang dewasa bisa memberi ruang untuk anak muda berkembang melalui program-program seperti Metamorfosa.

Salam damai,

Yayasan SEJIWA

“Service for Peace”